Periksa Data

Sejauh Apa Progres Vaksin Corona di Berbagai Belahan Dunia?

Oleh: Hanif Gusman - 24 Juli 2020
Dibaca Normal 2 menit
Tim Riset FK Unpad menolak permintaan Presiden Jokowi agar kandidat vaksin yang saat ini diuji klinis dapat diselesaikan dan tersedia dalam tiga bulan. Apa saja tahap uji coba vaksin sebelum dapat diedarkan?
tirto.id - Ilmuwan dan para ahli di berbagai negara mulai bergerak maju dalam pengujian vaksin untuk COVID-19 yang disebabkan virus SARS-CoV-2. Indonesia termasuk salah satunya. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian BUMN menunjuk perusahaan farmasi pelat merah PT Bio Farma Indonesia untuk bekerja sama dengan Sinovac Biotech Ltd dalam memproduksi vaksin tersebut.

Sinovac Biotech Ltd merupakan perusahaan farmasi asal China yang berfokus pada penelitian, pengembangan, pembuatan, dan komersialisasi vaksin yang melindungi terhadap penyakit menular manusia. Beberapa produk vaksin dari perusahaan yang berbasis di Beijing tersebut termasuk Healive, Bilive, dan Anflu.

Bio Farma akan melakukan uji klinis terhadap kandidat vaksin tersebut di dalam negeri. Uji klinis dilakukan terhadap 1.620 sampel orang dengan rentang usia 18-59 tahun. Dalam uji coba tersebut, Bio Farma bekerja sama dengan Tim Riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) dan Balitbang Kementerian Kesehatan.

Pada Selasa (21/7/2020), Presiden Joko Widodo menerima Tim Riset FK Unpad di Istana Kepresidenan, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi meminta agar kandidat vaksin yang saat ini dalam tahap uji klinis tersebut dapat diselesaikan dan tersedia dalam tiga bulan.

Permintaan presiden itu ditolak Tim Riset FK Unpad. Ketua Tim Riset Kusnadi Rusmil menyebut permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena tim riset melakukan uji klinis kandidat vaksin dengan sangat hati-hati. "Kami bilang enggak bisa tiga bulan. Karena kita harus melakukan dengan hati-hati dan dengan benar," kata Kusnandi dalam jumpa pers usai pertemuan, dilansir Kompas.com.

Kusnandi menyebut pihaknya tidak akan terburu-buru dan berhati-hati karena sudah ada tata cara yang diatur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam melakukan uji klinis. Lalu, apa saja tahap yang dilalui dalam produksi vaksin corona? Sejauh apa progres vaksin yang dikembangkan Sinovac dan kandidat vaksin lainnya di dunia?

Catatan singkat, hingga 22 Juli 2020, jumlah kasus positif COVID-19 di dunia mencapai 14.765.256 kasus dengan 612.054 kasus kematian berdasarkan catatan dari World Health Organization (WHO). Benua Amerika tercatat sebagai wilayah dengan kasus baru harian terbanyak dengan 7,81 juta kasus. Kasus baru harian per 22 Juli paling sedikit ditemukan di wilayah Pasifik Barat dengan 269.594 kasus.

Kasus baru harian di kawasan Asia Timur-Selatan, sementara itu, tercatat sebanyak 1,52 juta kasus. Negara-negara yang masuk di kawasan ini adalah sebagian negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan beberapa negara lain seperti India, hingga Nepal.

Di sisi lain, para ilmuwan dan ahli di seluruh dunia sudah mulai mengembangkan vaksin untuk virus corona. Kandidat vaksin tersebut mesti melalui berbagai tahap sebelum mendapat lisensi produksi dan bisa diedarkan.


Empat Tahap Uji Vaksin

WHO menyatakan setidaknya ada empat tahapan dalam pengujian vaksin corona. Pengujian vaksin tersebut diawali dengan tahapan pra-klinis atau pengembangan awal. Pada tahap ini, vaksin diujikan kepada hewan untuk melihat apakah vaksin itu dapat memicu respons kekebalan.

Setelah lolos tahap pra-klinis, vaksin memasuki uji klinis yang terdiri atas tiga fase. Pada fase I, vaksin diujikan terhadap sekelompok kecil orang untuk menentukan toleransi dan keamanan klinis dari vaksin.

Ketika studi pada fase I berhasil, maka dilanjutkan dengan fase II. Pada fase ini, jumlah orang yang terlibat sebagai sampel akan lebih besar. Fase ini bertujuan untuk menentukan dosis yang optimal dan mempelajari keamanan klinis lebih mendalam.

Uji klinis akan berlanjut pada fase III. Pada fase ini, vaksin diujikan kepada jumlah sampel yang lebih besar, bisa mencapai ribuan orang untuk memastikan keamanan klinis dan kemanjuran vaksin tersebut. Kandidat vaksin baru akan mendapat persetujuan dan mendapatkan lisensi untuk diproduksi setelah berhasil melewati tiga fase uji klinis tersebut. Namun, keseluruhan tahap tersebut membutuhkan waktu yang tidak sedikit.


Progres Uji Coba

Dalam laporan R&D Blueprint berjudul "Draft landscape of COVID-19 candidate vaccines," WHO mencatat per 21 Juli 2020 sudah ada 24 kandidat vaksin yang masuk ke dalam tahap uji klinis, salah satunya buatan Sinovac. Kandidat vaksin buatan Sinovac merupakan vaksin dengan tipe platform inactivated + alum.

Vaksin ini akan mulai memasuki tahap uji klinis fase ketiga pada Juli 2020 dan studi diperkirakan selesai pada Oktober 2021. Vaksin ini akan diujikan kepada 8.870 sampel orang berusia 18-59 tahun termasuk di Indonesia. Di Indonesia, vaksin akan diujikan kepada 1.620 sampel orang.

Selain vaksin Sinovac, tiga kandidat vaksin lainnya juga tercatat memasuki uji klinis fase ketiga. Kandidat vaksin tersebut diantaranya dikembangkan oleh dua developer asal China: Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm dan Beijing Institute of Biological Products/Sinopharm.

Kandidat vaksin yang dikembangkan University of Oxford/AstraZeneca juga sudah memasuki tahap ketiga. Vaksin dengan nama ChAdOx1 nCoV-19 tersebut akan diujikan kepada 2.000 sampel orang berusia 18-55 tahun dan diharapkan selesai pada Juli 2021.


Selain empat kandidat vaksin tersebut, tiga kandidat vaksin sudah berada di tahap uji klinis fase II, sembilan kandidat vaksin di uji klinis fase I/II, dan delapan kandidat vaksin lainnya berada di uji klinis fase I. WHO juga mencatat sebanyak 142 kandidat vaksin dari berbagai pengembang masih berada pada tahap pengembangan awal atau uji pra-klinis.

Menurut WHO, penggunaan vaksin mampu menyelamatkan 2-3 juta jiwa setiap tahunnya, namun 1,5 juta jiwa kematian lainnya dapat dihindari jika vaksinasi dilakukan secara global. Elissa Prichep, Project Lead Precision Medicine di World Economic Forum mengingatkan, vaksin corona memang sangat dibutuhkan saat ini. Namun, pengembangan vaksin untuk pandemi saat ini baru akan selesai setidaknya 12 hingga 18 bulan lagi.


=====

Kami melakukan sedikit koreksi pada bagian jumlah kasus COVID-19 per tanggal 22 Juli 2020. Kami melakukan penerjemahan yang kurang akurat terkait klasifikasi dan istilah "South-East Asia" dari laporan WHO. Atas kekeliruan ini kami memohon maaf.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Hanif Gusman
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight