21 Mei 1998

Soeharto Lengser dan Kami Senang Mendengarnya Berulang Kali

Ilustrasi Soeharto Lengser (21 Mei 1998). tirto/Sabit
Oleh: Irfan Satryo Wicaksono - 21 Mei 2018
Dibaca Normal 2 menit
Terjungkal kursi,
yang lapuk dilumuri
tragis komedi.
Istana Negara. Sebuah pos jaga dengan seorang petugas berdiri siap siaga. Seseorang menghampiri dari seberang jalan, tersenyum sebentar dan berkata, “Saya ingin menghadap Presiden Soeharto.”

Dengan sopan, si petugas menjawab, “Mohon maaf, Bapak Soeharto sudah bukan presiden lagi.”

“Oh, baiklah,” sahutnya. Lalu, ia pun pergi.

Sejak Soeharto lengser, pada Kamis itu, ia memang punya kebiasaan baru. Saban hari, ia datang ke Istana Negara ingin bermuka-muka dengan Soeharto. Tapi, tentu saja, Soeharto tak lagi berada di sana. Ia tahu. Meski demikian, ia tetap datang setiap hari dan mendengar jawaban yang sama: Soeharto sudah bukan presiden lagi.

***

Sebelum Kamis yang bikin ia jadi punya kebiasaan baru itu, ada seribu enam ratus Kamis lain yang pernah ia lewati. Namun, ada satu Kamis yang ganjil. Persisnya, salah satu Kamis di bulan Maret 1998. Persisnya lagi, Kamis yang muncul pada tanggal dua belas.

Kamis pagi itu, ia membaca berita: Soeharto disumpah menjadi Presiden Republik Indonesia untuk kali ketujuh. Tapi, bukan berita soal Soeharto kembali naik tampuk yang menerbitkan perasaan ganjil di dalam dadanya, berita semacam itu tentu sudah tidak mengejutkan dirinya, atau siapapun di pelosok negeri. Yang bikin dia terkejut adalah Harmoko dan palu sidangnya.

Hari itu, sehari sebelum tokoh kita membaca berita, Harmoko selaku Ketua DPR/MPR menutup Sidang Umum. Ia baru saja memimpin sidang dalam rangka mengangkat sumpah Soeharto dan B.J. Habibie menjadi presiden dan wakil presiden. Seperti sidang-sidang sebelumnya, sebagai tanda penutupan, ia mengayunkan sebuah palu.

Lalu, klak! Begitu diketuk, palu itu patah jadi dua. Harmoko masih memegang gagangnya, tapi kepala palu itu mencelat ke lantai. Usai kejadian itu, Harmoko memohon maaf kepada Soeharto dan orang Kemusuk itu menanggapi dengan santai.

“Barangkali palunya kendor,” ujarnya, seperti ditulis Firdaus Syam dalam Berhentinya Soeharto, Fakta dan Kesaksian Harmoko (2008).



Hari-hari setelah kejadian palu patah itu adalah hari-hari genting. Kelak, Soeharto barangkali menyadari bahwa bukan palunya yang kendor, tapi dukungan daripada loyalisnya. Termasuk Harmoko, yang kita kenal selalu setia memohon petunjuk Bapak Presiden.

Puncaknya, terjadi pada 18 Mei 1998, ketika Harmoko memberi keterangan pers.

“Dalam menanggapi situasi seperti tersebut di atas, pimpinan dewan, baik ketua maupun wakil-wakil ketua, mengharapkan, demi persatuan dan kesatuan bangsa, agar Presiden secara arif dan bijaksana sebaiknya mengundurkan diri,” tutur Harmoko seperti dilansir harian Kompas edisi 19 Mei 1998.


Dan, benar saja, pada 21 Mei 1998, tepat hari ini 20 tahun lalu, atau 70 hari setelah palu Harmoko patah, Soeharto membacakan pidato—sebuah pidato paling bagus selama ia menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.

“Saya memutusken, ehem, untuk menyataken berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacaken pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998.”

Berhenti, barangkali, menjadi sebuah kata paling merdu yang ia, si tokoh kita ini, dengarkan pada hari Kamis itu.

***

Ia menonton pidato itu melalui pesawat televisi. Beberapa orang ikut berkerumun bersamanya. Ada yang bertepuk tangan. Mengepalkan tangan. Meninju udara. Berteriak-teriak kegirangan. Saling berpelukan? Entahlah, ia tak terlalu menggubris. Lalu sebuah senyum mengembang di wajahnya. Boleh jadi ia senang. Tapi yang pasti, ia teringat sebuah lelucon yang pernah diceritakan seorang kawan, jauh sebelum kata “berhenti” menjadi begitu merdu pada hari itu.

Syahdan, tiga antropolog masing-masing berkebangsaan Inggris, Amerika Serikat, dan Indonesia melakukan penelitian bersama. Tanpa musabab yang jelas, ketiga antropolog ini tersesat di lorong yang berada di bawah sebuah piramida. Dalam kepanikan, serejang senyap sebujur mumi tua berdiri menghalangi mereka. Dengan suara yang keras, mumi tua itu berkata, “Hoi, manusia-manusia dari mana kalian? Berani-beraninya mengganggu tempat ini!”

Antropolog asal Amerika Serikat mengajukan diri buat menjawab.

“Saya dari Amerika Serikat, Tuan.”

Mumi tua itu mengalihkan pandangan ke antropolog Inggris.

“Saya asli dari Inggris, Tuan.”

Lalu, mumi tua itu melihat ke arah antropolog Indonesia.

“Saya orang Indonesia, Tuan.”

Mumi tua itu mendekat dan berkata, “Kamu orang Indonesia?”

“B-Benar, Tuan.”

“Boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?”

“S-Silakan, Tuan.”

“Apakah Soeharto masih jadi presiden?”

Soeharto sudah bukan presiden lagi.”


***

Soeharto sudah bukan presiden lagi.”

Ia masih mendengar jawaban yang sama. Kali ini, pada kedatangannya kali kedua puluh enam ke Istana Negara, si petugas jaga akhirnya gusar separuh curiga. Lalu, ia membawa tokoh kita ini buat bertemu komandannya. Tiada raut gentar di wajah tokoh kita, begitu pula ketika ia mesti berdepan-depan dengan seorang komandan sambil diinterogasi.

“Apa betul Saudara sudah dua puluh enam kali datang kemari?”

“Betul, Pak.”

“Dan Saudara kepingin menghadap Bapak Soeharto?”

“Tidak bisa dibantah. Betul sekali, Pak.”

“Apa Saudara sudah diberi tahu oleh petugas kami kalau Bapak Soeharto sudah bukan presiden lagi?”

“Sudah, Pak.”

“Lantas, mengapa Saudara masih terus datang? Apa maksudnya?”

“Tiada maksud apa-apa, Pak. Saya hanya senang mendengarnya.”

“Mendengar apa?”

“Tentu saja mendengar kabar kalau Soeharto sudah bukan presiden lagi.”

Tentu saja tokoh kita ini adalah tokoh fiktif. Begitu pun kisahnya, yang juga beredar dalam beragam variasi. Ia hanya ada dalam anekdot yang begitu populer pada zamannya, khususnya pada masa-masa awal tumbangnya Soeharto. Tak cuma humor tentang kejatuhan Soeharto, kita juga mungkin pernah mendengar humor-humor lain yang berkisah tentang betapa menggelikannya orde mahabuas ini.

Dan humor-humor ini bisa sangat lucu jika kita menghadirkan konteks “Orde Baru”, ketika orang-orang tidak boleh sembarangan membacot, serta sosok Soeharto beserta kroni-kroninya yang tampil begitu mahakuasa dan bebas berbuat apa saja.

Anekdot-anekdot itu bisa sangat lucu jika kita tahu, pada zaman itu orang-orang yakin bahwa hanya kiamat yang bisa bikin Soeharto mengucapken "saya berhenti".

Baca juga artikel terkait 20 TAHUN REFORMASI atau tulisan menarik lainnya Irfan Satryo Wicaksono
(tirto.id - Politik)

Penulis: Irfan Satryo Wicaksono
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight