Menuju konten utama

Tak Cukup Satu Gaji: Ledakan Side Hustle di Indonesia

Fenomena side hustle meledak di Indonesia. Dari jurnalis senior hingga ASN kini mencari kerja sampingan demi biaya sekolah dan modal nikah.

Tak Cukup Satu Gaji: Ledakan Side Hustle di Indonesia
Header Decode Harga Mahal Kerja Sampingan. tirto.id/Fuad

tirto.id - Bagi Rudy (50), jabatan sebagai jurnalis senior di sebuah perusahaan media ternama selama tujuh tahun terakhir bukanlah jaminan ketenangan hidup. Di tengah bayang-bayang biaya kuliah anak yang terus meningkat, ia memilih jalan yang melelahkan namun menjanjikan: menekuni pekerjaan sampingan sebagai penulis siaran pers profesional.

Selama enam tahun terakhir, Rudy membagi waktunya antara memimpin tim di kantor sejak pagi hingga mengerjakan draf klien pada malam hari. Baginya, mengandalkan satu sumber penghasilan di usia 50 tahun bukan lagi pilihan yang bijak jika ingin memastikan masa depan keluarga tetap aman.

Sebagai pencari nafkah tunggal, Rudy merasa perlu membangun jaring pengaman finansial. Ia pun memanfaatkan keahliannya sebagai jurnalis untuk menulis siaran pers, pekerjaan yang dipilih karena relatif fleksibel dan tidak mengganggu pekerjaan utamanya.

"Pekerjaan sampingan ini gue kerjakan di luar jam kantor, biasanya di atas jam tujuh malam atau sebelum jam delapan pagi. Sebagai jurnalis, bikin press release itu pekerjaan hari-hari,” tutur Rudy saat berbincang dengan Tirto, Selasa (14/4/2026).

Ilustrasi Pekerja Media Kreatif

Ilustrasi Pekerja Media Kreatif. FOTO/iStock

Pekerjaan sampingan yang ia lakoni cukup menjanjikan. Dari awalnya coba-coba, kini dalam sebulan ia dapat melayani tiga hingga empat klien dengan jenis dan kebutuhan rilis yang berbeda.

“Jadi mungkin mereka punya namanya PR juga, cuman dengan jurnalis kan beda gaya bahasanya, penyampaiannya beda. Pokoknya setelah gue nyoba itu ternyata beberapa yang suka banget lah sama tulisan gue. Dan itu rutin balik sebulan bisa tiga sampai empat kali. Nah, dari situ, oh ini kayaknya ini nih side hustle gue nih. Ini bisa dan sesuai dan nggak mengganggu kerjaan gue,” jelas pria berusia 50 tahun ini.

Dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga cukup signifikan. Meski pendapatannya fluktuatif, hasilnya tergolong besar. Dalam sebulan, ia rata-rata memperoleh tambahan minimal 50 persen dari gaji utama, bahkan terkadang lebih tinggi.

"Pernah ada satu momen di mana pendapatan sampingan gue lebih besar daripada gaji yang gue terima per bulan. Paling minim, bisa dapat 50 persen dari gaji pokok. Itu yang gue tabung habis-habisan di rekening terpisah untuk biaya kuliah,” imbuhnya.

Menurut Rudy, dinamika ekonomi, khususnya di Jakarta, menuntut kepala keluarga untuk tidak sekadar merasa cukup. “Kalau hanya mengandalkan satu penghasilan, mungkin cukup. Tapi biaya hidup terus meningkat setiap tahun,” katanya.

Jika Rudy merepresentasikan generasi senior di sektor jasa profesional, Guntur (35) menggambarkan generasi milenial yang memanfaatkan ekonomi digital. Sebagai Marketing Manager di sebuah perusahaan oli multinasional, ia menjalani pekerjaan sampingan sebagai TikTok Affiliate—peran yang menuntutnya tampil di depan kamera, berbeda dengan pekerjaannya di kantor yang lebih banyak berada di balik layar.

Perjalanan Guntur tidak instan. Ia membutuhkan waktu hingga tiga tahun untuk mulai menghasilkan pendapatan dari aktivitas tersebut.

"Dua tahun pertama itu zonk, tidak ada penjualan sama sekali. Baru pas masuk tahun ketiga, akun saya 'pecah telur' dan mulai stabil. Dari September 2025 sampai Maret 2026 kemarin, rata-rata saya bisa kumpulin Rp5 sampai Rp6 juta rupiah per bulan," kenang Guntur.

Bagi Guntur, media sosial adalah tambang emas yang sering disia-siakan. Memanfaatkan masifnya penetrasi digital di dalam negeri, ia menyelami gelombang ini untuk meraup cuan.

"Sayang banget kalau media sosial cuma dipakai buat scrolling tidak jelas. Itu buang waktu. Mending kita manfaatin jadi konten kreator atau afiliator yang jelas menghasilkan," ucapnya.

ilustrasi kreator konten

ilustrasi kreator konten. FOTO/iStockphoto

Meski harus mengorbankan waktu istirahat, terutama saat musim belanja seperti Ramadan, Guntur mengaku tidak mengalami kelelahan berlebih. Ia justru menjadikan pekerjaan sampingan sebagai ruang menyalurkan minat yang tidak sepenuhnya terakomodasi di pekerjaan utama.

“Di kantor kan saya sekarang sudah ada tim, jadi lebih banyak di balik layar. Padahal aslinya saya juga senang tampil di depan layar. Jadi daripada skill nggak kepake, ya udah saya tumpahin aja semuanya ke konten-konten TikTok affiliate ini,” katanya.

Demi mencari tambahan penghasilan, ia rela hanya tidur rata-rata empat jam sehari. Kedisiplinan jadi motor utamanya. Ia memulai aktivitasnya sejak pukul 04.00 dini hari. Selepas menunaikan salat subuh, ia berkreasi membuat konten afiliasi. Kebanyakan yang ia jual adalah barang-barang fashion.

Di samping itu, ia juga rutin berolahraga. Pukul 06.00 pagi ia bergerak ke pusat kebugaran. Aktivitas ini ia lakukan untuk kembali menyegarkan pikiran agar tak mengalami kekakuan otak lantaran kebanyakan pekerjaan.

“Setelah itu kerja biasa jam 9 pagi sampai 5 sore. Nanti lanjut lagi jam 8 malam bikin konten affiliate sampai jam 12 malam,” ucapnya.

Tak hanya di hari kerja, aktivitas membuat konten afiliasi terus ia jalankan disaat akhir pekan. Hanya saja, konten-konten yang ia hasilkan di waktu libur kerja ini bertemakan outdoor, sembari menyegarkan pikiran dari sumpeknya rutinitas.

“Weekend tetap bikin konten. Itu biasanya konten di luar (outdoor), seperti CFD,” tambahnya.

Guntur mengaku, side hustle yang ia jalani tidak pernah mengganggu performanya di pekerjaan utama. Ia merasa dapat menjaga ritme pekerjaan utama dengan pekerjaan sampingan yang ia jalani.

Meskipun waktu istirahatnya terpangkas, ia merasa apa yang dikorbankannya sebanding dengan hasil yang didapatkan. “Alhamdulillahnya sih nggak pernah burnout ya. Saya selalu alihkan ke olahraga biar pikiran fresh lagi. Sejauh ini menurut saya hasilnya sangat sebanding kok dengan tenaga dan waktu yang saya korbankan,” tuturnya.

Guntur bahkan memiliki visi yang lebih visioner. Menurutnya tidak menutup kemungkinan untuk beralih secara penuh ke dunia affiliate marketing dan meninggalkan pekerjaan utamanya, selama dapat menjamin keamanan secara finansial.

"Saya punya target, kalau penghasilan dari sampingan ini sudah bisa empat kali lipat dari gaji kantor, baru saya berani untuk beralih jadi full-time," ujarnya

Mengapa Pekerja Indonesia Berburu Side Hustle?

Kisah Rudy dan Guntur mencerminkan fenomena yang kian meluas di Indonesia: pekerja yang tidak lagi bergantung pada satu sumber penghasilan. Side hustle atau pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama kini telah bertransformasi dari sekadar aktivitas tambahan menjadi strategi bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya biaya hidup.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2023, sebanyak 15,45 persen pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan sampingan—angka tertinggi dalam lima tahun terakhir. Sementara itu, hasil pengolahan data Sakernas Agustus 2024 oleh LPEM UI mencatat sekitar 8,2 persen pekerja, atau setara 19,3 juta orang, memiliki pekerjaan tambahan.

Temuan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menunjukkan bahwa lonjakan paling signifikan justru terjadi di kalangan pekerja profesional. Dalam kurun 15 tahun, jumlah profesional yang memiliki pekerjaan sampingan meningkat hingga 11,5 kali lipat, dari sekitar 116 ribu orang pada 2010 menjadi 1,35 juta orang pada 2025. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan total tenaga kerja yang dalam periode yang sama hanya meningkat sekitar 34 persen.

Hasil survei Tirto yang bekerja sama dengan Jakpat semakin menguatkan temuan tersebut. Survei yang dilakukan pada 13–14 April 2026 terhadap 1.250 responden menunjukkan bahwa 47,36 persen responden memiliki pekerjaan sampingan di luar pekerjaan utama. Menariknya, 46,32 persen responden yang belum memiliki side hustle mengaku berencana untuk memilikinya, sementara hanya 6,32 persen yang tidak memiliki rencana serupa.

Survei Tirto dan Jakpat juga menemukan mayoritas pelaku side hustle berada pada posisi entry level (64,56 persen), seperti staf atau karyawan. Meski demikian, tidak sedikit pula yang berasal dari posisi senior (35,44 persen), seperti supervisor, manajer, hingga direktur atau kepala instansi.

Dari sisi jenis pekerjaan, sektor digital menjadi pilihan yang paling banyak diminati. Fleksibilitas waktu serta kemudahan akses menjadi faktor utama pendorongnya. Bisnis online seperti e-commerce, reseller, dan dropship menjadi pekerjaan sampingan yang paling banyak digeluti (34,63 persen).

Disusul oleh pekerjaan freelance—seperti desain, penulisan, IT, dan fotografi—sebesar 32,26 persen. Selain itu, 16,22 persen responden menjadi konten kreator atau influencer, sementara 14,86 persen lainnya bekerja sebagai pengemudi ojek atau taksi online.

Penghasilan Utama Tak Cukup

Temuan survei Tirto dan Jakpat menunjukkan bahwa dorongan utama seseorang menjalani side hustle adalah keinginan untuk memperoleh tambahan penghasilan. Alasan ini diungkap oleh mayoritas responden, yakni sebesar 78,89 persen. Selain itu, sebanyak 34,97 persen responden menyebut persiapan masa depan sebagai motivasi, sementara 28,55 persen lainnya menjadikan pekerjaan sampingan sebagai sarana mengembangkan minat dan hobi.

Ketimpangan antara pendapatan dan pengeluaran juga menjadi faktor penting. Sebanyak 27,36 persen responden mengaku memiliki pekerjaan sampingan karena penghasilan utama belum mampu memenuhi kebutuhan hidup. Temuan ini sejalan dengan analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas dari survei daring yang dilakukan pada 22 Januari hingga 5 Februari 2026 terhadap 369 responden di 29 provinsi. Hasilnya, 72 persen responden menyatakan bahwa pekerjaan sampingan dijalani untuk menambah penghasilan.

Kondisi ini tercermin dalam pengalaman Rudy dan Guntur. Bagi Rudy, keputusan menjalani side hustle selama enam tahun terakhir didasarkan pada perhitungan matang tentang masa depan. Meski sebagai jurnalis senior ia merasa gajinya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di Jakarta, situasinya berubah ketika ia mulai memperhitungkan biaya pendidikan anak.

"Gue sudah menghitung ini mundur tujuh tahun lalu. Gaji kantor itu cukup untuk makan dan hidup sehari-hari. Tapi begitu punya anak dan mau kuliah, apalagi kalau mau kuliah di luar kota atau universitas swasta, gaji satu orang saja tidak akan cukup," tutur Rudy saat berbincang dengan Tirto, Selasa (14/4/2026).

Sementara itu, Guntur yang telah memiliki penghasilan stabil justru terdorong oleh kebutuhan yang lebih spesifik, yakni mempersiapkan pernikahan. Ia melihat pekerjaan sampingan sebagai cara untuk memperkuat tabungan sekaligus membangun dana darurat.

"Pemicu utamanya murni karena butuh tambahan modal nikah. Saya butuh dana darurat dan tabungan yang lebih kuat," kata Guntur.

Di sisi lain, data menunjukkan bahwa tekanan ekonomi memang terus meningkat. Tirto mencatat bahwa rata-rata pengeluaran per kapita yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada 2019, pengeluaran per kapita nasional tercatat sebesar Rp11,3 juta per tahun, sementara pada 2025 meningkat menjadi Rp12,8 juta per tahun per orang.

Sisi Gelap Side Hustle: Jebakan Overwork dan Risiko Burnout

Di balik peluang yang ditawarkan, fenomena side hustle juga menyimpan konsekuensi yang tidak ringan. Menjalankan lebih dari satu pekerjaan secara bersamaan berpotensi meningkatkan risiko kelelahan fisik dan tekanan mental. Banyak pekerja harus mengorbankan waktu istirahat, mengurangi interaksi sosial, hingga menghadapi risiko burnout akibat beban kerja yang berlebihan. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada produktivitas di pekerjaan utama serta menurunkan kualitas hidup secara keseluruhan.

Meski menawarkan tambahan penghasilan, pekerjaan sampingan tetap membawa konsekuensi serius, terutama dalam hal beban kerja. Sebanyak 75,68 persen responden yang memiliki side hustle mengaku bekerja lebih dari 40 jam per minggu, melampaui standar jam kerja nasional yang ditetapkan dalam Undang-Undang Cipta Kerja Nomor 6 Tahun 2023, yakni 40 jam per minggu.

Secara rinci, 31,59 persen responden bekerja selama 40 hingga 48 jam per minggu, sementara sebagian besar lainnya berada pada kisaran 49 hingga 60 jam. Sebanyak 10,81 persen bahkan bekerja antara 61 hingga 72 jam per minggu, dan 7,94 persen lainnya mengaku bekerja lebih dari 72 jam dalam seminggu.

Fenomena jam kerja panjang para pelaku side hustle ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas lebih dari 49 jam per minggu sebagai indikator pekerja yang mengalami jam kerja berlebih (overwork). Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) per Agustus 2025 menunjukkan sekitar 37,3 juta penduduk usia kerja di Indonesia bekerja melampaui batas tersebut.

Jumlah ini setara dengan 25,47 persen dari total 146,54 juta pekerja, atau sekitar satu dari empat orang. Jika dirata-ratakan, kelompok pekerja ini menghabiskan sekitar 10 jam per hari untuk bekerja.

Dilihat dari jenis kelamin, pekerja laki-laki tercatat lebih rentan mengalami overwork, dengan proporsi sebesar 28,50 persen yang bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Sementara itu, pada pekerja perempuan, angkanya mencapai 20,91 persen.

Kondisi ini menegaskan bahwa di balik meningkatnya tren side hustle, terdapat konsekuensi nyata berupa beban kerja berlebih yang berpotensi memicu kelelahan fisik maupun mental. Temuan ini juga diperkuat oleh survei Tirto.

Sebanyak 49,66 persen responden mengaku waktu istirahat dan tidur mereka berkurang sejak menjalani pekerjaan sampingan. Selain itu, 39,19 persen mengalami kelelahan fisik, 19,93 persen mengaku mengalami burnout atau kelelahan mental berkepanjangan, dan 17,23 persen lainnya merasakan peningkatan tingkat stres.

Di sisi lain, para pelaku side hustle juga mengkhawatirkan kondisi kesehatan mereka. Penurunan kesehatan fisik menjadi faktor yang paling banyak dipilih responden (39,53 persen) sebagai alasan yang berpotensi membuat mereka berhenti menjalani pekerjaan sampingan.

Meski demikian, faktor ekonomi tetap menjadi pertimbangan penting: sebanyak 29,05 persen responden menyatakan akan berhenti jika penghasilan dari pekerjaan utama sudah mencukupi atau meningkat, sementara 28,21 persen lainnya akan berhenti setelah target finansial mereka tercapai.

Baca juga artikel terkait PEKERJAAN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Side Job
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Alfitra Akbar