Robert Mugabe: Berawal seperti Sukarno, Berakhir Mirip Soeharto

Infografik Robert Mugabe
Presiden Zimbabwe Robert Mugabe berpidato di sebuah rapat umum di Mubayira, sekitar 120 km selatan Harare, Kamis 13 Maret 2008. AP Photo/Tsvangirayi Mukwazhi
Oleh: Felix Nathaniel - 10 September 2019
Dibaca Normal 4 menit
Mugube mengawal karir politiknya sebagai pemimpin revolusi. Disambut sebagai pahlawan. Di akhir hidupnya, dia terkenal sebagai diktator di mata warga Zimbabwe.
tirto.id - Salah satu lelucon pahit pada awal abad ke-21 adalah betapa kaya rayanya masyarakat Zimbabwe. Saking kayanya, mereka bisa membawa duit segerobak untuk beli sembako. Nominalnya pun tak sembarangan: bisa miliaran hingga triliunan. Satu dolar Amerika Serikat (USD) memang pernah menyentuh angka 35 kuadriliun dolar Zimbabwe (ZMR). Pada 2009, dolar Zimbabwe akhirnya tidak lagi digunakan dan transaksi dalam negeri dilakukan dengan dolar AS.

Akar masalah inflasi muncul ketika Mugabe tidak bisa mengelola negerinya dengan baik selama 37 tahun berkuasa.

Kelangkaan bahan pangan menciptakan pasar gelap yang menjual barang dengan harga yang jauh lebih tinggi. Masyarakat tidak punya pilihan di tengah produksi pangan yang terbatas.

Selain masalah minimnya produksi pangan, sebagaimana ditulis dalam studi Lionel Nkomazana dan Ferdinand Niyimbanira bertajuk "An Overview of the Economic Causes and Effects of Dollarisation: Case of Zimbabwe" (2014), Zimbabwe juga terlilit utang yang luar biasa besar.

Solusi pemerintah: mencetak uang terus-menerus hingga Zimbabwe dilanda hiperinflasi.

“Mengeluarkan uang lebih banyak juga menjadi solusi pemerintah untuk membayar gaji pegawai negeri sipil. Hasilnya, nilai tukar Zimbabwe jatuh,” tulis Nkomazana dan Niyimbanira.

Sejak itulah suara rakyat Zimbabwe menentang Mugabe makin keras terdengar. Padahal, banyak orang menyangka, Mugabe akan menjadi pemimpin yang demokratis, dengan membiarkan orang lain sebagai pemimpin, bukan dirinya sendiri, apalagi selama 37 tahun.

Pemimpin Revolusi, Bukan Pemimpin Pemerintahan

Robert Gabriel Mugabe lahir pada 21 Februari 1924 di Rhodesia Selatan (nama Zimbabwe saat masih dijajah Inggris) dan meninggal di Singapura pada usia 95 tahun. Sebelum jadi orang nomor satu di negerinya, Mugabe adalah seorang revolusioner.

Kolonialisme Inggris di Zimbabwe bermula pada 1888 ketika pengusaha Inggris Cecil John Rhodes mengakali perjanjian dengan penguasa Zimbabwe kala itu, Lobengula. Setahun kemudian, perusahaan Rhodes, British South Africa Company (BSAC), diizinkan mengeksploitasi tanah hingga mendirikan lembaga kepolisian sendiri.

Pada 1930, pemerintah kolonial membatasi kepemilikan tanah orang kulit hitam atau kaum Afrika. Onias Mafa, dkk dalam Gender, Politics and Land Use in Zimbabwe 1980-2012 (2015), mencatat, kaum kulit putih yang diidentikan dengan orang Eropa mendapat bagian 51,1 persen lahan di Zimbabwe. Sedangkan kaum kulit hitam atau penduduk asli hanya mendapat 12 persen lahan untuk dipakai dan diperjualbelikan.

Cerita Mugabe menjadi revolusioner berawal dari karirnya sebagai guru yang menerima beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Universitas Fort Hare Afrika Selatan. Kampus itu terkenal karena menghasilkan lulusan seperti peraih Nobel Desmond Tutu dan mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela.

Layaknya revolusioner Dunia Ketiga saat itu, pemikiran Mugabe terpengaruh oleh tulisan-tulisan pemikir Marxis. Sebagai guru, dia sering mengajar di luar negeri, misalnya di Rhodesia Utara (kini Zambia) pada 1955 dan Ghana pada 1958.

Saat mengajar di Ghana inilah Mugabe berubah. Kala itu Ghana baru merdeka dari Inggris (1957). "Mugabe senang dengan hal itu. Ia menyerap segala ambisi dan ide di sekitarnya," tulis jurnalis dan ahli sejarah Afrika Martin Meredith dalam Mugabe: Power, Plunder, and the Struggle for Zimbabwe's Future (2007).

Pada 1960, Mugabe banting setir dari guru ke aktivis profesional. Saat itu pemerintah Rhodesia Selatan baru saja mengeluarkan Undang-Undang Pemeliharaan Hukum dan Ketertiban. Kebebasan berserikat, berkumpul, dan berekspresi pun dibungkam. Meredith, dalam buku yang sama, mencatatnya sebagai tindakan untuk membendung aksi-aksi protes orang kulit hitam.

Tiga tahun kemudian, Mugabe bergabung dengan Zimbabwe African National Union-Patriotic Front (ZANU-PF) dan menjabat sekretaris umum. ZANU-PF merupakan pecahan dari ZAPU-PF, partai revolusioner pertama Zimbabwe. Dengan landasan Marxisme dan Leninisme ZANU-PF dibentuk untuk memperjuangkan kemerdekaan Rhodesia lewat aksi-aksi jalanan masyarakat miskin.

Setahun berselang, Mugabe yang memang gemar pidato ditahan dengan tuduhan menyebarkan permusuhan terhadap penguasa. Sebagaimana ditulis Andrew Norman, Mugabe menyebut para pejabat Inggris sebagai “koboi”. Istri pertama Mugabe, Sally Hayfron, juga ditahan karena tuduhan yang sama: mengutuk ratu Inggris. "Persetan Ratu Inggris!" kecam Sally.

Meski mendekam di penjara hampir 11 tahun lamanya (hingga 1974), Mugabe tak kehilangan pengaruh.

Melawan Kemerdekaan Sepihak Kulit Putih

Setelah menyatakan kemerdekaan Zimbabwe dari Inggris pada 1965, politisi kulit putih Zimbabwe Ian Smith menjadi perdana menteri Rhodesia (nama Zimbabwe kala itu). Namun, dia ditentang oleh golongan masyarakat kulit hitam yang mendukung Mugabe. Mereka menolak deklarasi Smith yang tidak melibatkan orang kulit hitam secara demokratis. Keputusan Smith, tulis Andrew Norman dalam Robert Mugabe and The Betrayal of Zimbabwe (2004), dinilai telah membawa Zimbabwe ke jurang konflik yang kelak disebut Perang Semak Rhodesia (1964-1979).

Keluar dari penjara, seperti ditulis Jerrold M. Post dalam Narcissism and Politics: Dreams of Glory (2014), Mugabe menentang kepemimpinan Ian Smith. Pidatonya selalu bicara tentang kebebasan pers, kebebasan menyatakan pendapat, dan kesetaraan antar-ras.

Perang Semak Rhodesia baru selesai setelah kubu Mugabe dan Smith meneken Kesepakatan Lancaster House di Inggris pada 1979. Zimbabwe diwakili oleh Mugabe dan Joshua Nkomo, sedangkan pemerintah Zimbabwe Rhodesia diwakili oleh Uskup Abel Muzorewa dan Ian Smith. Perundingan dipimpin oleh Lord Carrington selaku Menteri Luar Negeri dan Urusan Persemakmuran Britania Raya.

Dalam perundingan itu, Mugabe menuduh Lord Carrington pura-pura tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi di Zimbabwe. Oleh sebab itu, Mugabe yang mengatasnamakan Patriotic Front (PF), tidak mau menerima butir-butir perjanjian yang ditawarkan Inggris.

"Ini sampah. Murni sampah. Tak seorang pun bakal teken perjanjian ini," kata Mugabe.

Untungnya, Samora Machel, presiden Mozambik saat itu, berhasil membujuk Mugabe dan PF menandatangani kesepakatan.

Setelah kembali ke tanah air, Mugabe disambut sebagai pahlawan. Pada pemilu 1980, Mugabe menjadi perdana menteri pertama Zimbabwe. Pada tahun yang sama, ia menjadi ketua umum ZANU-PF.

“Kesalahan masa lalu harus dilupakan dan dimaafkan. Jika memang kita melihat ke masa lalu, mari jadikan itu sebagain pelajaran di masa mendatang. Lihatlah penindasan dan rasisme itu sebagai ketidakadilan yang tidak akan pernah ada dia dalam sistem sosial dan politik kita,” kata Mugabe di pidato kemenangannya.

Pada 1987, parlemen Zimbabwe mengamandemen konstitusi dan mengangkat Mugabe sebagai presiden eksekutif. Dia berkuasa penuh atas negara, pemerintahan, dan militer. Inilah tahun di mana dukungan publik terhadap Mugabe mulai tergerus.

Pada tahun yang sama, terungkap peristiwa genosida Gukurahundi yang terjadi sejak 1983. Militer di bawah kekuasaan Mugabe diduga melakukan pembunuhan terhadap suku Ndebele yang mendukung partai oposisi Mugabe, Zimbabwe People African Union (ZAPU).



Tak hanya itu, banyaknya sekolah dan rumah sakit yang mulai rusak dan tidak bisa beroperasi juga mulai menipiskan dukungan terhadap pemerintah.

Tahun 2008 adalah puncak kebrutalan rezim Mugabe. Pemilu di bawah pemerintahan Mugabe saat itu berlangsung secara berdarah-darah. Jurnalis dan aktivis dipenjara, beberapa bahkan dibunuh, sebagaimana dilansir Guardian (September 2019). Korban tewas akibat ZANU-PF dan oposisi sepanjang 2008 mencapai 253 orang. Setahun sebelumnya, Mugabe bahkan menganiaya dan memenjarakan pemimpin partai oposisi, Morgan Tsvangirai. Akibat pemukulan dan pemenjaraan itu, Morgan pun gagal memenangi pemilu 2008 yang kemudian memperpanjang kekuasaan Mugabe.

“Dia memulainya dengan sangat baik, tapi berakhir hina karena menghapus warisannya sendiri dengan menghancurkan ekonomi, kekerasan, dan menunjukkan tendensi kediktatoran,” kata Tsvangirai, pesaing Mugabe pada 2011.

Ilmuwan politik Leslie M. Lipson pernah pernah menyejajarkan Mugabe dengan pejuang kemerdekaan sekaligus presiden pertama Indonesia, Sukarno. Di negara-negara yang baru merdeka, tulisnya, seringkali pemimpin ingin berkuasa penuh selama mungkin seperti Mugabe di Zimbabwe dan Sukarno di Indonesia.

Hidup Mewah

Seperti halnya Sukarno pada 1966, Mugabe dilengserkan melalui kudeta militer pada 2017. Tapi, ada satu di antara banyak hal yang membedakan kedua pemimpin: Mugabe hidup mewah dari kas negara. Dalam hal ini, Mugabe lebih mirip Soeharto, menuduh laporan mendalam Time tentang kekayaannya sebagai fitnah.

Ketika inflasi meroket dan rakyat kekurangan pangan, Mugabe dan keluarganya kenyang makan uang hasil korupsi. Guardian mencatat aset Mugabe mencapai US$ 1 miliar (2017).

Fakta "kemewahan" itu ditampik istri kedua Mugabe, Grace, ketika berkampanye di daerah Mazowe, Harare bagian Utara, Zimbabwe. “Kami diberkati karena kami memiliki Baba Mugabe [pangggilan akrab Robert]. Dia presiden termiskin di dunia ini. Saya belum pernah melihatnya meminta uang dari siapapun”.

Pernyataan Grace disampaikan di hadapan lebih dari 30 vila dan properti pribadinya yang megah dan dibangun dari uang kotor Mugabe serta kroni-kroninya.

Jeffrey Smith, direktur eksekutif kelompok pejuang demokrasi Vanguard Africa, menuturkan kepada Time Money bahwa Robert Mugabe, keluarganya, dan kroni-kroninya merongrong kas negara dan "merampok kekayaan sumber daya alam Zimbabwe yang luar biasa besar untuk memperkaya diri".

Meski sudah lengser, Mugabe ingin keluarganya berkuasa. Dia mendapuk Grace sebagai pemimpin ZANU-PF, partai yang dipimpinnya sejak dulu.

“Solusi terbaik untuk Grace sekarang mungkin menghabiskan harinya di Singapura, di mana Mugabe meninggal, jauh dari orang-orang yang pernah ia coba hancurkan,” tulis CNN.

Baca juga artikel terkait ROBERT MUGABE atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
(tirto.id - Politik)

Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Windu Jusuf
DarkLight