tirto.id - Film Pesta Babi yang viral melibatkan nama Yasinta atau Mama Sinta, tokoh adat Papua Selatan. Mama Sinta mengaku dalam film dokumenter tersebut menampilkan wajah serta pernyataannya tanpa izin.
Mama Sinta menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan persetujuan atas penggunaan identitasnya dalam karya tersebut, dan merasa dirugikan karena hal itu berdampak pada citra dirinya di ruang publik.
Pada akhir Mei 2026, Mama Sinta mendatangi Polda Metro Jaya didampingi kuasa hukumnya, TS Hamonangan Daulay, untuk melaporkan dugaan penggunaan data pribadi dan citra dirinya tanpa izin.
"Saya punya wajah ini di mana-mana mereka putar film itu, saya sakit hati. Tanpa izin dari saya. Maka itu saya datang ke Jakarta," kata Mama Sinta dikutip Antara, Jumat(29/5/2026).
Ia mengaku baru menyadari bahwa wajahnya ditampilkan dalam film tersebut setelah menghadiri pemutaran film yang sebelumnya ia kira merupakan acara pemotongan babi secara adat.
"Jadi, pada saat itu saya tahu saja mau potong babi betulan, ternyata film yang diputar itu judulnya film Pesta Babi. Ah, di situ ada wajah saya," sesalnya.
Profil Yasinta Moiwend atau Mama Sinta dan Kaitannya dengan Film Pesta Babi
Yasinta Moiwend atau yang lebih dikenal sebagai Mama Sinta merupakan tokoh perempuan adat dari komunitas Marind di Merauke, Papua Selatan, yang selama beberapa tahun terakhir dikenal luas sebagai salah satu suara masyarakat adat dalam isu lingkungan, hak tanah adat, dan pembangunan di wilayah Papua Selatan.
Namanya mulai mendapat perhatian publik ketika terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi yang menyoroti dampak pembukaan lahan dan pelaksanaan proyek pembangunan skala besar, termasuk program lumbung pangan nasional atau Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke.
Melalui berbagai forum diskusi, pertemuan masyarakat, hingga dokumentasi yang beredar di media sosial, Mama Sinta kerap menyampaikan pandangannya mengenai kondisi masyarakat adat yang terdampak perubahan penggunaan lahan di wilayahnya.
Sosoknya kemudian dikenal sebagai representasi perempuan adat yang menyuarakan keresahan sebagian warga terkait perubahan sosial, ekonomi, dan lingkungan yang terjadi di tanah leluhur mereka.
Belakangan Mama Sinta menjadi sorotan setelah secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap sejumlah pihak yang sebelumnya mendampinginya dalam kegiatan advokasi penolakan PSN.
Ia mengaku merasa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang mengajaknya terlibat dalam berbagai kegiatan kampanye dan perjalanan ke sejumlah kota seperti Jayapura, Makassar, dan Jakarta.
Menurut pengakuannya, keterlibatan tersebut membuat dirinya viral di berbagai media hingga wajah dan pernyataannya digunakan dalam film dokumenter berjudul “Pesta Babi” tanpa izin maupun sepengetahuannya.
Mama Sinta menyatakan bahwa kemunculannya dalam film tersebut tidak pernah didahului persetujuan resmi dan ia merasa dirugikan karena citra serta identitasnya digunakan dalam narasi yang menurutnya tidak lagi mencerminkan pandangannya saat ini.
Kekecewaan itu mendorongnya mengambil jarak dari kelompok advokasi yang sebelumnya mendampinginya, termasuk organisasi bantuan hukum dan kelompok masyarakat sipil yang aktif mengkritik proyek pembangunan di Papua Selatan.
"Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi," ujarnya dikutip Antara, Minggu (24/5/2026).
Dalam berbagai pernyataannya kepada media, Mama Sinta mengungkapkan bahwa kondisi ekonomi keluarganya menjadi alasan utama mengapa ia kini lebih menekankan kebutuhan akan pekerjaan dan perbaikan kesejahteraan.
Karena alasan itulah ia mengaku kini lebih terbuka terhadap keberadaan proyek pembangunan dan berharap masyarakat lokal dapat memperoleh manfaat langsung melalui lapangan pekerjaan, program pemberdayaan, maupun kerja sama dengan perusahaan.
"Pemerintah bisa membantu kita lewat perusahaan yang ada. Dan kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan," tutur Mama Sinta.
Perubahan sikap Mama Sinta kemudian memunculkan perdebatan karena sejumlah aktivis dan organisasi masyarakat sipil yang sebelumnya bekerja bersamanya menyatakan tidak mengetahui adanya perubahan posisi tersebut.
Salah satunya adalah Villarian atau Juple, yang menyebut bahwa sepanjang pengetahuannya, Mama Sinta masih berkomitmen bersama kelompok masyarakat adat dan organisasi pendamping untuk menolak PSN di Papua Selatan.
“Enggak ada, itu perlu diklarifikasi, itu informasi dari mana karena Mama Yasinta itu bersama-sama dengan kita, bersama-sama dengan LBH Merauke, Pusaka Bentala Rakyat dan organisasi-organisasi lain itu berkomitmen untuk terus menolak PSN yang ada di Papua Selatan,” terang Juple.
Salah satu sutradara film Pesta Babi, Dandhy Laksono membagikan link petisi yang dibuat Nelius Wenda, aktivis HAM asal Papua dan juga seorang pembuat film asli Papua.
"Mama Yasinta, seorang tokoh penting di dalam komunitas kami, saat ini berada dalam situasi sulit di mana keberadaannya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk melaporkan sutradara dan kolaborator film 'Pesta Babi'. Situasi ini tidak hanya membahayakan dirinya secara fisik dan psikologis tetapi juga mengancam kedamaian dan keselamatan komunitas kami secara keseluruhan," demikian tulis Nelius.
Nelius mengajak masyarakat bergabung untuk menekankan pentingnya perlindungan bagi aktivis kemanusiaan seperti Mama Yasinta dan dukungan melawan intimidasi dan eksploitasi yang tak semestinya terjadi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































