Menuju konten utama
Side Job

Terbiasa Menunda Pekerjaan karena Otak Merasa Terancam

Memang ada sebagian orang yang menunda pekerjaan karena dasarnya malas. Namun, prokrastinasi juga melibatkan respons alami menghindari "ancaman".

Terbiasa Menunda Pekerjaan karena Otak Merasa Terancam
ilustrasi prokrastinasi. foto/istockphoto

tirto.id - Artikel ini mulai ditulis setelah saya menundanya selama beberapa jam. Artikel yang semestinya bisa ditulis mulai pukul 10:00 pagi, karena berbagai alasan yang dibuat-buat sendiri, baru tergarap menjelang pukul 14:00.

Itu bukan kali pertama saya terjebak prokrastinasi. Pada awal dekade sebelumnya, saya pernah menunda mengerjakan skripsi, yang membuat waktu empat tahun hilang begitu saja. Sesuatu yang mestinya bisa saya rampungkan, dalam kurun 2011-2012, akhirnya baru selesai pada 2016.

Meski sudah pernah "kena batunya", saya tidak pernah kapok melakukan prokrastinasi. Terkadang, saya berusaha merasionalisasi prokrastinasi dengan melabelinya manajemen beban kerja. Di satu sisi, terkadang memang itu yang terjadi. Di sisi lain, sering kali penundaan terjadi karena faktor lain, baik eksternal (seperti tak bersahabatnya situasi dan kondisi sekitar) maupun internal (misalnya rasa malas, kecemasan, atau kondisi tubuh yang kurang fit).

Akan tetapi, bagaimana jika sebenarnya semua prokrastinasi, apa pun pembenarannya, terjadi karena ada sesuatu dalam otak yang membuat kita kehilangan motivasi menyelesaikan pekerjaan sesegera mungkin?

Begitulah kira-kira hasil penelitian yang dipimpin oleh Ken-ichi Amemori, ahli neurosains dari Kyoto University, Jepang.

Penelitian tersebut berangkat dari satu masalah yang sebenarnya sangat spesifik, yakni penurunan motivasi ketika kita hendak melakukan sesuatu yang mengandung unsur "tidak menyenangkan".

Prokrastinasi Tersebab Aktivitas Otak

Untuk mencari tahu penyebab utama di balik penurunan motivasi tersebut, Amemori dkk. meminta bantuan "kerabat" kita, yaitu monyet, untuk menjadi partisipan dalam eksperimennya.

Amemori dkk. tidak hanya ingin mengamati perilaku, tetapi juga sesuatu yang terjadi di jalur saraf tertentu ketika sebuah tindakan gagal dimulai. Untuk itu, aktivitas neuron harus direkam secara langsung, dan satu jalur saraf harus dilemahkan secara spesifik untuk melihat dampaknya.

Mengapa menggunakan subjek penelitian monyet? Karena eksperimen itu melibatkan manipulasi yang tidak etis dilakukan pada manusia dan monyet memiliki struktur otak mirip dengan kita.

Beberapa bagian basal ganglia pada monyet, misalnya ventral striatum dan ventral pallidum, sangat mirip dengan manusia. Jalur dan fungsinya kurang lebih sama sehingga bisa dijadikan pembanding langsung. Bedanya, pada monyet, jalur ini bisa dimanipulasi dan direkam dengan presisi tinggi tanpa melanggar batas etika. Selain itu, monyet dapat dikondisikan untuk melakukan tugas yang sama berulang kali dalam kondisi sangat terkontrol.

 ilustrasi prokrastinasi

ilustrasi prokrastinasi. foto/istockphoto

Eksperimen itu sebenarnya simpel. Para peneliti membandingkan perilaku monyet saat melakukan tugas yang sama, tetapi dipecah menjadi dua versi. Pada versi pertama, apa pun pilihan monyet, mereka akan selalu mendapat hadiah. Di versi kedua, ada satu pilihan yang membuat monyet akan mendapatkan hadiah sekaligus hukuman (semburan udara yang membuatnya tidak nyaman); ada juga satu opsi lain yang membuat monyet hanya mendapatkan hadiah, tanpa hukuman sama sekali. Dengan demikian, yang jadi pertimbangan dalam versi kedua bukan soal hadiah, melainkan potensi adanya hal tidak menyenangkan.

Semua percobaan di kedua versi tugas ini selalu dimulai dengan tahap yang sama. Monyet harus menatap sebuah titik di layar dan mempertahankan tatapan itu selama beberapa detik. Tidak ada pilihan yang diberikan maupun informasi tentang hadiah atau hukuman. Ketika tatapan lepas, percobaan langsung berhenti. Kegagalan ini disebut sebagai fixation error.

Rangkaian percobaan akan dilanjutkan ketika monyet sudah melewati tahapan pertama. Isyarat visual dimunculkan, lalu monyet diminta memilih salah satu opsi dengan menggerakkan pandangannya. Setelah itu, barulah konsekuensi diberikan, entah hadiah saja atau hadiah plus semburan udara, tergantung versi yang sedang dijalani.

Nyatanya, perbedaan perilaku pada monyet tidak muncul tepat saat mereka dihadapkan pada pilihan, melainkan sebelum itu.

Jadi, sebelum eksperimen utama dilakukan, monyet-monyet tersebut sudah dilatih memahami kedua jenis tugas. Mereka berulang kali menjalani tugas versi pertama dan kedua, sampai benar-benar mengenali pola hasilnya. Dengan begitu, ketika tugas dimulai, mereka sudah tahu situasinya: sepenuhnya aman atau bisa berujung tidak menyenangkan.

Pada versi pertama, kegagalan jarang terjadi. Sementara itu, pada versi kedua, frekuensi kegagalan melonjak. Kegagalan itu terjadi sebelum monyet diminta memilih, yaitu ketika mereka diharuskan menatap titik pada layar. Dengan kata lain, sedari awal, monyet-monyet tersebut sudah ogah-ogahan berpartisipasi hanya karena ada kemungkinan bahwa mereka bakal merasakan ketidaknyamanan.

Perlu digarisbawahi, keengganan monyet-monyet tersebut timbul bukan karena mampu. Setelah melewati fase pertama, mereka sanggup menjalankan tugas yang mengharuskan mereka memilih, lalu menerima konsekuensi. Namun, maraknya kegagalan di fase pertama menunjukkan bahwa permasalahan tidak terletak pada kompetensi, melainkan kemauan memulai tugas itu sendiri.

Berdasarkan rekaman aktivitas otak, diketahui bahwa ada sesuatu yang merepresi dorongan untuk mengerjakan tugas ketika ada risiko di baliknya. Bagian ventral striatum menjadi lebih aktif sebelum tugas dimulai, terutama pada versi tugas yang mengandung hukuman. Hal itu kemudian menekan aktivitas ventral pallidum, bagian otak yang berperan meneruskan dorongan menjadi tindakan. Cara kerjanya sama seperti rem. Ia tidak menghentikan kita mencapai tujuan, hanya menghambat laju awalnya saja.

Ketika jalur “rem” dilemahkan sementara, perilaku monyet berubah. Mereka lebih sering mau memulai percobaan, waktu reaksinya lebih singkat, dan frekuensi kegagalan di tahap awal menurun. Namun, yang tidak ikut berubah adalah pilihan mereka. Monyet tidak tiba-tiba menjadi lebih berani, lebih sering mengambil opsi berisiko, dan salah menilai untung-rugi. Artinya, yang terpengaruh benar-benar hanya inisiasi, bukan kompetensi.

Jika semua itu ditarik kembali ke pengalaman sehari-hari, prokrastinasi jadi terlihat sedikit berbeda, bukan semata-mata karena kita malas, bodoh, atau tidak tahu prioritas. Bisa jadi, otak kita sudah lebih dulu membaca konteks sebagai “tidak menyenangkan”, lalu menekan rem bahkan sebelum kita sempat duduk dan benar-benar mulai bekerja. Kita tahu tugas itu penting, kita tahu hasilnya berguna, tapi langkah pertama terasa terlalu berat.

Kalau Prokrastinasi Berkaitan dengan Otak, Apa Solusinya?

Well, selama ini sudah banyak pendapat ahli yang bisa digunakan untuk mengalahkan prokrastinasi. Akan tetapi, bagaimana cara mengalahkan "penyakit" tersebut apabila, ternyata, persoalannya ada di otak dan itu terjadi secara natural?

Jawabannya bisa ditemukan dalam studi dari India, yang dilakukan oleh Dr. Thangavel dan Xavier Munda. Keduanya memang tidak spesifik menyebut otak sebagai "biang keladi" prokrastinasi. Akan tetapi, solusi yang ditawarkan masih sejalan dengan temuan Amemori dkk., yakni cara mengakali rasa enggan di awal sebuah pekerjaan.

Menurut Thangavel dan Munda, prokrastinasi adalah respons emosional, bukan kegagalan manajemen waktu. Ia muncul ketika sebuah tugas memicu rasa cemas, takut, atau terancam, bahkan sebelum tugas itu disentuh. Dalam konteks ini, penundaan berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri. Dengan menunda, seseorang melindungi dirinya dari kemungkinan gagal, dikritik, atau merasa tidak cukup mampu.

 ilustrasi prokrastinasi

ilustrasi prokrastinasi. foto/istockphoto

Studi tersebut juga merinci pemicu-pemicu spesifik yang membuat tugas hampir pasti ditunda. Tugas yang cenderung memicu prokrastinasi adalah tugas yang membosankan, ambigu, tidak terstruktur, sulit, tidak memberi kepuasan langsung, atau tidak bermakna personal. Makin banyak ciri yang muncul, makin besar kemungkinan seseorang gagal, bahkan sekadar mulai.

Di titik itu, hubungan dengan temuan Amemori menjadi sangat jelas. Dalam eksperimen monyet, kegagalan terjadi saat mereka hanya diminta menatap titik. Pada manusia, fase tersebut setara dengan momen ketika kita membuka laptop, misalnya. Pada fase itulah sistem emosional mengambil alih. Otak tidak bertanya “apa manfaat mengerjakan tugas ini?”, melainkan “males banget, gak, sih ngerjain tugas ini?”

Karena itu, solusi yang ditawarkan secara konsisten menargetkan fase awal sebuah pekerjaan. Strategi manajemen waktu klasik sering gagal karena justru memperbesar rasa terancam di awal. Daftar tugas panjang dan jadwal yang zakelijk justru memperkuat dorongan untuk menghindar.

Sebagai gantinya, studi itu merekomendasikan strategi yang kelihatannya sepele, tetapi logis jika dibaca bersama temuan neurosains. Tugas besar harus dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Alih-alih “menulis skripsi”, misalnya, kita bisa sekadar “membuka peramban”. Pendekatan ini dikenal sebagai Swiss cheese method; kita membuat lubang kecil di tugas besar agar tidak lagi terasa utuh dan menakutkan.

Studi tersebut juga menekankan pentingnya komitmen minimal, bukan untuk langsung menyelesaikan tugas, melainkan untuk memulai sesuatu. Tujuannya adalah memulihkan kepercayaan diri bahwa kita mampu mengikuti komitmen yang kita buat sendiri. Ini penting karena prokrastinasi jangka panjang sering kali merusak kepercayaan diri, bukan kemampuan.

Studi yang terbit pada 2024 itu juga mencatat, kegagalan memulai cenderung berulang, bukan karena tugasnya makin sulit, tetapi karena emosi negatif dari kegagalan sebelumnya ikut terbawa. Ini selaras dengan temuan Amemori et al. bahwa kegagalan di fase awal meninggalkan jejak yang meningkatkan kemungkinan kegagalan berikutnya. Maka, keberhasilan kecil di fase dapat berfungsi sebagai pemutus rantai kegagalan.

Dengan begitu, kesimpulannya kini menjadi jauh lebih spesifik: prokrastinasi bukan semata-mata terjadi karena kita malas. Ia adalah wujud dari bagaimana otak bereaksi terhadap ancaman. Dan solusi paling masuk akal bukan memaksa diri menjadi lebih disiplin, melainkan berhenti membuat awal dari sebuah pekerjaan terasa seperti sesuatu yang harus dihindari. Ya, seperti kata pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Baca juga artikel terkait PEKERJAAN atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Side Job
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin