Selingkuh Tipis dan Gagasan Relasi Romantis yang Problematis

Ilustrasi pasangan kekasih curiga berselingkuh. Getty Images/iStockphoto
Oleh: Patresia Kirnandita - 19 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Hal-hal remeh yang dilakukan seseorang kepada orang lain yang bukan pasangannya bisa dianggap sebagai bentuk selingkuh.
tirto.id - “Bila partner Anda berbincang secara online dengan orang lain, lalu buru-buru menutupnya saat Anda masuk ruangan; bila ia menghubungi mantan untuk mengucapkan selamat; mungkin partner Anda diam-diam memuji laki-laki atau perempuan lain; atau mungkin ia bertemu lawan jenis dengan dalih hendak rapat tapi kenyataannya tidak demikian…hal-hal ini bisa menjadi tanda yang mesti Anda waspadai,” demikian ujar Melanie Schilling kepada Huffingtonpost Australia.

Perempuan berprofesi psikolog ini telah mendalami soal relasi selama bertahun-tahun, dan ia sempat mengungkapkan pemikirannya terkait perselingkuhan kecil alias microcheating. Konsep ini diartikan sebagai perilaku remeh yang mengindikasikan seseorang terlibat secara emosional atau fisik dengan pihak di luar relasi. Contoh-contoh perilakunya seperti yang diungkapkan Schilling tadi.

Gagasan Schilling soal “selingkuh kecil” ini bukanlah hal yang benar-benar anyar. Dilansir Business Insider, tahun 2008, Urban Dictionary sempat memuat terminologi micro-cheating yang artinya tak jauh beda dengan pemahaman Schilling. Sewindu kemudian, giliran Thought Catalog yang memublikasikan artikel bertajuk “33 Ways Your Boyfriend Is Micro-Cheating (And Totally Getting Away With It)”. Isinya pun tak jauh berbeda dengan yang dikatakan Schilling.

Sebelum Schilling dan situs-situs online ini menyebut soal microcheating, ada Dr. Martin Graff, psikolog dari University of South Wales, Inggris, yang disebut-sebut sebagai orang pertama yang mencetuskan konsep ini. Dikutip dari The Guardian, ia berpendapat bahwa mengirim emoji bergambar hati pun bisa dianggap sebagai cara menggoda orang lain di luar pasangannya yang ujungnya dikatakan sebagai perselingkuhan. Bila di era sebelumnya godaan-godaan hanya berbentuk gestur dan verbal—semacam lirikan diam-diam, ajakan mengobrol kepada laki-laki atau perempuan asing yang dianggap menarik, atau mengopi bareng kenalan—, lain cerita dengan zaman digital seperti sekarang.

Jejak yang tertinggal dari polah tingkah pada masa sebelum internet dan media sosial muncul lebih sedikit. Sementara kini, dengan adanya pesan-pesan yang dipertukarkan diam-diam via aplikasi pesan atau private message di media sosial, seseorang lebih mudah ketahuan menjalin relasi dengan orang lain di luar pacar atau suami/istrinya.

Perkara Kejujuran dan Kesepakatan

Microcheating ini hanya satu dari sekian banyak ide tentang bentuk-bentuk perselingkuhan. Tidak semuanya sepakat bahwa interaksi-interaksi sederhana tanpa intensi emosional dikatakan sebagai selingkuh. Ada yang memandang, pasangan baru dianggap selingkuh saat tidur dengan orang lain. Ada pula yang tidak masalah bila pasangan tidur dengan orang lain, asal jangan main perasaan dengan pihak ketiga tersebut. Lepas dari urusan ranjang, seseorang bisa pula dianggap selingkuh bila menyembunyikan kondisi finansialnya dari sang pasangan.


Variasi definisi selingkuh ini berasal dari kesepakatan di awal relasi para pasangan. Tia (23) misalnya, mengaku selalu membicarakan hal-hal yang dia sukai dan tidak dalam berelasi, serta apa saja yang boleh dan tidak boleh diterabas oleh pasangannya dalam konteks perselingkuhan. Dengan demikian, ia akan dengan mudah menuding pasangannya berkhianat bila suatu hari kedapatan melakukan hal di luar kesepakatan.

Lain kisah dengan Satria (29). Ia tidak pernah menetapkan suatu kesepakatan tertentu di awal hubungan dengan asumsi pasangan akan tahu hal-hal apa saja yang akan menyakiti dirinya dan apa yang tidak. Seperti ada "norma pacaran" yang universal dipahami setiap orang dan sebisa mungkin dijunjung, padahal kenyataannya, asumsi dan hal-hal lain yang tidak dikomunikasikan ini yang sering kali jadi bom waktu dalam relasi.

Gagasan microcheating yang oleh sebagian orang dianggap berlebihan karena membatasi interaksi dengan orang di luar pasangan adalah wujud dari komunikasi tak baik antarpihak yang berelasi. Berlaku diam-diam agar tidak ketahuan pasangan adalah sinyal ketidakjujuran yang akhirnya bisa menjadi bahan cekcok. Namun, apakah semua hal mesti diketahui oleh pasangan?

Formula Kedekatan dan Jarak

Dalam sebuah video bertajuk “Why People Have Affairs” yang dipublikasikan The School of Life dinyatakan, ketika berelasi, dua pihak meracik dua bahan utama: kedekatan dan jarak. Di satu sisi, seseorang pasti butuh untuk dekat dan melakukan aktivitas bersama pasangan. Namun di lain sisi, ia juga memerlukan ruang personal tempat ia bebas melakukan hal yang ia suka dan menjadi dirinya sendiri.

Terkait dengan ruang personal ini, ada hal-hal yang tidak dibagikan ke pasangan karena seseorang tetap membutuhkan privasi. Dalam relasi sehat di mana kepercayaan terbangun kokoh, tidak mesti 24 jam 7 hari seminggu seseorang melapor ke pasangannya dan menceritakan segala detail aktivitasnya. Akan tetapi, biarpun ia memiliki privasi, bukan berarti hal-hal yang tidak dibagikan kepada pasangan termasuk hal-hal yang memang diketahuinya akan membuat pasangan kecewa dan sakit hati atau bertentangan dengan kesepakatan di awal.

Kembali kepada formula relasi, kelebihan salah satu bahan utama akan membuat relasi menjadi tak sehat. Terlalu dekat sampai ke mana-mana harus berdua akan membuat seseorang merasa begitu terisap oleh pasangannya. Ia akan letih secara emosional sampai akhirnya berusaha kabur dari situasi tersebut, salah satunya dengan bertemu dan berinteraksi dengan orang lain. Sebaliknya, bila seseorang merasa sulit sekali menjangkau pasangannya, ia pun akan mencari pemenuhan kebutuhannya—entah emosional atau fisik—di luar relasi.

Acap kali, seseorang disebut terlalu bergantung lantaran begitu sering meminta bertemu atau mengontak pasangannya. Begitu pun dengan yang senang mengambil jarak, sering pula disebut dingin. Terkait intensitas pertemuan, psikolog klinis Judye Hess, Ph.D. mengungkapkan, bila seseorang memutuskan menarik diri dari pasangan atau justru menempel tiada henti tanpa membicarakan seberapa sering ia butuh bertemu, pasangannya akan merasa ditolak, bersalah, terkungkung, atau tidak dipedulikan.

Perasaan-perasaan negatif seperti ini yang pada akhirnya bisa mendorong orang untuk berselingkuh. The School of Life mencatat, bukan berarti saat melakukan perselingkuhan ini seseorang tak cinta lagi kepada pasangannya. Justru hal ini dilakukan dalam rangka cinta. Pasalnya, untuk bisa mencintai dan melanjutkan relasi dengan pasangannya, seseorang perlu memastikan dirinya telah terpenuhi kebutuhannya. Dalam konteks perselingkuhan, sayangnya hal ini dipenuhi oleh pihak ketiga.



Relasi Romantis yang (Kadang) Problematis

Definisi selingkuh yang terlalu mencekik bisa datang dari gagasan-gagasan ideal soal relasi romantis. Terima kasih kepada film drama berujung bahagia, dongeng-dongeng para putri, serta buku-buku kisah cinta, sebagian orang jadi menggantungkan harapan kehidupan asmaranya ke angkasa.

Alain de Botton, penulis buku The Course of Love, punya pemikiran lain mengapa orang bisa begitu terobsesi dengan relasi romantis yang "ideal". Ia menarik jauh ke belakang, yaitu pada era Romantisisme sekitar abad 18. Kala itu, karya-karya seni dan pemikiran yang berkembang mengedepankan kisah-kisah heroik dan menggugah hati.

Lebih jauh de Botton menjelaskan dalam artikel bertajuk “How Romantic Ideas Destroy Your Chance at Love” di Time, ada sejumlah karakteristik dari romantisisme: begitu percaya dan berharap pada perkawinan, meleburkan cinta dan seks, cinta sejati bisa mengakhiri kesendirian, memilih pasangan berarti membiarkan diri dipandu oleh perasaan alih-alih alasan logis dan pragmatis, membenci hal-hal yang diukur dari materi, dan menerima sebagaimana adanya pasangan.



Karakteristik-karakteristik macam ini menyusup dalam beraneka praktik budaya dan norma.“Ini [romantisisme] mengajarkan kita apa yang bernilai, bagaimana menghadapi konflik, kepada apa kita merasa senang, kapan harus menoleransi, dan hal-hal apa yang sepantasnya membuat kita marah,” tulis de Botton.

Gagasan ideal relasi seperti era Romantisisme ini bisa berdampak buruk karena menjauhkan orang dari sikap realistis. Di samping itu, pakem-pakem normatif yang diterapkan ke semua orang akan menjadi kekangan kala sebagian pihak merasa hal tersebut tidak pas dengan keyakinannya. Saat norma dalam kerangka romantisisme melarang seseorang untuk tidur dengan orang yang bukan pasangannya, sementara orang tersebut percaya relasi terbaik baginya adalah poliamori, ia akan mendapat tekanan sosial besar untuk bisa menyatakan gagasannya ini di muka umum, apalagi bila kedapatan mempraktikkannya.


Perkara cinta adalah perkara yang cair dan kompleks. Sebagian orang boleh jadi merasa tak keberatan batasan-batasan selingkuh seperti microcheating diterapkan kepadanya. Namun bagi sebagian lainnya, hal ini tidak ubahnya kacamata dan kekang kuda yang membuat ruang geraknya sebagai makhluk individual terbatasi. Ujung-ujungnya, bisa menimbulkan ketidakpuasan hingga relasi kandas kemudian.

Baca juga artikel terkait CINTA atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight