tirto.id - Suami-istri berangkat haji bersama sudah biasa. Berangkat haji mengajak anak-anaknya juga sudah banyak. Namun, berangkat haji satu keluarga besar dengan jumlah 42 orang, mungkin tidak pernah terbayangkan. Akan tetapi, pada musim haji 2026 sungguh terjadi.
Cerita tersebut datang dari keluarga besar Bani Sawijaya. Mereka berasal dari Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Sebanyak 42 orang yang berasal dari satu keluarga, menunaikan ibadah haji dan tergabung dalam Kloter 71 Embarkasi SOC.
Subianto, salah satu dari keluarga besar tersebut, mengaku tidak menyangka puluhan anggota keluarganya bisa berangkat ke Tanah Suci pada tahun yang sama. Ia mengatakan, mereka mendaftar haji secara terpisah tanpa perencanaan khusus untuk berangkat bersama.
"Awalnya kami juga heran. Setelah ada pemanggilan dan manasik haji, ternyata banyak sekali keluarga yang masuk dalam daftar keberangkatan tahun ini. Padahal waktu mendaftarnya tidak bersama-sama," kata Subianto, di Madinah, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, sebagian besar anggota keluarga tersebut mendaftar haji pada rentang tahun 2012 hingga 2013. Meski berbeda hari dan bulan pendaftaran, masa tunggu yang hampir sama membuat mereka akhirnya berangkat pada musim haji yang sama.
Seluruh anggota keluarga besar tersebut berprofesi sebagai petani di kawasan dataran tinggi Dieng. Mereka menggantungkan hidup dari sektor pertanian sayuran dan kentang yang menjadi komoditas utama wilayah tersebut.
"Semuanya petani. Tidak ada yang profesinya di luar pertanian. Mayoritas petani kentang dan sayuran," kata Subianto.
Sueny, salah satu anggota keluarga yang lain, mengatakan tradisi keluarga mereka adalah tidak pernah memberi tahu saat mendaftar haji.
"Kami takut dikira sombong atau riya, jadi tidak ada yang ta kalau daftar haji," kata dia.
Keberangkatan haji dalam satu keluarga dengan jumlah yang banyak terjadi pada tahun ini. Tahun sebelumnya hanya sekitar 10 orang yang berangkat.
Desa Karangtengah sendiri tercatat mengirimkan sekitar 53 jemaah haji pada musim haji 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 42 hingga 43 orang masih memiliki hubungan keluarga dalam satu bani.
"Dari 10 RT yang ada di kampung kami, hampir setiap RT ada yang naik haji tahun ini, hanya satu RT yang tidak ada," jelas dia.
Selain kisah kebersamaan keluarga besar, para jemaah asal Dieng juga harus beradaptasi dengan perbedaan cuaca yang sangat kontras. Jika suhu di kawasan Dieng pada musim tertentu bisa mencapai minus 1 hingga minus 2 derajat Celsius, suhu di Makkah saat musim haji tahun ini mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Subianto mengungkapkan bahwa suhu di Makkah berkisar antara 40 hingga 47 derajat Celsius. Meski demikian, dirinya dan rombongan mampu beradaptasi dengan baik.
"Alhamdulillah tidak ada jemaah kami yang mengalami gangguan berarti akibat cuaca. Kami menjaga kesehatan, menggunakan payung saat beraktivitas di luar ruangan, dan memakai sunblock untuk melindungi diri dari panas," kata dia.
Menurut Subianto, tantangan terbesar justru dirasakan saat berjalan dari terminal menuju Masjidil Haram atau ketika berada di area terbuka. Sementara saat berada di hotel maupun di dalam Masjidil Haram, kondisi relatif nyaman karena fasilitas pendingin udara yang memadai.
Kebersamaan puluhan anggota keluarga besar dari Desa Karangtengah ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan kesabaran selama menunggu antrean haji akhirnya membuahkan hasil.
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id
































