Menuju konten utama

Sinterklas Sang Pelindung Anak-Anak

Sinterklas dianggap sebagai khayali, tetapi di sisi lain, sosok ini pernah dianggap ada. Kisahnya yang menyelamatkan tiga gadis dari jeratan prostitusi membuatnya dijuluki sebagai penyelamat

Sinterklas Sang Pelindung Anak-Anak
Sinterklas. Bennett Raglin/Getty Images

tirto.id - Beth Miller mencoba mengenang Sinterklas. Saat masih berusia lima tahun, ia dan adiknya tergerak untuk menggantung kaus kaki di atas cerobong pengapian rumah. Dengan berpikir bahwa akan mendapat hadiah, ia tak lupa meletakkan sepiring Cookie untuk Santa Claus dan beberapa buat wortel untuk rusanya sebagai bentuk terima kasih.

Setelah melakukan itu, Beth dan adiknya bergegas menuju kamar dan berharap Sinterklas memberi keajaiban. Dengan kondisi rumah yang memiliki cerobong api, Beth tak terlalu khawatir, sebab ia tahu darimana Sinterklas akan datang.

Setelah menginjak dewasa, Beth tersadar bahwa Sinterklas tidak benar-benar datang memberi hadiah dan menduga bahwa hadiah itu adalah pemberian orangtua dan kerabat dekatnya.

Tetapi dalam kisah lain, seorang guru bernama Sonia Leal pernah dibuat kewalahan atas pertanyaan anaknya. Percakapan itu akhirnya diabadikan dalam bukunya berjudul How to Talk to Your Child Santa Claus.

Ketika sang anak bertanya apakah Sinterklas ada, ia menjawab: “Bagaimana menurutmu?” atau “Bagaimana Anda pikir itu terjadi?” Dengan begitu, Leal mengaku dapat membelokkan pertanyaan dan anaknya kemudian akan bertanya-tanya dan mencari sendiri jawabannya.

Pertanyaan yang sama juga pernah mengganggu dua anak perempuan berusia 8 tahun bernama Gretchen dan Stacy. Keduanya bahkan nekat mengirim surat kepada Flint Journal:

“Saya dan teman baik saya menulis kepada Anda untuk menanyakan, apakah Santa Claus benar-benar ada? Kami menyaksikan di Virgina dan kami ingin tahu apakah itu benar. Kami tahu Anda sibuk, tapi kami bertekad untuk mencari tahu.”

Tak tega membiarkan pertanyaan besar tetap mengganjal mereka, kolumnis Alan N. Macleese akhirnya tergerak membalas surat.

Gretchen dan Stacy terkasih:

Akan sangat mudah bagi saya untuk memulai surat ini dengan hanya mengatakan, “Ya, Gretchen dan Stacy, Santa Claus ada.” Tapi aku tidak akan melakukan itu.

Saya mungkin akan melakukan itu jika Anda seorang anak kecil dan masih benar-benar polos. Tetapi Anda telah menunjukkan bahwa Anda bukan lagi anak kecil dengan menulis surat ke jurnal ini.

Surat Anda menunjukkan bahwa Anda telah mengambil langkah pertama menuju kedewasaan. Anda melakukan itu dengan mengajukan pertanyaan tentang sesuatu yang penting bagi Anda.

Tetapi orang-orang seperti Anda, orang-orang yang bertekad pada kebenaran, tidak pantas untuk mendapatkan jawaban yang mudah. Terutama tentang hal penting, “apakah Santa Claus ada?”

Mari kita lihat sejarah.

Seribu enam ratus tahun silam, seorang laki-laki bernama Nicholas benar-benar dikenang karena melakukan banyak hal yang baik bagi orang-orang. Dia adalah uskup dari gereja di sebuah tempat bernama Asia Minor.

Dia tidak memberikan hadiah natal untuk anak-anak, tetapi ia begitu dicintai banyak orang, terutama setelah kematiannya, mereka membuatnya menjadi suci. Dan meskipun telah mati, orang-orang ingin menjaga kebaikan selama hidupnya.

Sebagai bentuk penghormatan kepadanya, di satu tempat di Eropa, orang-orang mulai memberikan hadiah kepada anak-anaknya. Dan memberitahu kepada anak-anaknya bahwa hadiah itu berasal dari Santa Claus.

Cerita itu terus berkembang, orang-orang tua memberitahukan kepada anak-anaknya bahwa Santa Claus tinggal di Kutub Utara dan mengunjungi mereka setiap Natal, dengan mengendarai kereta penuh mainan yang ditarik oleh delapan rusa.

Sekarang mari kita mengajukan pertanyaan lagi. Apakah Santa Claus ada?

Ya, Gretchen dan Stacy, ia ada, setidaknya untuk anak-anak lebih beruntung. Santa ini memiliki banyak nama. Ibu. Ayah. Paman. Teman. Nenek. Kakek. Dan anak-anak beruntung bisa membuktikan Santa ini adalah nyata.

Mengenal Sosok Sinterklas

Semua kisah di atas adalah rangkuman cerita yang dipacak pada situs stnicholascenter.com. Di setiap negara, gambar atau sosok Santa Claus atau yang dikenal dengan Sinterklas sangat bervariasi. Namun dari sekian banyak variasi itu, yang paling menarik adalah gambar Santa Nicholas yang diambil melalui hasil forensik rekonstruksi wajah.

Caroline Wilkinson, seorang antropolog wajah di University of Manchester (Inggris) mencoba membedah hal ini dengan melakukan penelitian pada wajah Santo Nicholas melalui data dan simulasi perangkat lunak modern yang dibuat untuk rekonstruksi wajah.

Dari penelitian itu, Wilkinson akhirnya berhasil memprediksi ukuran dan bentuk dari otot-otot wajahnya dan bentuk tengkorak yang didapatkan melalui data dua dimensi. Seniman digital akhirnya menambahkan sedikit gambaran pada wajah Nicholas seperti mata coklat dan rambut abu-abu yang menjadi khas seorang pria berusia 60 tahunan.

"Kami pasti kehilangan beberapa tingkat detail... Tapi kami percaya ini adalah yang paling dekat," kata Wilkinson seperti dikutip National Geographic.

Tetapi yang cukup mengharukan adalah Wilkinson menemukan adanya keretakan pada hidung Nicholas, yang diduga karena dianiaya oleh orang Kristen di bawah kekuasaan Kaisar Romawi Diolectian. Nicholas yang gemuk dan tidak periang itu memang terkenal frontal menentang doktrin gereja. Ia sampai mendekam di dalam jeruji besi selama bertahun-tahun.

Nicholas bangkit dan menonjol di antara orang-orang kudus lainnya karena ia menjadi pelindung bagi banyak kelompok, terutama kaum nelayan dan anak-anak. Sejarawan Gerry Bowler sekaligus penulis Santa Claus: A Biography mengatakan ia dikenal sebagai pelindung anak-anak karena cerita besar dalam hidupnya.

Dalam kisah yang lebih terkenal, ia pernah menyelamatkan tiga gadis muda miskin dari jeratan prostitusi karena tak mampu membeli mahar. Menurut kepercayaan, semakin besar mahar sang wanita, semakin besar pula kesempatan mereka untuk menemukan suami yang baik. Tanpa mahar, seorang wanita mustahil akan menikah dan kebanyakan dari mereka harus terpaksa berakhir menjadi babu, budak, bahkan pekerja seks.

Nicholas yang saat itu memiliki kekayaan warisan dari orang tuanya, mendatangi rumah itu secara diam-diam di malam hari lewatjendela, lalu memasukkan beberapa kantung emas di kaus kaki yang tergantung pada pengapian rumah. Nicholas terus melakukan itu hingga akhirnya ayah dari ketiga gadis itu melihatnya. Berkat bantuan Nicholas, ketiga gadis itu akhirnya menikah dengan pria baik.

INFOGRAFIK Sejarah Sinterklas

Sinterklas Ikon Natal

Sinterklas sering diidentikkan dengan Natal, mengapa demikian?

Editor CNN Daniel Burke dalam tulisannya "The Real Story Behind Santa Claus” mengatakan, pada awal 1800-an para pemimpin Kristen Amerika melarang perayaan keagamaan Natal karena disamakan dengan menyembah berhala. Terlebih, 25 Desember sering dijadikan momentum kelas pekerja untuk mabuk, berpesta pora. Ada juga yang memanfaatkannya untuk membuat gaduh seperti mencuri dan menjarah.

Tetapi meski ada larangan itu, orang-orang masih ingin berpesta karena libur Natal adalah waktu yang tepat untuk bersenang-senang. Selain terjadi di musim dingin, Natal juga bertepatan dengan waktu panen dan para nelayan sedang menunggu cuaca yang baik untuk mencari ikan.

Sekelompok orang berdarah biru yang tak senang dengan budaya itu akhirnya memutuskan untuk menghentikan cara itu dengan mengganti perayaan Natal ke dalam ruangan. Acara yang lebih ramah untuk keluarga dan fokus pada anak-anak.

Sejak saat itulah Natal berubah menjadi acara keluarga, ditambah dengan cerita legenda Sinterklaas (bahasa Belanda), yang ditulis oleh penulis Amerika, Washington Irving.

Ia menampilkan Santa Nicholas dengan berbagai macam sketsa, terutama mitos sang legenda yang mendatangi setiap rumah saat Natal dengan kereta berisi hadiah. Sinterklas akan datang melalui cerobong api dan memasukkan hadiah ke kaus kaki anak-anak yang berperilaku baik.

Tidak cukup sampai di sana, gempuran cerita Sinterklas mulai muncul di tahun 1821 melalui sebuah puisi anonim berjudul “The Children's Friend,” yang kembali menampilkan sosok yang disebut "Santeclaus”. Sang legenda akan datang mengendarai rusa dengan kereta penuh hadiah dan mendatangi anak-anak yang baik.

Kisah ini terus menyebar dan berkembang hingga sekarang. Dan tampaknya, dunia sepakat menjadikan Sinterklas sebagai sosok ikonik perayaan Natal. Ia membawa keriangan bagi anak-anak yang merindukan hadiah, dan bagi banyak anak, Sinterklas benar-benar tinggal di hati mereka.

Baca juga artikel terkait SINTERKLAS atau tulisan lainnya dari Alexander Haryanto

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Alexander Haryanto
Penulis: Alexander Haryanto
Editor: Maulida Sri Handayani