Sejarah Hidup Liu Xiaobo, Si Pembangkang yang Tak Pernah Kapok

Oleh: Tony Firman - 13 Januari 2021
Dibaca Normal 4 menit
Liu Xiaobo bergabung ke dalam gerakan mahasiswa prodemokrasi pada musim semi 1989. Tetap kritis meski berkali-kali dijebloskan ke penjara.
tirto.id - Jack Ma, miliarder tersohor pendiri raksasa e-commerce Alibaba Group sedang jadi buah bibir. Beberapa bulan terakhir, dia sama sekali tak terlihat di muka umum. Padahal, aktivitasnya selama ini mudah dilihat dan diikuti publik dunia. Dia adalah tamu reguler Forum Ekonomi Dunia di Davos dan Forum Global Fortune. Dia juga sering tampil nyentrik di acara perusahaannya sendiri, membintangi film kung fu, dan bahkan didapuk Presiden Joko Widodo sebagai penasihat ekonomi.

Spekulasi pun beredar liar. Banyak orang mengaitkan hilangnya miliarder dengan kekayaan mencapai US$35 miliar ini dengan kritiknya terhadap Pemerintah Cina. Pada akhir Oktober 2020, dalam pidatonya di Bund Summit, Shanghai, Jack Ma secara blak-blakan mencibir regulator keuangan negaranya karena dianggap tak berani ambil risiko dan menghambat inovasi. Dia juga menyebut mereka terkungkung mentalitas pegadaian dalam mengawasi sistem keuangan Cina.

Tak lama setelah melontarkan kritik itu, Jack Ma mulai tersandung masalah. Proses Initial public offering (IPO) dari Ant Group, salah satu dinasti bisnis Jack Ma, yang seharusnya memecahkan rekor ditangguhkan oleh bursa saham di Shanghai dan Hong Kong. Jack Ma dan dua eksekutif Ant Group lalu dipanggil dan diinterogasi oleh Pemerintah Cina. Hingga pada akhir Desember, Pemerintah Cina membuka penyelidikan terhadap perusahaan Alibaba atas dugaan antitrust.

Menurut jurnalis keuangan senior CNBC David Faber, Jack Ma bukan hilang atau ditangkap aparat, tapi tidak ingin tampil di publik. Dia kemungkinan besar berada di Hangzhou, tempat kantor pusat Alibaba berada. Kemungkinan lain, Jack Ma sedang diarahkan untuk “tiarap” terlebih dahulu karena tindakan keras regulator Cina.

"Saya pikir dia disuruh untuk diam. Ini adalah situasi yang cukup unik, terlebih karena terkait dengan skala Ant Group dan sensitivitas terhadap regulasi keuangan Cina," kata Duncan Clark, chairman perusahaan konsultan teknologi BDA China.

Kasus semacam itu bukan hal baru di Cina. Beberapa pengusaha Cina lainnya juga pernah bernasib seperti Jack Ma setelah mengkritik Beijing. Konglomerat real estat Ren Zhiqiang pernah menghilang dari publik pada Maret 2020 setelah menuduh pemerintah salah ambil langkah dalam penanganan pandemi COVID-19. Belakangan, dia diketahui dihukum 18 tahun penjara.

Pada 2017, seorang manajer aset bernama Xiao Jianhua diciduk saat berada di sebuah hotel di Hong Kong. Regulator menuduh Xiao dan taipan lainnya menarik calon investor dari pasar saham Cina. Tak tampak lagi di publik, dia kemudian diketahui menjadi tahanan dan sebagian aset perusahaannya disita.

Lebih jauh lagi, berbicara tentang orang-orang yang dibungkam karena mengkritik Pemerintah Cina, nama Liu Xiaobo tidak bisa dikesampingkan. Lui yang meninggal pada 2017 kemarin dihormati sebagai pembangkang yang gigih dan simbol perjuangan kebebasan berbicara.

Usai Musim Semi 1989

Liu Xiaobo adalah kritikus sastra dan profesor yang lahir pada 28 Desember 1955 di Kota Changchun, Provinsi Jilin. Encyclopaedia Britannica mencatat, Liu mulai dikenal sebagai kritikus literatur Cina modern dan intelektual publik sejak sekira 1986. Pada 1988 dia mendapat gelar Ph.D di Beijing Normal University. Dia rutin memberikan kuliah-kuliah umum di universitas di Norwegia dan Amerika Serikat hingga 1989.

Sebenarnya, Liu tidak punya minat serius pada politik dan tampak lebih menikmati kariernya sebagai akademisi. Kehidupannya yang tenang itu berubah usai musim semi 1989, ketika gerakan protes prodemokrasi menguat di Cina. Dia memutuskan pulang dari New York dan kemudian menggabungkan diri dalam gerakan.

“Dia berpikir, ‘di sanalah aku seharusnya berada dan memberikan kontribusiku. Maka pergilah aku ke sana’," kata pakar sastra Cina dari University of California Perry Link, seperti dikutip The Guardian.

Liu segera memainkan peran sentral sebagai penasihat gerakan mahasiswa. Dia ikut mengorganisasi aksi mogok makan selama seminggu di Lapangan Tiananmen. Ketika keadaan mula memanas, dia berhasil mempersuasi para mahasiswa agar meninggalkan Lapangan Tiananmen. Pada 4 Juni 1989, pemerintah mengerahkan pasukan dan tank untuk menghalau demonstran. Banyak dari mereka terselamatkan berkat Liu, tapi ratusan korban jiwa tetap saja jatuh.

Liu sempat bersembunyi setelah insiden itu, tapi kemudian diciduk aparat pada 6 Juni. Dia dipenjara selama 21 bulan karena dianggap berperan dalam kerusuhan yang dilabeli Beijing sebagai tindakan kontra-revolusioner.

Bukannya jera, Liu justru makin mantap mengabdikan hidupnya untuk membela hak-hak sipil dan menyerukan reformasi demokrasi di tanah Cina.


Makin Rajin Mengkritik

Setelah bebas, Liu tak henti mengkritik rezim otoriter Cina. Pada 1995, dia ditahan lagi karena menulis surat terbuka yang menyerukan pemenuhan hak-hak dasar rakyat. Pengadilan Cina menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara dari 1996 sampai 1999. Liu lantas dikirim ke kamp kerja paksa.

Tahun pertama di penjara, Liu menikahi seorang penyair dan seniman bernama Liu Xia. Pesta pernikahan mereka diadakan di kafetaria penjara. Liu tetap melanjutkan aktivismenya setelah bebas, bahkan ketika pihak berwenang tak mengizinkannya mengajar lagi. Buku-buku karyanya juga dilarang di seluruh wilayah hukum Cina.

Dalam artikel “God’s Gift to China” yang terbit di jurnal Index on Censorship (2006), Liu menceritakan bagaimana dia mencoba hidup dari honor menulis. Karena adanya sensor ketat, naskah-naskahnya hanya bisa diterbitkan di luar Cina. Itu pun harus dikirimkan dengan sembunyi-sembunyi.

“Untuk mencegah esai-esaiku diintersep, sering kali aku musti menyeberangi kota dari ujung barat ke ujung timur untuk memberikannya kepada seorang kawan yang memiliki mesin faks,” tulis Liu.

Kerja Liu jadi lebih mudah setelah keluarganya memiliki komputer dan internet mulai masuk Cina pada akhir dekade 1990-an. Tentu saja, dia tak dibiarkan bebas dan sering kali aksesnya diblokir pemerintah. Meski begitu, Liu memuji internet sebagai kanal untuk menyuarakan hak-hak sipil dan memunculkan generasi intelektual baru.

“Sejak Cina memasuki era internet, suara-suara sipil memiliki semacam dukungan teknis yang sulit diblokir sepenuhnya,” tulis Liu.

Pada 2001, Liu membantu pendirian Independent Chinese PEN Center--sebuah organisasi penulis nirlaba dan nonpolitik yang memperjuangkan perlindungan kebebasan berekspresi dan publikasi. Liu sempat menjabat ketuanya selama periode 2003-2007. Selain di Universitas Columbia, dia dosen tamu di Universitas Oslo dan Universitas Hawaii.

Tahun berikutnya, Liu membantu membuat draf manifesto politik bernama Piagam 08. Manifesto ini diilhami oleh Piagam 77 yang diterbitkan oleh para pembangkang Cekoslowakia pada 1977. Inti dari Piagam 08 terbilang garang: mengakhiri sistem pemerintahan satu partai di Cina dan menyerukan reformasi besar-besaran.

Piagam tersebut dilengkapi dengan tanda tangan dukungan lebih dari 300 akademisi, aktivis, pengacara, dan pensiunan pejabat. Sayang sekali, Liu lagi-lagi dicokok polisi dua hari sebelum manifesto itu dirilis ke internet. Dia lalu ditahan selama lebih dari setahun.

Tepat pada Natal 2009, dia dijatuhi hukuman 11 tahun penjara atas dakwaan penghasutan untuk menentang kekuasaan negara.

Inforgafik Liu Xiaobo Sang Pembangkang
Inforgafik Liu Xiaobo Sang Pembangkang. tirto.id/Fuad

Nobel Perdamaian

Atas konsistensi dan kiprahnya yang panjang dalam gerakan prodemokrasi, Liu dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 2010. Dia menjadi warga negara Cina pertama yang mendapatkan pengharagan tersebut. Komite Nobel menggambarkannya sebagai "simbol utama" perjuangan hak asasi manusia di Cina.

Sebaliknya, di mata Beijing, Liu justru didiskreditkan sebagai "tahanan yang berhadapan dengan pihak berwenang dan ditolak oleh masyarakat Cina arus utama". Human Rights Watch turut mengganjarnya dengan Penghargaan Alison Des Forges 2010 berkat komitmennya yang tak kenal takut terhadap kebebasan berekspresi dan berserikat di Cina.

Hadiah Nobel itu membuat Beijing marah besar sehingga lantas melarang Liu dan anggota keluarganya menghadiri upacara penyerahannya. Kursi kosong di penganugerahan Nobel menjadi sorotan. Liu Xia mengatakan, suaminya ingin mempersembahkan penghargaan itu kepada semua orang yang tewas dalam Tragedi Tiananmen 1989.

Gara-gara itu, Liu Xia akhirnya juga kena ciduk dan dijadikan tahanan rumah. Dia diisolasi dari para pendukung dan bahkan keluarganya sendiri. Gerak-geriknya dibatasi tanpa penjelasan dari otoritas.

Pada 2017, Liu yang kesehatannya mulai memburuk dipindahkan dari penjara ke First Hospital di Shenyang. Dia didiagnosis menderita kanker hati stadium akhir. Pemindahan itu memicu protes dari rekan-rekan seperjuangannya lantaran baru dilakukan saat kondisi Liu sudah kritis.

“Jenis kanker stadium akhir ini sangat sulit diobati. Akan lebih mudah jika diketahui lebih cepat,” ujar pengacara Liu Shang Baojun, sebagaimana dikutip The Guardian.

Hu Jia, seorang aktivis dan rekan lama Liu, berkomentar bahwa cara Pemerintah Cina memperlakukan Liu sama saja dengan upaya pembunuhan politik.

"Saya pernah ke penjara di Cina. Perawatan medisnya sangat buruk dan saya yakin para pemimpin Cina mengharapkan hasil ini,” ujar Hu.

Meski kemudian mendapat pembebasan bersyarat karena darurat medis, Liu tetap diawasi ketat selama masa kritis di rumah sakit. Teman-teman aktivisnya dilarang menjenguk. Hanya sekelompok kecil kerabat, termasuk sang istri dan saudara iparnya, yang diizinkan untuk menemuinya. Liu Xiaobo akhirnya wafat pada 13 Juli 2017.

Baca juga artikel terkait LIU XIAOBO atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Tony Firman
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight