Menuju konten utama

Surati Prabowo Tolak MBG, Siswa SMK Kudus Diteror Pegawai SPPG

Siswa SMK di Kudus Muhammad Rafif mengaku diintimidasi pegawai SPPG usai surati Presiden Prabowo agar anggaran MBG-nya dialokasikan untuk gaji guru honorer.

Surati Prabowo Tolak MBG, Siswa SMK Kudus Diteror Pegawai SPPG
Ilustrasi distribusi makan bergizi gratis (MBG). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Muhammad Rafif Arsya, siswa SMK asal Kudus, mengaku mengalami teror virtual dari pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Intimidasi itu didapat usai dirinya menyurati Presiden Prabowo Subianto.

Rafif mengungkapkan, dirinya menuliskan surat terbuka kepada Prabowo yang berisikan permohonan untuk menghentikan program makan bergizi gratis (MBG).

Dalam surat yang diunggah di Instagram pada 6 April 2026, Rafif meminta Prabowo untuk mengalokasikan MBG agar menjadi gaji atau tunjangan bagi gurunya di sekolah.

"Isi surat saya kepada Bapak Presiden Prabowo yang ada di Istana Negara bahwa saya menolak program makan bergizi gratis untuk diri saya sendiri," kata Rafif usai menjadi saksi pemohon dalam sidang Judicial Review UU APBN 2026 Terkait Anggaran Pendidikan dan Program MBG di Mahkamah Konstitusi, Senin (15/6/2026).

Dia menganalogikan, apabila jatah MBG-nya dialokasikan menjadi tambah gaji guru, maka selama setahun dapat terkumpul hingga Rp6.750.000. Rafif menjelaskan, MBG yang ditolak hanya jatahnya semata, dan dia tak memaksa kawan dan siswa lain untuk mengikuti keputusannya tersebut.

"Dan itu jika saya hitung kemarin pas April itu ada sampai saya lulus itu ada 18 bulan Mas. 15.000 dikali 18 bulan itu ada sekitar 6 juta sekian. Lah, harapan saya anggaran itu dialokasikan untuk guru-guru honorer," jelasnya.

Rafif bercerita, akibat pilihan sikapnya untuk tidak menerima MBG, dirinya mengalami ancaman dan perundungan secara digital. Dia pun mengaku mendapat intimidasi dari pegawai SPPG yang mengirimkan banyak pesan ancaman. Namun hal itu tak digubrisnya.

"Dan saya sebagai orang yang menyurati saya tidak apa-apa karena di dalam berpendapat itu ada yang suka dan ada yang tidak. Dan saya menghargai orang yang tidak suka," ungkapnya.

Rafif kemudian bilang dari perwakilan pemerintah hanya Wakil Menteri HAM, Mugiyanto, yang memberikan pembelaan padanya. Mugiyanto sempat memberi pernyataan akan melindunginya usai mendapat ancaman imbas surat terbuka tersebut.

"Ini cuma dari Wamenham untuk melindungi karena saya surat ini kemarin ada intimidasi secara virtual," tegasnya.

Sebagai saksi di MK, Rafif hanya diberi kesempatan untuk menyampaikan pernyataan secara tertulis karena secara hukum dirinya masih masuk sebagai anak di bawah umur atau belum berusia 18 tahun. Meski tak bisa menyampaikan kesaksian secara langsung, Rafif tetap berharap agar MBG dapat dipangkas untuk menjadi anggaran pendidikan.

"Saya harap harapan saya ya Mas ya, itu anggaran MBG itu tidak memangkas anggaran pendidikan. Dan saya melihat guru-guru nggak cuma di Kudus nggak cuma di Jakarta terutama di 3T itu kurang sejahtera," ujarnya.

Baca juga artikel terkait MAKAN BERGIZI GRATIS atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Siti Fatimah