tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat tipis ke level Rp16.904 pada perdagangan Kamis (26/3/2026). Rupiah terpantau mengalami apresiasi sebesar 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.911.
Sepanjang hari ini, rupiah bergerak dalam rentang harian antara Rp16.883 hingga Rp16.907 setelah dibuka di level Rp16.891. Sementara sepanjang tahun berjalan (year-to-date), rupiah mencatat pelemahan sekitar 1,34 persen.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melihat pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global yang relatif terkendali. Dari sisi dalam negeri, tekanan yang berasal dari harga energi dinilai belum cukup signifikan untuk mengganggu stabilitas makroekonomi, khususnya postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kondisi tersebut tercermin dari dinamika harga minyak dunia yang, meski mengalami fluktuasi dalam beberapa waktu terakhir, belum berada pada level yang mengkhawatirkan bagi fiskal pemerintah. Dengan demikian, isu pembatasan kuota maupun kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi belum menjadi pertimbangan kebijakan dalam waktu dekat.
"Pergerakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian crude price/ICP) terbaru masih berada di level 74 dolar AS per barel. Angka ini memang sedikit meleset dari asumsi makro APBN yang dipatok pada level 70 dolar AS per barel," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Kamis.
"Namun, selisih 4 dolar AS per barel tersebut dinilai masih sangat terkelola dan tidak menjustifikasi adanya tindakan reaktif dari pemerintah. Perhitungan APBN didasarkan pada rata-rata pergerakan harga sepanjang tahun, bukan lonjakan sesaat," lanjut dia.
Lebih jauh, Ibrahim menilai pengalaman Indonesia dalam menghadapi gejolak harga energi global menjadi faktor penopang kepercayaan pasar. Ia menyinggung beberapa periode krisis, seperti 2008–2009, 2014, dan 2020, ketika harga minyak dunia melonjak tajam dan memicu tekanan terhadap perekonomian global.
Pada krisis 2008-2009, misalnya, harga minyak sempat menyentuh kisaran 130 dolar AS per barel di tengah runtuhnya pasar keuangan Amerika Serikat akibat krisis subprime mortgage. Meski ekonomi global terjerembap ke dalam resesi, Indonesia tetap mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif di kisaran 4,6 persen.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terjaga. "Sehingga Indonesia berhasil menghindari jurang resesi tanpa harus mengambil langkah menaikkan harga BBM subsidi," sebut Ibrahim.
Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah juga dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait dinamika hubungan antara Iran dan Amerika Serikat. Pasar saat ini mencermati sinyal-sinyal diplomatik yang membuka peluang meredanya ketegangan.
"Meskipun Iran belum secara resmi menerima rencana tersebut, mereka belum menolaknya secara langsung, sehingga menimbulkan harapan yang hati-hati akan potensi jalan menuju de-eskalasi," katanya.
"Namun, ketidakpastian tetap tinggi, dengan Iran secara terbuka membantah negosiasi langsung dengan Washington dan menunjukkan bahwa perbedaan utama masih ada," sambung Ibrahim.
Ketidakjelasan arah negosiasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Hal ini turut tercermin pada pergerakan harga minyak yang cenderung melemah pada Kamis, setelah sebelumnya sangat fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir akibat gangguan pasokan dari kawasan Teluk—wilayah krusial bagi distribusi minyak mentah global.
Sebelumnya, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga di atas 119 dolar AS per barel pada awal Maret 2026, dipicu kekhawatiran terhadap potensi gangguan distribusi. Selat Hormuz pun kembali menjadi perhatian utama pasar, mengingat setiap ancaman terhadap jalur tersebut berpotensi mendorong lonjakan harga lebih lanjut.
"Investor juga mengamati dengan cermat sinyal dari Washington, di mana para pejabat telah memperingatkan akan adanya tindakan yang lebih keras jika Iran tidak terlibat secara konstruktif, yang menambah lapisan ketidakpastian lain pada prospek," sebut Ibrahim.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































