Tak Semua Orang Suka Bercinta

Oleh: Maulida Sri Handayani - 28 Agustus 2016
Dibaca Normal 3 menit
Kemungkinan ada 1 persen populasi manusia yang tak punya ketertarikan seksual--atau sangat rendah. Mereka menamakan diri aseksual atau ace.
tirto.id - Pada 8 April 2012, seorang chef di Jepang bernama Mao Sugiyama mengiklankan kelaminnya sebagai hidangan segar di akun Twitternya:

“[Tolong retweet] Saya menawarkan kelamin pria milikku (penis utuh, testis, skrotum) sebagai makanan seharga 100.000 yen ...Akan disiapkan dan dimasak sesuai permintaan pembeli, di lokasi yang dipilihnya.”

Beberapa hari kemudian, setelah ulang tahunnya yang ke-22, Sugiyama benar-benar melakukan operasi pemotongan satu set kelaminnya. Pada 13 April, ia menghidangkan penis dan testis dan skrotumnya pada lima orang pemesan, yang masing-masing membayar 20 ribu yen atau sekitar $250. Perjamuan makan malam itu ditonton sekitar 70an orang.

Seperti diberitakan Huffingtonpost.com, Sugiyama mengatakan makan malam itu dibuat untuk meningkatkan kepedulian tentang "minoritas-minoritas seksual, x-gender, dan orang-orang aseksual.”

Jika melihat pemberitaannya yang besar-besaran, siasat Sugiyama memang berhasil. Setidaknya Tribunnews.com dan Merdeka.com di Indonesia memberitakan perkara ini.

Lalu, kabar itupun didengar oleh Yuni, perempuan berdomisili di Cikarang, yang selama ini punya banyak pertanyaan tentang seksualitasnya. Yuni yang selama ini merasa tak punya ketertarikan secara seksual terhadap orang lain, seperti tersadarkan oleh berita tentang Sugiyama.

Sejak membaca tentang Mao Sugiyama, Yuni membaca banyak sumber di internet tentang aseksualitas. Pemahaman atas dirinya kemudian meningkat. Dengan membaca, ia tahu dirinya punya kesamaan dengan Sugiyama. Yuni, seperti Sugiyama, sama-sama tak punya ketertarikan seksual. Bedanya, Yuni masih punya gairah seksual meski relatif sangat rendah.

Perempuan yang berprofesi sebagai pedagang buah ini berkisah, sejak usia remaja sampai tiga puluhan, ia hanya berpacaran satu kali.

“Waktu SMP ada cowok yang nembak. Karena penasaran dan karena teman-teman yang lain juga sudah pacaran maka saya terima. Tapi saya nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Nggak pingin ketemu, nggak kangen, nggak cemburu.”

Selain tak jatuh cinta, Yuni juga tak merasakan apapun saat berciuman dengan pacarnya. Dulu ia heran, sebab tetek-bengek romansa yang dibacanya pada cerpen-cerpen remaja tak terjadi pada dirinya.

Sejak pengalaman berpacaran di masa sekolah menengah pertama itu, Yuni tak pernah tertarik lagi mempunyai kekasih, apalagi mengeksplorasi aktivitas seksual lain.

“Berhubungan seksual nggak pernah mencoba dan nggak pingin mencoba. Awalnya saya pikir nanti saja setelah nikah kalau ada yang melamar. Tapi sekarang saya sadar, memang saya nggak tertarik.”

Yuni menekankan: “Saya aseksual sekaligus aromantis.”

Satu Persen dari Seluruh Populasi

Yuni dan Sugiyama bukanlah dua orang aseksual yang kesepian di planet bumi ini. Dari survei, didapat setidaknya 1 persen orang Inggris Raya ‘‘tidak pernah merasakan ketertarikan seksual” pada orang lain. Anak sekolah menengah atas di Selandia Baru, 1,8 persen di antaranya juga mengalami soal serupa.

Akhirnya, dalam “Asexuality: What It Is and Why It Matters,” Anthony Bogaert dari University of Brock berkesimpulan kemungkinan satu persen dari seluruh populasi adalah aseksual.

Dari yang kemungkinan 1 persen itu, ada berbagai spektrum. Yuni, misalnya adalah aseksual yang sekaligus aromantis. Ia tak tertarik secara seksual pada orang lain, tapi secara romantis juga tidak. Karenanya, Yuni tak ingin menjalin hubungan romantis dengan siapapun. Ia juga tak lagi berpikir soal pernikahan setelah lebih memahami dirinya.

Tapi ada juga aseksual yang punya ketertarikan romantis: jatuh cinta, berpacaran, menikah, dan seterusnya. Dalam rekaman yang dibuat kelompok AVEN (The Asexual Visibility and Education Network), asexuality.org, tampak Levi dan Bauer dari New York saling menyentuh layaknya sepasang beruang. Tapi, meski menunjukkan keintiman, mereka adalah aseksual. Tepatnya, aseksual yang romantis.

Di antara kaum seksual dan aseksual penuh, ada pula mereka yang berada di antara keduanya. Pertama: demiseksual. Orang yang hanya bisa punya tertarik secara seksual secara sekunder, yakni karena hubungan (biasanya hubungan romantis), atau dari status, atau karena sudah amat dekat. Beda dengan kaum seksual, sebab kaum seksual juga mengalami ketertarikan seksual primer yang berpangkal dari kualitas-kualitas luar seperti tampang, penampilan, juga kepribadian seseorang.

Kedua: gray-A atau aseksual abu-abu. Asexuality.org mencatat tipe ini secara normal tidak mengalami ketertarikan seksual, namun terkadang mengalaminya, atau dengan kadar yang sangat rendah, atau dalam kondisi yang benar-benar spesifik. Jika mau mengkategorikan Yuni secara lebih terperinci, di kelompok inilah ia: aromantis aseksual yang masuk kategori aseksual abu-abu.



Penerimaan Diri dan Lingkungan

Sampai hari ini, pengetahuan masyarakat soal aseksualitas ini masih sangat kurang. Sebelumnya, aseksual dianggap sebagai penyakit, yakni kurangnya gairah seksual. Tapi, pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders jilid kelima (DSM-5), soal ini ditambahkan keterangan: jika yang rendahnya gairah seksual ini bisa dijelaskan dengan mengidentifikasi diri sebagai “aseksual”, maka tidak akan ada diagnosis sebagai kelainan seksual.

Untuk lebih meningkatkan penerimaan diri di kalangan aseksualitas, seorang aseksual bernama David Jay pada 2001 didirikan kumpulan The Asexual Visibility and Education Network (AVEN). Hingga 2014, tercatat ada 119 ribu aseksual dari seluruh dunia yang teregister di situsnya.

Tapi kampanye aseksualitas di dunia yang tergila-gila dengan seks bukanlah hal yang mudah. Ini juga terjadi pada Yuni. Karena pertanyaan dan permintaan untuk menikah selalu dilontarkan orangtuanya, tahun lalu akhirnya Yuni menyingkapkan diri pada ibu dan ayah. Tidak dengan cara lisan, tapi lewat surat. Istilah Inggrisnya: coming out.

Awalnya orangtuanya menganggap Yuni terpengaruh budaya Barat. “Tak ada aseksualitas dalam Islam. Nikah itu wajib. Nanti kamu pasti akan berubah kalau sudah menikah, dll” Yuni menirukan respons orangtuanya. Bahkan, Yuni sempat akan dirukyah. Untunglah Yuni sabar menjelaskan soal ini pada ayah dan ibu sedikit demi sedikit.

“Sampe sekarang pun sepertinya mereka belum benar-benar menerima. Ibu sih sudah nggak pernah nanya soal menikah. Tapi ayah masih suka nyeletuk,” terangnya.

Tapi, Yuni bergeming. Ia tetap menjawab dengan gelengan, sepersuasif yang ia bisa. Perempuan yang mengaku religius—beriman, menutup aurat, dan menjalankan salat 5 waktu—ini sudah memahami dan menerima dirinya. Bagi Yuni, itu modal utama agar orang lain termasuk orangtuanya bisa menerima anaknya apa adanya.

Apakah Yuni kesulitan memahami aseksualitasnya dalam kerangka religiusitas? Tampaknya tidak. Ia punya resistensi, tapi juga masih menyimpan kata “iya” pada jalan hidup yang kelak bisa saja berbelok.

“Saya percaya Allah tidak salah menciptakan saya. Kalaupun di masa depan nanti pada akhirnya saya ditakdirkan untuk menikah, ya saya rasa itu memang takdir yang saya harus jalani.”

Baca juga artikel terkait ASEKSUALITAS atau tulisan menarik lainnya Maulida Sri Handayani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Maulida Sri Handayani
Penulis: Maulida Sri Handayani
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight