tirto.id - Israel kembali melancarkan serangan udara yang menghantam titik distribusi air di Kamp Pengungsi Nuseirat, Gaza Tengah, Minggu (13/7/2025) pagi waktu setempat. Akibat serangan ini, enam anak dan empat orang dewasa tewas.
Diketahui, saat serangan terjadi, para korban tengah mengantre dengan jeriken kosong untuk mengambil air bersih. Kemudian, jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit al-Awda di Nuseirat.
Serangan itu, menurut saksi mata, dilakukan oleh pesawat nirawak (drone) yang menembakkan rudal ke arah kerumunan warga di dekat truk. Namun, Israel mengelak bahwa mereka menyerang masyarakat sipil.
Berdasarkan pernyataan militer Israel, serangan tersebut menargetkan seorang anggota kelompok Jihad Islam, tapi terjadi “kesalahan teknis” yang membuat amunisi jatuh puluhan meter dari sasaran sebenarnya. Militer Israel (IDF) kemudian menyalahkan Hamas atas kematian warga sipil karena militan beroperasi di daerah padat penduduk.
Israel Serang Titik-Titik Distribusi Bantuan
Dilansir dari AP News (16/7/2025), sebagaimana yang dikatakan pihak PBB pada Selasa (15/7/2025), tingkat malnutrisi di antara anak-anak di Jalur Gaza telah berlipat ganda sejak Israel secara tajam membatasi masuknya makanan pada Maret.
Kelaparan pun meningkat di antara lebih dari 2 juta warga Palestina di Gaza sejak Israel melanggar gencatan senjata pada bulan Maret untuk melanjutkan perang dan melarang semua makanan dan pasokan lainnya memasuki Gaza. Serangan itu diakui pihak Israel bertujuan untuk menekan Hamas agar membebeaskan sandera.
Badan utama PBB yang merawat warga Palestina di Gaza, UNRWA, mengatakan telah memeriksa hampir 16.000 anak di bawah usia 5 tahun di kliniknya pada Juni dan menemukan 10,2% dari mereka mengalami malnutrisi akut. Sebelumnya, pada bulan Maret, sebanyak 5,5% dari hampir 15.000 anak yang diperiksanya mengalami malnutrisi.
Hal inilah yang mengakibatkan anak-anak turut mengantre air bersih. Sebagai akibat dari dicegahnya pasokan makanan memasuki Gaza, beberapa waktu terakhir juga terdapat serangan yang memperburuk situasi kemanusiaan di sana.
Misal saja, pejabat kesehatan setempat menyatakan bahwa serangan baru Israel menewaskan lebih dari 90 warga Palestina, termasuk puluhan wanita dan anak-anak.
Sementara itu, baru-baru ini Komite Internasional Palang Merah (ICRC) mengungkapkan, rumah sakit lapangan mereka di Rafah telah menangani lebih banyak kasus korban massal dalam enam minggu terakhir dibandingkan sepanjang 12 bulan sebelumnya.
Rumah sakit tersebut menerima 132 pasien dengan luka akibat senjata pada Sabtu, 12 Juli 2025. Sebanyak 31 di antaranya meninggal dunia.
“Sebagian besar korban mengalami luka tembak,” ujar ICRC. Ini sekaligus menjelaskan bahwa seluruh korban menyatakan, mereka tengah berusaha mengakses bantuan makanan saat insiden terjadi.
Sejak 27 Mei saat titik distribusi makanan baru mulai beroperasi, lebih dari 3.400 pasien luka senjata telah ditangani dan lebih dari 250 kematian tercatat.
“Frekuensi dan skala insiden korban massal ini mencerminkan kondisi mengerikan yang dialami warga sipil di Gaza,” terang ICRC.
Tidak hanya di titik-titik yang dianggap pihak militer Israel meleset—seperti saat mereka ingin memburu Hamas tapi justru mengenai anak-anak yang mengantre air bersih—korban juga berjatuhan di sekitar lokasi bantuan.
Per Sabtu (12/7/2025), Rumah Sakit Nasser di Gaza Selatan juga melaporkan sebanyak 24 kematian di dekat distribusi bantuan. Berdasarkan pernyataan saksi mata, pasukan Israel melepaskan tembakan ke arah warga yang berusaha mendapatkan makanan.
Sayangnya, militer Israel membantah adanya korban dari tembakan pasukannya di lokasi itu. Salah satu pejabat militer justru mengatakan, hanya tembakan peringatanlah yang dilepaskan untuk membubarkan kerumunan yang dinilai mengancam.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Elisabet Murni P
Masuk tirto.id





























