Sinopsis Novel "Sitti Nurbaya" Karya Marah Rusli

Oleh: Anisa Wakidah - 25 November 2021
Dibaca Normal 2 menit
Sinopsis novel Sitti Nurbaya karya Marah Rusli dan biografi penulisnya.
tirto.id - Sitti Nurbaya merupakan karya Marah Rusli yang menceritakan kisah tentang dua remaja bernama Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri.

Novel ini pertama kali diterbitkan tahun 1922 oleh Balai Pustaka dan sampai tahun 2008 novel ini telah memasuki cetakan yang ke-44.

Novel karya Marah Rusli ini dianggap sebagai karya pencetak tradisi sastra Indonesia modern. Dikutip dari laman Ensiklopedia Kemendikbud yang menyebutkan komentar Umar Yunus (1980).

Ia menyebutkan bahwa novel ini mengungkapkan pertentangan antara buruk dan baik yang diperlihatkan dalam dua sisi.

Pertama, yakni perihal pertentangan adat Minangkabau (Padang) dengan adat baru. Dan oposisi kedua ditampilkan pada pertentangan antara orang kaya yang tamak dan orang yang baik namun biasanya tidak berpendidikan.

Berkat novel Sitti Nurbaya, setahun setelah Marah Rusli meninggal dunia, Pemerintah Republik Indonesia memberikan anugerah sastra pada tahun 1969 sebagai hadiah tahunan pemerintah untuk Marah Rusli.

Dilansir dari situs Ensiklopedia Kemendikbud, novel Sitti Nurbaya setidaknya telah mengalami tiga kali perubahan ejaan, yaitu Ejaan Van Ophuijsen, Ejaan Republik, dan Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Di dalam novel ini, dilengkapi pula dengan sembilan buah gambar lukisan.

Sinopsis Novel Sitti Nurbaya


Novel ini menceritakan kisah Sitti Nurbaya dan Samsul Bahri yang sudah saling dekat sejak dari sekolah rakyat.

Sitti Nurbaya diceritakan sebagai anak pedagang kaya Bagindo Sulaiman, dan Samsul Bahri adalah anak Sutan Mahmud seorang Penghulu di Padang. Keduanya harus berpisah karena Samsul Bahri harus melanjutkan sekolah dokter ke Jakarta.

Novel ini juga menghadirkan sosok Datuk Maringgih yang merupakan seorang kaya yang kikir di Padang.

Datuk Maringgih melakukan tipu muslihat kepada Bagindo Sulaiman (ayah Sitti Nurbaya) yang membuat ia jatuh miskin.

Datuk Maringgih awalnya meminjamkan uang kepada Bagindo Sulaiman yang kemudian uang itu tidak dapat dikembalikan oleh Bagindo Sulaiman.

Datuk Maringgih akhirnya mengadukan hal itu kepada Belanda agar Baginda Sulaiman dipenjarakan.

Dengan kepiawaiannya, Datuk Maringgih memberikan pilihan kepada Bagindo Sulaiman supaya tidak dipenjara dengan syarat Sitti Nurbaya dapat diperistri oleh Datuk Maringgih.

Diceritakan bahwa Sitti Nurbaya rela menikah dengan Datuk Maringgih tanpa paksaan dari Baginda Sulaiman.

Mendengar pernikahan tersebut, Samsul Bahri sangat kecewa. Bahkan, Samsul Bahri nekad bunuh diri.

Akan tetapi, rencana itu dapat digagalkan oleh seseorang. Disisi lain, Sutan Mahmud (ayah Samsul Bahri) di Padang telah mendengar bahwa Samsul Bahri telah meninggal karena bunuh diri.

Dalam perjalanan hidupnya, akhirnya Samsul Bahri memutuskan untuk menjadi opsir Belanda.

Dalam penugasannya, ia dikirim ke Padang untuk memadamkan suatu pemberontakan di sana. Di medan inilah Samsul Bahri akhirnya bertemu dengan pemberontak yang dikepalai oleh Datuk Maringgih.

Dikisahkan Datuk Maringgih akhirnya menginggal dunia dalam pertempuran ini begitu pula dengan Samsul Bahri yang meninggal setelah berada di rumah sakit.

Hal mencengangkan lainnya adalah bahwa Sitti Nurbaya telah lama meninggal dunia karena diracun oleh Datuk Maringgih.

Sampai sekarang di Gunung Padang ada lima kuburan yang berjejer. Kuburan itu adalah kuburan Bagindo Sulaiman, kuburan Sitti Nurbaya, kuburan Samsul Bahri, kuburan Sitti Maryam (ibu Samsul Bahri), dan kuburan Sutan Mahmud (ayah Samsul Bahri).

Biografi Marah Rusli, Penulis Novel Sitti Nurbaya

Marah Rusli merupakan seorang pengarang yang lahir pada 7 Agustus 1889 di kota Padang dan meninggal dunia pada 17 Januari 1968 di Bandung dan dimakamkan di Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Ia dilahirkan di lingkungan keluarga yang beragama Islam. Dalam dunia sastra, ia pernah memakai nama samaran Sadi B.

Marah Rusli dilahirkan sebagai keturunan bangsawan. Gelar "Marah" untuk Marah Rusli diperolehnya dari ayahnya yang bergelar "Sutan", yakni Sutan Abu Bakar yang merupakan seorang demang dan merupakan keturunan langsung Raja Pagaruyung.

Sementara ibunya berasal dari Jawa dan masih keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro.

Dalam adat Minangkabau, anak laki-laki dari seorang ayah yang bergelar Sutan dan ibu yang tidak bergelar, akan memiliki gelar "Marah".

Novel Sitti Nurbaya merupakan salah satu karya Marah Rusli yang paling penting. Oleh Marah Rusli, Novel ini beri anak judul dengan frasa “Kasih Tak Sampai”.

Beberapa karya Marah Rusli lainnya, yakni:

    • La Hami yang ditulis berdasarkan pengalamannya dalam mengamati kehidupan masyarakat Sumbawa. Novel ini diterbitkan oleh Balai Pustaka, Jakarta pada tahun 1924.
    • Anak dan Kemenakan, terbit pada tahun 1956 oleh Balai Pustaka, Jakarta.
    • Selain itu, ada beberapa karya Marah Rusli yang ditolak Balai Pustaka, antara lain Tesna Zahara dan Anak Kandung. Marah Rusli pernah tinggal di Jalan Merdeka 58 A, Bogor.


Baca juga artikel terkait HIBURAN atau tulisan menarik lainnya Anisa Wakidah
(tirto.id - )

Kontributor: Anisa Wakidah
Penulis: Anisa Wakidah
Editor: Dhita Koesno
DarkLight