11 Februari 1945

Sejarah Konferensi Yalta & Betapa Licinnya Stalin Pecundangi Sekutu

Ilustrasi Mozaik Konferensi Yalta. tirto.id/Nauval
Oleh: Indira Ardanareswari - 11 Februari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Stalin diplomat ulung, 'mengadali' Roosevelt dan Churchill.
tirto.id - Perang Dunia II belum resmi berakhir, tetapi para pemimpin Tiga Raksasa Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Uni Soviet) sudah bertemu untuk membicarakan nasib negara-negara Eropa pasca-perang. Sejak Soviet mengungguli Jerman dalam Pertempuran Stalingrad yang disusul keberhasilan invasi Normandia oleh Inggris dan Amerika, Sekutu memang sudah memastikan kemenangan atas Nazi.

Presiden AS Franklin Delano Roosevelt dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill sudah beberapa kali mengadakan pertemuan bilateral semasa perang. Pada 1943, pertemuan serupa kembali digelar di Teheran, Iran, dengan melibatkan Kepala Negara Uni Soviet Josef Stalin. Dua tahun kemudian, ketiganya kembali bertemu dalam konferensi yang diadakan Stalin di Istana Livadia, Kota Yalta, Semenanjung Krimea.

“Mereka bekerja di bawah kesan bahwa hubungan kerja sama akan berlanjut selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun setelah perang. Dengan demikian, mereka bersedia berkompromi,” kata Jost Dülffer, profesor emeritus di Universitas Koln, Jerman.


Konferensi Yalta berlangsung selama delapan hari dan berakhir pada 11 Februari 1945, tepat hari ini 75 tahun silam. Jurnalis asal Inggris, Thomas de Waal, menyebut ada nuansa tragedi Yunani di balik pertemuan para pemenang yang bertabur acara makan malam mewah itu. Lokasi konferensi yang terletak di istana musim panas di atas bukit tepi Laut Hitam membuat mereka nampak seperti para dewa di puncak Gunung Olympus yang setiap titahnya memengaruhi kehidupan jutaan orang.

Menurut de Waal, generasi pemimpin abad ke-20 dari negara-negara Barat cenderung memandang Konferensi Yalta sebagai bentuk pengkhianatan yang dilakukan Roosevelt dan Churchill terhadap Eropa Timur. Tidak sedikit yang menuduh mereka telah kehilangan akal dengan tidak mengikutsertakan Perancis dalam perundingan dan membiarkan Stalin menentukan arah kemenangan Sekutu sehingga melahirkan episode baru konflik global bernama Perang Dingin.

Kerukunan Sementara Para Pemenang

Memasuki Februari 1945, rezim kekuatan Nazi Jerman yang terpusat di Eropa Barat mulai goyah. Pasukan Sekutu sudah merapat di pantai barat laut Perancis sejak beberapa bulan sebelumnya. Di sisi lain Benua Eropa, Tentara Merah Soviet berhasil merebut kembali Polandia yang merupakan tembok pertahanan terkhir Jerman.

Ketika perang besar di Eropa berangsur reda, Presiden Roosevelt menyadari Amerika masih harus menghadapi Kekaisaran Jepang di belahan bumi lain. Demi mengurangi kerugian di pihak AS, Roosevelt membawa permasalahan itu ke atas meja Konferensi Yalta.

Sebagaimana dicatat History.com, di hadapan Stalin, Roosevelt dengan lugas meminta bantuan Soviet dengan imbalan wilayah kekuasaan Jepang di Asia Timur Laut. Roosevelt bahkan tidak berpikir dua kali ketika menerima permintaan Stalin yang menginginkan status quo bagi Republik Rakyat Mongolia sebagai negara pro-Soviet yang merdeka dari China. Semua dilakukan agar Soviet segera bergabung dalam Perang Pasifik.

Sejarawan Serhii Plokhii yang banyak meneliti sejarah Eropa Timur dan Perang Dingin menulis dalam Yalta: The Price of Peace (2010) bahwa Roosevelt jelas sangat terburu-buru saat bernegosiasi dengan Stalin. Ia mendapat banyak tekanan dari pihak militer yang menginginkan agar Soviet segera dilibatkan ke dalam perang di Timur Jauh.

Di saat bersamaan, lanjut Plokhii, Roosevelt sangat ingin memperbaiki hubungan Amerika-Soviet dengan cara berteman dengan Stalin. Roosevelt memandang Konferensi Yalta sebagai cara tercepat baginya menarik perhatian pemimpin tertinggi Partai Komunis Uni Soviet itu.

“Franklin memendam harapan tinggi akan keberhasilan konferensi ini dalam memperkuat hubungan antara dirinya dan Stalin,” tulis Eleanor Roosevelt ketika mengomentari keinginan suaminya berteman dengan Stalin, seperti dikutip Plokhii.

Selain membicarakan kelanjutan Perang Pasifik, Konferensi Yalta banyak membahas masa depan Polandia dan negara-negara Eropa Timur yang kalah perang atau baru dibebaskan dari pendudukan Nazi. Menyambung tuntutan negara demokrasi yang diutarakan Roosevelt dan Churchill, Stalin setuju untuk mengadakan pemilihan umum di negara-negara Eropa Timur.


Meskipun masih enggan melepaskan Polandia dari bawah kekuasaan Soviet, Stalin berjanji kepada Churchill bahwa perwakilan partai politik Polandia di London akan diberikan tempat dalam pemerintahan komunis sementara di Polandia. Churchill menerima baik janji Stalin tersebut. Sejak lama, masalah Polandia memang menjadi perhatian utama pemerintah Inggris.

“Semangat Inggris masih menyala di antara kelas-kelas dan partai-partai, mereka tidak pernah bisa menganggap perang ini berakhir dengan benar kecuali jika Polandia mendapat kedaulatan penuh, kemerdekaan, dan ruang bebas berdasarkan pertemanan dengan Rusia,” kata Churchill, seperti dikutip oleh Diana Preston dalam Eight Days at Yalta (2019).

Preston di buku yang sama mencatat dengan rinci kerukunan yang terjadi di antara Roosevelt, Churchill, dan Stalin. Mereka sering kedapatan saling menyanjung dan bertukar cinderamata di sela pertemuan santai yang menghabiskan bergelas-gelas anggur. Stalin menunjukan diri sebagai tuan rumah yang baik dengan tidak mendominasi kedua tamunya.

Pada jam-jam terakhir konferensi pada hari Sabtu, tanggal 11 Februari 1945, ketiga pemimpin menandatangani Deklarasi Pembebasan Eropa. Isinya menegaskan hak negara-negara yang baru dibebaskan untuk menentukan nasib sendiri secara demokratis. Ketika konferensi akhirnya usai, Roosevelt, dan Churchill berusaha meyakinkan diri untuk mempercayai hasil “pertemanan” dengan pemimpin Soviet.

Stalin Memecah Perang Dingin

Serhii Plokhii menegaskan dalam bukunya bahwa “pertemanan” yang ditawarkan oleh Roosevelt maupun Churchill sangat berbeda dengan apa yang dipahami Stalin. Dalam pertemuan ketika raksasa di Teheran pada bulan November 1943, Stalin pernah berkata dengan muka masam bahwa “pertemanan terbaik adalah yang didasarkan pada kesalahpahaman.”

“Ada banyak kesalahpahaman di Yalta, tidak semuanya dapat diraih untuk kepentingan pertemanan,” tulis Plokhii.

Plokhii juga mengkomentari tawaran Roosevelt yang bermaksud membantu Stalin mengentaskan penderitaan rakyat Soviet. Ia menulis dengan nada pesimis bahwa “dari sudut pandang Stalin, penderitaan rakyatnya tidak sebanding dengan kemenangan model pemerintahan Soviet di seluruh dunia.”

Pada bulan Maret 1945, menjadi jelas bahwa Stalin tidak pernah berusaha menepati janjinya terkait kemerdekaan Polandia. Alih-alih mengizinkan partai politik Polandia mengambil alih pos pemerintahan, Soviet malah membantu menghancurkan setiap oposisi terhadap penguasa komunis yang berbasis di Lublin, Polandia. Tidak sampai dua tahun Polandia sudah resmi berubah menjadi negara satelit Soviet pertama di Eropa Timur.



Stalin barangkali menganggap “pertemanan” yang ditawarkan oleh Roosevelt dan Churchill sekedar tipuan demi menjaga kelangsungan hegemoni AS dan Inggris setelah perang. Melalui Konferensi Yalta, Roosevelt terbukti berhasil mengamankan perjanjian yang melahirkan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Sementara, bagi Churchill, Yalta adalah caranya mempertahankan imperium Kerajaan Inggris di wilayah persemakmuran, khususnya Hong Kong.

Diana Preston dalam artikel “We’re Still Living in Stalin’s World” yang terbit di New York Times menyebut kepribadian dan strategi politik Stalin dalam Konferensi Yalta sebagai yang paling unggul dibandingkan dua lawannya. Roosevelt dan Churchill, kendati sama-sama datang untuk “menaklukan” Stalin, membawa agenda politik yang berbeda. Perbedaan itu menimbulkan keretakan hubungan yang dengan mudah dimanipulasi oleh Stalin.

“Di Yalta, Stalin menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang detail, tekad yang keras dan kemampuan untuk mengenali dan mengeksploitasi kelemahan orang lain,” tulis Preston.

Stalin makin di atas angin ketika menyadari hanya ia satu-satunya pemimpin Tiga Raksasa di Yalta yang tersisa. Sepulang dari Yalta, Roosevelt sudah mulai sakit-sakitan dan meninggal dunia dua bulan kemudian. Pada saat bersamaan, Churchill harus rela kehilangan pengaruhnya untuk sementara waktu lantaran tidak bisa mempertahankan posisinya dalam Pemilu Inggris 1945.

Saat Amerika dan Inggris mengalami transisi kekuasaan, Stalin secara efektif mulai melebarkan pengaruh di sebagian wilayah Jerman dan Eropa Timur. Pada 1946, Churchill menyebut bahwa “tirai besi telah turun di seluruh benua, dari Stettin di Baltik ke Trieste di Laut Adriatik.”

Pidato Churchill itu dianggap sebagai gong pembuka yang mengumumkan awal Perang Dingin.

Baca juga artikel terkait PERANG DUNIA II atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Politik)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Windu Jusuf
DarkLight