tirto.id - Tanggal 16 Mei bertepatan dengan sejumlah hari dalam skala internasional, salah satunya ada Hari Hidup Berdampingan dalam Damai Internasional. Lantas, tanggal 16 Mei ada hari apa saja? simak penjelasannya dalam artikel ini.
Setiap 16 Mei, dunia diajak merenung lewat tiga peringatan penting yang saling menyinari. International Day of Living Together in Peace menyerukan pentingnya toleransi dan empati lintas batas agama, budaya, dan ideologi, bahwa dialog adalah fondasi perdamaian.
Di hari yang sama, International Day of Light merayakan peran cahaya dalam kehidupan manusia—dari teknologi hingga filosofi batin. Cahaya bukan sekadar iluminasi fisik, tapi juga simbol harapan dan pemahaman.
Di Indonesia, 16 Mei juga menjadi momen mengenang berdirinya Wanadri, organisasi pencinta alam yang sejak 1964 menjadikan alam sebagai ruang pendidikan karakter. Dari rimba hingga gunung, mereka membentuk generasi tangguh, cinta tanah air, dan peduli lingkungan.
Hari Hidup Berdampingan dalam Damai Internasional
Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 16 Mei sebagai Hari Internasional Hidup Berdampingan dalam Damai. Bukan sekadar seremoni, hari ini menggaungkan ajakan senyap untuk menjaga kedamaian lewat hal-hal yang kerap terabaikan: mendengar, memahami, dan menghormati yang berbeda.
Pelajaran pahit Perang Dunia II menyisakan satu pesan, kekuasaan tak menjamin masa depan. Dari kehancuran itu, PBB merancang arah baru, berbasis toleransi dan kerja sama antarbangsa. Hari ini mengingatkan, damai bukan soal menyatukan suara, melainkan berani hidup di tengah keragaman.
Hari Cahaya Internasional
Setiap 16 Mei, dunia memperingati Hari Cahaya Internasional, merujuk pada momen penting tahun 1960 saat fisikawan AS, Theodore Maiman, menyalakan laser pertama di dunia. Inovasi itu menjadi titik awal revolusi teknologi cahaya yang kini menyentuh hampir seluruh aspek hidup, dari medis hingga komunikasi.
Tahun ini, tema "Light of Peace" menegaskan bahwa cahaya tak hanya menerangi ruang, tapi juga membuka hati. Ia hadir di ruang operasi, laboratorium, hingga sekolah pelosok, menghubungkan ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan. Sebuah pengingat bahwa teknologi, jika digunakan bijak, bisa menjadi jembatan menuju kedamaian.
Hari Wanadri
Tanggal 16 Mei menandai lahirnya Wanadri, organisasi pencinta alam yang berdiri di Bandung pada 1964. Didirikan oleh enam mantan pandu, Wanadri menjadikan rimba dan gunung sebagai ruang pembentukan karakter, bukan lewat ceramah, tapi lewat tempaan langsung di alam.
Bagi Wanadri, pendidikan sejati terjadi di medan yang menuntut keberanian, solidaritas, dan cinta tanah air. Lebih dari seribu anggotanya telah melewati proses pembinaan yang keras namun membentuk.
Hari jadi ini bukan sekadar peringatan, melainkan refleksi atas komitmen mencetak generasi tangguh yang siap mengabdi, dari puncak gunung hingga pelosok negeri.
Hari Cinta Pohon Nasional di Amerika Serikat
Setiap 16 Mei, Amerika Serikat memperingati National Love a Tree Day, sebuah hari yang lebih dari sekadar ajakan menanam pohon. Ini adalah pengingat untuk mencintai dan merawat pohon sebagai bagian penting dari kehidupan kita. Hari ini lahir dari kesadaran bersama pada abad ke-20, saat krisis lingkungan akibat deforestasi dan polusi mulai menarik perhatian.
Berbeda dengan Arbor Day yang fokus pada aksi penanaman, Love a Tree Day mengedepankan hubungan emosional antara manusia dan alam. Pohon bukan sekadar objek alam, melainkan penjaga iklim, tempat tinggal bagi keanekaragaman hayati, dan simbol kedamaian yang sering terlupakan.
Hari Mimosa Nasional di Amerika Serikat dan Beberapa Negara Eropa
Pada 16 Mei, para penggemar koktail di seluruh dunia merayakan National Mimosa Day, menghormati minuman ringan yang kini identik dengan brunch: campuran sparkling wine dan jus jeruk.
Sejarah Mimosa dimulai di dua kota Eropa. Di London, pada 1921, Buck’s Fizz pertama kali muncul dengan lebih banyak wine. Lima tahun kemudian, di Paris, bartender Frank Meier dari Hotel Ritz menciptakan versi dengan perbandingan bahan yang lebih seimbang, melahirkan Mimosa seperti yang kita kenal hari ini. Dari sana, minuman ini berkembang menjadi simbol kebersamaan dan perayaan santai.
Penulis: Yulita Putri
Editor: Indyra Yasmin
Masuk tirto.id





































