22 Desember 1960

Sejarah Kowad: Tetap Lahir Meski Tak Disambut Hangat

Oleh: Petrik Matanasi - 22 Desember 2018
Dibaca Normal 2 menit
Ada yang menganggap kehadiran tentara wanita belum dibutuhkan.
tirto.id - Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) TNI dibangun ketika Sukarno melancarkan kampanye operasi Trikora. Melalui operasi ini, pemerintah menarik Papua bagian barat menjadi bagian republik. Salah satu penerjun dalam operasi tersebut ialah Herlina Kasim, calon perwira di Kowad yang punya julukan "Si Pending Emas."

Kowad sendiri sejak awal menerima calon bintara dan perwira. Para gadis yang mendaftar kebanyakan adalah lulusan SMA. Sebelum diterima di Kowad, mereka dilatih terlebih dahulu di Pusat Pendidikan Kowad (Puskowad) yang terletak di daerah Pasirjati, Bandung.


Ide Soemarno Sosroatmodjo

Soemarno Sosroatmodjo merupakan dokter yang terjebak masuk ke militer akibat meletusnya Revolusi Kemerdekaan. Sebagai dokter, dia praktis menjadi perwira dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Jabatan yang pernah dipegangnya, seperti dicatat Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989: 267), antara lain: Kepala Biro Kesehatan Angkatan Darat (1948), Kepala Pendidikan Kesehatan Angkatan Darat (1957), dan Asisten III/Personalia KSAD, ketika jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) dipegang Jenderal Abdul Haris Nasution.

Dalam perjalanannya di militer, pria lulusan sekolah kedokteran Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) ini tercatat pernah menggugat tidak adilnya pembagian gaji antara pegawai sipil dan tentara di rumah sakit tentara.

“Pegawai wanita menerima gaji lebih sedikit,” aku Soemarno dalam Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya (1981: 334). Akan tetapi, protes Soemarno tidak digubris. Militer tetap beranggapan: pegawai sipil tak bisa ikut berperang.

Jawaban itu membikin Soemarno kecewa. Bagi Soemarno, gaji sedikit yang diterima perempuan tidaklah bisa diterima. Soemarno beralasan, perempuan punya kontribusi besar dalam Perang Kemerdekaan. Ia sendiri pernah ditolong perempuan buta saat perang gerilya melawan penjajah.

Soemarno juga beralasan, di luar negeri, perempuan yang berkarier di militer begitu dihormati. Hal ini ia lihat sendiri kala berkunjung ke sidang Palang Merah Internasional yang diadakan di Kanada pada 1952. Saat itu, Soemarno menyaksikan tentara laki-laki memberi hormat kepada Kepala Perawat militer AS yang dijabat seorang perempuan.

“Seandainya ada wanita militer negara asing yang berkunjung ke Indonesia, apakah akan dilayani oleh tentara pria kita?” tanya Soemarno dalam autobiografinya.

Dari situ, Soemarno berpendapat sudah saatnya TNI memiliki unit kesatuan khusus perempuan.

Lagi-lagi, keinginan Soemarno mendapati ganjalan. Sebagaimana ditulis Dr. Sugihardjo lewat Peranan Wanita dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia: Perkembangan Korps Wanita ABRI tahun 1945-1995: Laporan Penelitian Pengkajian dan Penelitian Ilmu Pengetahuan Terapan (1998: 12), gagasan tentang tentara wanita “tidak disambut hangat karena kebutuhan tenaga wanita dirasa belum begitu mendesak.”

Berbeda dengan tanggapan tentara laki-laki, gagasan Soemarno disambut terbuka oleh para perempuan. Mereka, masih mengutip catatan Dr. Sugihardjo, menerima gagasan itu dan menyarankan "untuk tidak ditugaskan di bagian tempur serta tetap diperhatikan kodrat maupun sifat kewanitaannya."

Respons kelompok perempuan membikin Soemarno tambah bersemangat. Ia lalu mengajak Kongres Wanita Indonesia (Kowani) membicarakan gagasan ini lebih lanjut. Beberapa pentolan Kowani seperti Jo Abdurachman, Maria Ulfah Sudibio, Eni Karim, dan Armistiani (istri Soemarno) pun dijadikan penasihat.

“Masing-masing diminta nasihatnya. Agar nilai-nilai kewanitaan, adat-istiadat wanita kita yang luhur tetap terjaga, serta adanya kesesuaian tugas-tugas ketentaraan mereka dengan sifat-sifat wanita Indonesia,” terang Soemarno.

Hasil obrolan dengan Kowani kemudian dibawa ke perwakilan KSAD. Soemarno bertemu dengan Ahmad Yani (menjabat Asisten II/Operasi) dan Gatot Subroto (Wakil KSAD). Tak dinyana, dua perwakilan KSAD tersebut antusias dengan ide Soemarno.

“Mulai saja sekarang, Mas. Rencanakan,” kata Yani kepada Soemarno. Senada dengan Yani, Gatot Subroto berkata, "Buat sekarang!"

Dan Jadilah Kowad

Walaupun ditanggapi dengan hangat, ide Soemarno tak langsung terealisasi. Pasalnya, Soemarno tak lagi berkarier di militer. Pada awal 1960-an, kakek dari Bimo Setiawan Almachzumi alias "Bimbim Slank" ini diangkat menjadi Gubernur DKI Jakarta. Meski begitu, gagasan soal tentara wanita tidak surut.

Ihwal ini dibuktikan dengan keluarnya Surat Keputusan Menpangad Nomor Kpts/381/3/1960 tanggal 23 Maret 1960 tentang tim penasihat pembentukan satuan wanita di Angkatan Darat.

Tim ini berisikan Rahayu Paramita Abdul Rahman, selaku ketua, dibantu lima tenaga sipil dari beberapa departemen: D. Bunakim (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bagian Pendidikan Masyarakat), Eni Karim (Departemen Sosial), R. Tambunan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, bagian Kewanitaan), Otti Adam (Direktorat Kesehatan), dan Mulyati (Departemen Pertahanan Keamanan).

Infografik Mozaik Berdirinya Kowad
Infografik Mozaik Berdirinya Kowad

Surat Keputusan Men/Pangad Nomor Kpts-1056/12/1960 tanggal 21 Desember 1960 pada akhirnya mengesahkan pendirian Korps Wanita Angkatan Darat, atau biasa disingkat Kowad. Hari lahirnya kemudian ditetapkan pada 22 Desember 1960, tepat hari ini 58 tahun lalu.

Hari lahir itu, menurut pts-1047/8/1962 tanggal 8 Agustus 1962, ditetapkan setahun berikutnya pada 22 Desember 1961. Tujuannya agar bersamaan dengan perayaan Hari Ibu.

Di masa awal berdiri, jumlah perwira menengah perempuan tak sebanyak sekarang. Ironisnya, komandan Kowad yang pertama bukanlah perempuan, melainkan laki-laki (Kolonel Koen Kamdani).

Seiring waktu, Kowad tak hanya berfokus di bagian kesehatan maupun bagian non-tempur lainnya. Di Kopassus, misalnya, sebagaimana ditulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (2009: 315), anggota Kowad direkrut jadi korps baret merah karena Danjen Kopassus saat itu, Prabowo Subianto, mengeluarkan kebijakan pemekaran.

Baca juga artikel terkait HARI IBU atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani