Menuju konten utama

RI Kaya Kelapa, Mengapa Masih Impor Santan dari Singapura?

Kementan gencar dorong hilirisasi kelapa demi nilai tambah. Namun, stagnasi produksi hingga alur distribusi global membuat RI masih terjebak impor santan.

RI Kaya Kelapa, Mengapa Masih Impor Santan dari Singapura?
Petani menata kelapanya untuk dijadikan kopra di Desa Poi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Rabu (8/1/2020). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di tengah ambisi besar pemerintah menggenjot program hilirisasi kelapa nasional, Indonesia justru mencatat lonjakan tajam impor santan dari Singapura. Angkanya, mencapai 27.489 ton sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026.

Paradoks data perdagangan ini dipicu oleh rumitnya pola kontrak distribusi internasional yang mengikat industri pengolahan dalam negeri. Padahal, Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan hilirisasi kelapa hingga 154.000 hektare pada tahun 2026.

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan komoditas kelapa dengan luas areal perkebunan yang mencapai lebih dari 3,3 juta hektare dan produksi kelapa nasional berada di kisaran 2,8 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, sendiri menyampaikan bahwa kelapa merupakan komoditas strategis nasional yang memiliki peran penting dalam mendukung perekonomian rakyat terutama di wilayah pesisir dan pedesaan.

“Pengembangannya harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir, agar memberikan nilai tambah, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Amran dalam keterangannya, dikutip Rabu (2/9/2026).

Tapi tak sesederhana itu sebab pengembangannya masih dihadapkan berbagai tantangan. Seperti produktivitasnya yang cenderung stagnan di kisaran 1,1 ton kopra per hektare per tahun, penurunan produksi dan luas areal, tingginya jumlah tanaman tua dan rusak, keterbatasan benih unggul, rendahnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP), serta panjangnya rantai pasok yang berdampak pada lemahnya posisi tawar petani.

Segala cara dilakukan pemerintah dalam memaksimalkan potensi ini salah satunya lewat program hilirisasi kelapa yang mulai dilaksanakan pada tahun 2025 dengan kegiatan pengembangan seluas 11.515 hektare dan pada 2026 dengan target total 154.000 hektare.

Lewat program ini, Kementan mengharapkan pengembangan berbagai produk turunan kelapa seperti minyak kelapa murni (virgin coconut oil/VCO), santan, gula kelapa, nata de coco, arang dan briket tempurung, cocopeat, serat sabut, hingga produk pangan dan kosmetik berbasis kelapa.

Mengurai Lonjakan Impor Santan Asal Singapura

Pembuatan lemang untuk hidangan buka puasa

Pekerja menuangkan santan ke dalam bambu berisi adonan lemang sebelum dibakar di Jalan Selamat 1, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (4/3/2025).ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom.

Namun ironisnya, upaya tersebut tidak tergambar pada angka yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). BPS mencatatkan lonjakan tajam impor santan dari Singapura yang mencapai 27.489 ton sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026.

Pengiriman dalam jumlah besar mulai terlihat pada paruh kedua 2025. Volume impor santan Indonesia dari Singapura mencapai 4.885 ton pada November. Kemudian melonjak menjadi 11.741 ton pada Desember.

Apabila dilihat dari data itu, laju pengiriman ini menandakan ketergantungan konsisten Indonesia pada pasokan santan Singapura. Padahal dari segi kedudukan wilayahnya Indonesia memiliki garis pantai yang lebih luas dan penghasil kelapa yang lebih banyak dibanding Singapura.

Alur Distribusi Kelapa di Pasar Global

Petani kopra di Pulau Meti Halmahera Utara

Petani mengasapi buah kelapa untuk diolah menjadi kopra di Pulau Meti, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Kamis (30/7/2026). Sebagian warga di pulau tersebut bekerja sebagai petani kelapa dan pengolahan kopra dan dipasarkan ke Tobelo dengan harga Rp12 ribu per kilogram. ANTARAFOTO/Andri Saputra/agr

Melansir data FAOSTAT yang dirangkum Helgi, angka produksi kelapa Singapura ternyata menunjukkan skala yang sangat kecil. Pada 2024, produksi kelapa Singapura tercatat hanya sekitar 112 ton jauh dibandingkan Indonesia. Bahkan, produksi tertingginya bahkan terjadi pada 1968, sekitar 19,8 ribu ton.

Jadi pertanyaannya, mengapa Singapura bisa mengimpor banyak santan sedangkan produksi kelapanya saja jauh di bawah Indonesia?

Apabila ditelisik, melihat kepada data World Integrated Trade Solution (WITS) berbasis UN Comtrade, Singapura ternyata juga mengimpor sekitar 37.260 ton kelapa segar atau kering dari Indonesia dengan nilai sekitar 26,5juta dolar AS. Pada saat yang sama, Singapura tercatat mengimpor kelapa dari sejumlah negara lain, seperti Thailand dan Malaysia.

Namun, Singapura juga tercatat mengekspor kembali komoditas yang sama dalam jumlah puluhan ton ke berbagai negara pada tahun tersebut.

Siasat Kontrak Perusahaan dan Rantai Pasok Industri

NILAI EKSPOR KOPRA NAIK

Pekerja mengupas kelapa untuk dijadikan kopra di Kampung Margaluyu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Jumat (20/7/2018). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi

Pola impor dan ekspor tersebut menunjukkan posisi Singapura dalam perdagangan kelapa layak ditelusuri lebih jauh.

Ketua Harian Himpunan Industri Pengolahan Kelapa Indonesia (HIPKI), Rudy Hadiwidjaja, menduga besarnya angka impor santan dari Singapura yang tercatat BPS lebih berkaitan dengan pola perdagangan yang digunakan perusahaan. Sebab, sejumlah industri pengolahan kelapa di Indonesia memiliki distributor di Singapura.

Akibat adanya perjanjian atau kontrak distribusi ini, produk yang sebenarnya diproduksi oleh industri di Indonesia dapat dipasarkan melalui distributor tersebut sebelum dibeli oleh perusahaan lain.

“Industri pengolahan kelapa kita ada kontrak atau mempunyai distributor di Singapura, sehingga industri-industri yang membutuhkan santan itu belinya akhirnya dari Singapura, enggak bisa kita langsung,” ujarnya dihubungi Tirto, Rabu.

Kondisi tersebut berbeda dengan anggapan bahwa Indonesia tidak memiliki kapasitas produksi santan. Menurut dia, industri dalam negeri sudah mampu menghasilkan berbagai produk turunan kelapa, mulai dari santan hingga air kelapa dan karbon aktif.

Untuk menggambarkan pola perdagangan tersebut, ia memberikan contoh industri nanas dalam kaleng yang meski produk tersebut diproduksi di Indonesia, perusahaan seperti jaringan restoran di Indonesia dapat membeli produk tersebut melalui distributor yang berada di Singapura.

Tetapi, pencatatan BPS yang menunjukkan santan berasal dari Singapura sebenarnya tidak keliru secara administratif. Namun data tersebut perlu dibaca bersama dengan pola perdagangan dan rantai distribusi yang digunakan perusahaan.

Unjuk Gigi Ekspor Santan Lokal ke Pasar Internasional

Indonesia mampu mengolah kelapa menjadi santan bukan sekadar klaim pelaku industri. Sejak 2019 PT Sari Segar Husada di Lampung tercatat mengekspor santan kelapa ke Singapura, Kroasia, dan Tanzania. Saat itu, perusahaan tersebut mengolah kelapa segar menjadi santan sebelum diekspor.

Di Sumatera Selatan, misalnya, santan kelapa beku juga tercatat telah menembus pasar China dan Hong Kong. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Sumatera Selatan mencatat sepanjang 2024 terdapat 1.129 ton santan beku yang difasilitasi untuk diekspor ke kedua negara tersebut. Nilai ekonominya mencapai Rp27,11 miliar.

Tren tersebut masih berlanjut pada 2025. Hingga Juli 2025, volume ekspor santan beku dari Sumatera Selatan telah mencapai 212 ton dengan nilai Rp5,87 miliar. BKHIT Sumatera Selatan bahkan memproyeksikan ekspor tersebut masih dapat meningkat seiring permintaan pasar global terhadap produk olahan kelapa.

Tantangan Bahan Baku demi Keberlanjutan Industri Kelapa

Target pengembangan kawasan hilirisasi kelapa nasional

Pekerja mengupas kulit kelapa di tempat pengolahan kelapa Tungkal Ilir, Tanjung Jabung Barat, Jambi, Senin (27/4/2026). ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/agr

Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Umar Santoso, mengatakan teknologi pengolahan kelapa sejatinya memang sudah tersedia. Tetapi, hilirisasi menjadi pekerjaan rumah penting karena permintaan global terhadap produk turunan kelapa, termasuk santan dan minyak kelapa murni atau VCO, terus meningkat.

Nilai ekspor kelapa juga tidak boleh berhenti pada daging kelapa. Air kelapa, sabut, tempurung, hingga kulit ari dapat diolah menjadi produk lain.

Selain itu tantangan penting yang perlu diantisipasi adalah keberlanjutan bahan baku. Tingginya permintaan domestik terhadap kelapa segar dan santan juga berpotensi bersaing dengan kebutuhan industri dan ekspor. Karena itu, peningkatan produksi melalui budidaya dan program peremajaan tanaman menjadi penting untuk menjaga pasokan dalam jangka panjang.

“Potensinya yang sangat besar. Pohon kelapa dijuluki The Tree of Life, semua bagian dari pohon dapat dimanfaatkan,” kata Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM, dalam keterangannya dikutip, Rabu (2/9/2026)

Baca juga artikel terkait SANTAN atau tulisan lainnya dari Rahma Dwi Safitri

tirto.id - News Plus
Reporter: Rahma Dwi Safitri
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah