tirto.id - Sekitar 650 orang dievakuasi dari Gunung Sinabung di Sumatra Utara imbas erupsi yang terjadi sejak Senin (31/8/2026). Ribuan personel TNI juga disiagakan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana lanjutan.
Pos-pos pengungsian bagi warga terdampak erupsi Gunung Sinabung dilaporkan telah dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Karo. Seturut Antara, salah satu lokasi pusat pengungsian didirikan di Losd Pulunipe, Sukatepu, Kecamatan Namanteran.
Pemerintah Kabupaten Karo juga dilaporkan terus melakukan koordinasi untuk memastikan kebutuhan para warga terdampak dapat tercukupi. Bupati Karo Antonius Ginting menyebut bahwa pihaknya kini terus memantau situasi terkait erupsi yang terjadi.
“Keselamatan warga menjadi prioritas utama,” tuturnya di posko pengungsian di Sukatepu pada Selasa (1/9) lalu.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya telah meningkatkan status Gunung Sinabung dari level II (Waspada) menjadi level III (Siaga) pada Senin. PVMBG juga telah menetapkan radius sepanjang 3 km dari puncak gunung sebagai area berbahaya dan mengimbau warga untuk tidak memasukinya.
Berdasarkan keterangan PVMBG, erupsi Sinabung terjadi pada Senin siang pukul 10.17 WIB. Sesaat setelah terjadi, kolom erupsi terbentuk sekitar 3.500 meter di atas puncak.
“Erupsi ini merupakan bagian dari erupsi awal, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar,” tulis laporan resmi PVMBG pada Senin.
Jumlah Pengungsi Sedikitnya 650 Jiwa
Sejauh ini, terdapat sedikitnya 650 orang yang dievakuasi imbas erupsi Gunung Sinabung. Mereka disebut merupakan warga Desa Kuta Tengah yang kini dievakuasi ke pos pengungsian di Sukatepu.
Sebanyak 650 pengungsi itu berasal dari 207 KK dan kini menempati tenda darurat yang disediakan otoritas setempat. Pemerintah Kabupaten Karo memastikan bahwa para pengungsi kini berada dalam kondisi yang relatif baik.
Penduduk Desa Kuta Tengah merupakan salah satu kelompok masyarakat yang diprioritaskan untuk dievakuasi lantaran lokasi pemukiman yang tergolong dekat dengan puncak Gunung Sinabung. Desa ini terletak di dalam zona merah erupsi gunung tersebut.
Otoritas setempat kini mengimbau agar para penduduk yang telah dievakuasi untuk tidak kembali ke zona merah. Pihak Pos PGA Sinabung menyebut bahwa hal tersebut wajib dipatuhi para pengungsi demi mengantisipasi kemungkinan terburuk dari erupsi yang terjadi.
Pengungsian yang Terkendala Sarpras Dibenahi
Meskipun pusat lokasi evakuasi kini mulai didatangi pengungsi, namun tenda-tenda darurat yang didirikan dilaporkan sempat mengalami kekurangan fasilitas yang krusial. Pusat pengungsian di Suka Tepu disebut sempat kekurangan sarana MCK, pasokan tenda, logistik makanan, selimu, hingga air bersih.
Ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras) itu dilaporkan sempat tak mencukupi kebutuhan ratusan pengungsi yang berdatangan. Namun, hal ini disebut telah ditangani oleh satgas tanggap darurat setempat.
Petugas telah memasok kebutuhan-kebutuhan krusial para pengungsi, termasuk di antaranya air bersih dan penataan ulang fasilitas sanitasi. Armada truk tangki air bersih disebut telah dikerahkan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Sumatra Utara telah menjamin bahwa kebutuhan dasar warga terdampak erupsi Sinabung akan dipenuhi. Keterangan ini sebelumnya diungkap Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution pada Selasa.
“Kita pastikan yang di sini fasilitasnya dulu, karena kita tidak ingin masyarakat yang ngungsi di sini merasa tidak nyaman terus tiba-tiba langsung kembali ke rumah,” tuturnya, dikutip dari laman resmi Dinas Komunikasi dan Informasi Provinsi Sumatra Utara.
Selain kebutuhan dan fasilitas dasar, pemerintah provinsi juga menyebut akan menyiapkan bus angkutan khusus. Fasilitas ini disebut akan disiapkan untuk memfasilitasi kebutuhan anak-anak untuk bersekolah.
TNI Siagakan 1.279 Pasukan Gabungan
Sementara itu, Kodam I/Bukit Barisan menyatakan sebanyak 1.279 pasukan gabungan telah disiagakan untuk mengantisipasi dampak erupsi Sinabung. Lebih dari 1.000 personel ini mulai dikerahkan sejak Kamis (3/9).
Menurut keterangan Kodam I/Bukit Barisan, lebih dari 1.000 personel pasukan gabungan itu terdiri berbagai unsur. Selain TNI, pasukan juga berisi personel Polri, Basarnas, tenaga kesehatan, Satpol PP, BPBD, dan unsur pendukung lainnya.
Pasukan gabungan ini nantinya akan disiagakan di sejumlah titik, termasuk di posko-posko pengungsian yang didirikan otoritas setempat. Selain itu, mereka juga akan dikerahkan untuk memastikan kondisi para pengungsi dalam keadaan aman.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id


































