Menuju konten utama

Sekolah Lansia Jakarta: Hapus Stigma Orang Tua Tak Berdaya

Sekolah lansia mengusung konsep SMART dalam 7 dimensi lansia tangguh, yaitu spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, vokasional, dan lingkungan.

Sekolah Lansia Jakarta: Hapus Stigma Orang Tua Tak Berdaya
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, menghadiri Wisuda Akbar Sekolah Lansia Senior School Pintar (SPP) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada Kamis (18/9). FOTO/Humas Pemprov DKI Jakarta
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemandangan luar biasa terlihat di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, pada Kamis (18/9/2025). Sebanyak 1.618 lansia antusias mengikuti acara wisuda yang digelar Sekolah Lansia Senior School Pintar (SSP). Mereka dinyatakan lulus setelah mengikuti proses belajar selama 10 bulan.

Sekolah Lansia SSP, yang terletak di Kota Jakarta Timur, merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, akademisi, masyarakat, dan media. Di sana, ribuan lansia belajar mengenai pengetahuan literasi digital, pola hidup sehat, pengembangan minat bakat, kesenian, dan olahraga.

Dari sisi materi, kurikulum pembelajaran disusun oleh tim akademisi dari Universitas Respati Indonesia (URINDO). Metode pembelajaran diberikan oleh kader PKK serta pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak/RPTRA dan disampaikan secara hybrid alias tatap muka dan digital.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, mengaku bangga dan bahagia dapat menghadiri langsung wisuda sekolah lansia. Ia pun meminta jajaran Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) untuk mengembangkan sekolah lansia agar bisa diikuti lebih banyak peserta.

“Menurut saya, bukan ijazahnya yang utama, melainkan prosesnya. Di sini, para lansia memiliki ruang untuk bertemu, berkumpul, berinteraksi, menjaga kebahagiaan, serta saling bertukar informasi. Apalagi, kini ada ‘Pasukan Putih’ yang juga bertugas melayani lansia. Mudah-mudahan ini dapat meringankan kehidupan mereka,” kata Pramono dalam keterangan tertulisnya.

Wisuda Akbar Sekolah Lansia Senior School Pintar

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, menghadiri Wisuda Akbar Sekolah Lansia Senior School Pintar (SPP) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada Kamis (18/9). FOTO/Humas Pemprov DKI Jakarta

Proporsi penduduk senior di Indonesia, khususnya di Jakarta, memang tidak sedikit. Merujuk pada data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta, per semester I tahun 2025, jumlah lansia tercatat sebanyak 1.167.038 jiwa alias sekitar 10,6 persen dari total penduduk ibu kota. Dari angka itu, jumlah lansia perempuan sedikit lebih banyak, yakni 624.021 jiwa (53,5 persen), sementara lansia laki-laki mencapai 543.017 jiwa atau 46,5 persen.

Di Jakarta, sekolah lansia tidak hanya SSP. Total ada 10 sekolah lansia, yakni satu sekolah di Kabupaten Pulau Seribu, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Barat, serta tiga di Jakarta Selatan dan tiga lainnya di Jakarta Timur.

Kepala Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, mengatakan, pada periode 2022-2024 jumlah peserta tercatat 575 siswa. Pada tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 2.211 siswa di seluruh DKI Jakarta.

Sekolah lansia adalah bagian dari program Bina Keluarga Lansia, yang merupakan pendidikan nonformal berbasis masyarakat. Program ini menjadi wadah bagi lansia untuk berkumpul, belajar, dan beraktivitas sosial, sehingga kualitas hidup mereka meningkat.

Sekolah lansia berbeda dengan program pemberdayaan lansia pada umumnya. Jika program lansia kebanyakan berfokus pada kegiatan sosial, rekreasional, atau peningkatan keterampilan, sekolah lansia memberikan pendidikan nonformal dengan kurikulum dan capaian pembelajaran yang jelas.

Sekolah lansia memperkenalkan konsep SMART dalam tujuh dimensi lansia tangguh, yaitu spiritual, fisik, emosional, intelektual, sosial, vokasional, dan lingkungan. Dengan kata lain, lansia tak hanya menjadi penerima bantuan, tetapi juga subjek pembangunan yang mampu berkontribusi bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat. Hal itu bisa mencegah ketergantungan di hari tua serta memperpanjang masa produktifnya.

Wisuda Akbar Sekolah Lansia Senior School Pintar

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, didampingi Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta, Iin Mutmainnah, menghadiri Wisuda Akbar Sekolah Lansia Senior School Pintar (SPP) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), pada Kamis (18/9). FOTO/Humas Pemprov DKI Jakarta

"Sekolah lansia menargetkan profil lulusan lansia SMART dan bermartabat dengan mengacu pada tujuh Dimensi Lansia Tangguh, sebagai dasar proses dan ukuran keberhasilan program tersebut. Dengan begitu, sekolah lansia tidak hanya memberdayakan, tetapi juga mendidik lansia agar dapat benar-benar tangguh dan sejahtera sepanjang hayat," tutur Iin kepada Tirto, Kamis (2/10/2025).

Dalam pelaksanaannya, sekolah lansia bukan tanpa tantangan. Iin mengatakan, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti dana dan sarana prasarana pembelajaran yang terbatas. Tantangan lainnya adalah variasi dari kondisi kesehatan lansia, serta terbatasnya jumlah fasilitator dan tenaga pengajar yang berkompeten.

"Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang adaptif agar semua lansia dapat mengikuti proses belajar dengan baik," pungkas Iin.

Lansia Harus Diberi Ruang Sosial-Ekonomi

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, menilai sekolah lansia bisa menghilangkan kesan bahwa kelompok senior “terbuang” secara sosial. Sekolah lansia membuat mereka jadi merasa diperhatikan dan punya ruang untuk berinteraksi.

Menurut Rissalwan, kebutuhan mendasar lansia adalah berinteraksi dengan keluarga. Artinya, sekolah lansia tak boleh mengesampingkan dan mengabaikan interaksi para lansia dengan keluarga inti atau kerabatnya.

“Jadi, positifnya [sekolah lansia] adalah ini suatu fenomena perkotaan. Mungkin para lansia ini udah mempersiapkan dirinya. Dia punya tabungan untuk hari tuanya, dia cuma butuh kumpul-kumpul. Dia cuma butuh ada aktivitas, mungkin jalan-jalan gitu,” ujar Rissalwan saat dihubungi jurnalis Tirto, Rabu (1/10/2025).

Dia mengamini soal masalah psikologis dan menurunnya kesehatan di kalangan lansia. Sekolah lansia semestinya bisa menjawab permasalahan tersebut sekaligus dengan menitikberatkan kurikulum pada pembekalan kemandirian.

“Jadi, sekiranya fungsi sekolah lansia yang paling penting menurut saya adalah membekali tentang [kemandirian] itu tadi. [Karena lansia] ada kondisi paliatif. Kondisi paliatif itu artinya kondisi yang menurun terus, [kesehatan] dia nggak akan bisa naik lagi,” sambung Rissalwan.

Lebih jauh, ia menilai sekolah lansia bisa membuat para senior menikmati hari tua dengan lebih layak. Dengan kata lain, ketika lansia tak lagi produktif, mereka tetap punya beragam aktivitas positif.

Selain memfasilitasi sekolah lansia, negara juga harus bisa menyediakan lowongan pekerjaan untuk mereka. Pemerintah yang bergerak pun tak hanya di level daerah, melainkan di level pusat atau nasional.

“Kalau sekarang kan lowongan kerja usia maksimal sekian gitu, jarang sekali bisa ketemu lowongan khusus untuk usia 60 tahun ke atas. Kalau di Singapura saya yakin itu banyak banget,” ujar Rissalwan.

Baca juga artikel terkait LANSIA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - News Plus
Reporter: Fina Nailur Rohmah
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty