Rhoma Irama, Sang Raja yang Tak Tergantikan

Penyanyi dangdut Rhoma Irama. Tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Petrik Matanasi - 26 Maret 2017
Dibaca Normal 3 menit
Dalam sejarah musik dangdut Indonesia, belum ada orang yang mampu menggeser Rhoma Irama sebagai Raja Dangdut. Dia juga yang membuat dangdut punya tempat di blantika musik Indonesia. Popularitasnya juga sampai ke dunia politik.
Cukup lama musik dangdut dianggap sebagai musik kampungan. Denny Sakrie, dalam buku 100 Tahun Masuk Indonesia (2015), mencatat bahkan dangdut disetarakan oleh sebagian kalangan yang benci dengan hal yang kotor di awal-awal kepopulerannya.

Menurut Richard Gehr, dalam tulisannya Dawn of Dangdut (1991), musik dangdut dipengaruhi musik-musik India, yang masuk ke Indonesia bersama dengan film-film Bollywood. Sebagian orang tua ingat Ellya Khadam yang kondang dengan lagu "Boneka India", yang nuansa India-nya begitu kentara. Penggunaan tabla menjadi contoh kuatnya pengaruh India saat itu.

Lalu pengaruh Arab memperkaya dangdut dengan cengkok dan harmonisasi vokalnya. Dangdut terus berkembang, termasuk menyerap pengaruh musik Barat. Salah satu pengaruh musik Barat dalam dangdut adalah mulai digunakannya gitar listrik.

Bicara soal dangdut (dan gitar listrik serta pencangkokan elemen musik Barat ke dalamnya), tidak bisa tidak Rhoma Irama harus disebut.

Laki-laki kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 1946 ini sudah mencoba berbagai macam musik sebelum akhirnya berkiprah di genre dangdut. Menurut buku Biografi Satria Bergitar Rhoma Irama (1997) yang ditulis Kartoyo D.S. dan Uki Bayu Sedjati, di masa SMP dan SMA, sekitar 1960an, ia sudah bergabung dengan Tornado Band dan Gayhand Band. Dia juga mendirikan Astaria Band.

Itu pun tidak cukup. Ayah dari Ridho Rhoma, yang baru-baru ini tersangkut kasus narkoba, sempat bergabung dengan Orkes Chandra Leka. Setelah itu barulah ia membentuk Soneta pada 13 Oktober 1973. Sebelum bergabung dengan band dangdut itu, menurut Denny Sakrie, Rhoma sudah mendalami musik Melayu sejak 1960an di Chandra Leka pimpinan Omar Alatas.

Menurut Denny Sakrie, Soneta berkibar lewat lagu "Begadang" (1973) yang direkam Yukawi record. “Akibat yang nyata (dari lagu tersebut), irama Melayu memperoleh predikat yang yaitu dangdut—sebuah istilah yang dirujuk dari efek suara kendang yang menjadikan irama ini memiliki ciri khas karena mengundang orang untuk bergoyang.”

Lagu-lagu yang dibuat Rhoma Irama, adalah tonggak sejarah penting bagi musik dangdut di Indonesia. Juga terkait dengan musik melayu juga. Para ahli macam Khrisna Sen dan David Hill dalam Media, Culture and Politics (2000) juga Marle Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa (2013) menyebut nama Rhoma sebagai orang penting dalam musik Indonesia di buku-buku mereka.

“Dia mentrasformasikan orkes Melayu gaya lama dan memadukannya dengan gaya ritmis khas lagu-lagu dalam film India, yang populer di antara audiens kelas pekerja urban, menjadi dangdut yang berirama rancak, dan diterima oleh segala lapisan masyarakat dan didukung oleh menteri-menteri dalam kabinet, tulis Khrisna Sen dan David Hill dikutip oleh Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa.

Rhoma Irama dikenal sering “[...] melakukan eksplorasi dalam membentuk warna musiknya. Terutama perjuangan untuk memodifikasi bahwa dangdut tak sekedar liukan seruling berimbuh tabuhan gendang belaka. Toch seperti halnya genre musik lain, sebut saja jazz misalnya, dangdut pun toleran terhadap suntikan genre musik lain. Rhoma pun melakukan banyak eksperimen yang memperkaya musik dangdut sendiri,” tulis Denny Sakrie.

Di atas panggung, Rhoma biasa tampil dengan pakaian mirip Elvis Presley. Dia tak pegang mikropon belaka seperti A Rafiq. Rhoma selalu bersama gitar. Dia sering tampil dengan gitar patah tanpa kepalanya. Terkait dirinya dengan gitar patahnya yang khas, lewat filmnya Satria Bergitar (1984), dia seolah mendaulat diri sebagai Satria Bergitar.

Bertepatan dengan jayanya Soneta, dari Inggris band rock raksasa Deep Purple juga sedang jaya. Deep Purple pernah diperkuat gitaris sohor Ritchie Blackmore. Permainan gitar Rhoma, terpengaruh Ritchie Blackmore. Lagu Soneta yang berjudul Ghibah dianggap mirip Child in the Time milik Deep Purple.

Menurut William H. Frederick, doktor sosiologi Universitas Ohio Amerika Serikat dalam Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture (1982), Rhoma Irama adalah musisi yang sangat cerdas. Baginya Rhoma bukan sekadar superstar, namun benar-benar ikon massa yang sanggup menautkan kelompok elit dan rakyat kecil.

Selain identik dengan gitar patah tanpa kepala, Rhoma Irama dalam lagunya selalu menyisipkan dakwah. Selalu ada pesan moral dari musiknya yang membuat orang bergoyang itu.

Terkait ini, Denny Sakrie juga menulis, “pesan moral serta kritik sosial memang banyak ditemui dalam lirik lagukarya Rhoma Irama seperti Begadang, Darah Muda, Hak Azasi, Adu Domba, Rupiah, Judi dan masih sederet lagu lainnya. Muatan-muatan seperti inilah yang menjadikan sosok Rhoma Irama bukan lagi sebagai superstar yang berjubah arogansi dan segala prilaku rekayasa seperti yang kerap kali diperlihatkan pemusik pop dan rock kita,” tulis Denny Sakrie.



Kaum sekuler boleh saja tidak suka pesan-pesan dakwah penuh seruan moral dalam lirik-lirik Rhoma. Namun secara historis, lirik-lirik itu menjadi penting untuk mengartikulasikan kritik dan protes sosial kepada pemerintah Orde Baru yang sedang kuat-kuatnya berkuasa. Salah satu lagu Soneta yang berjudul "Hak Asasi Manusia" rupanya membuat jengkel Orde Baru.

Rhoma dicekal dari TVRI pada pertengahan 1980an karena lagu yang secara jelas membicarakan kekerasan negara terhadap rakyat. Deretan kekerasan Orde Baru memang memuncak pada dekade itu. Dari mulai horor penembakan misterius hingga Tragedi Tanjung Priok (baca: Jejak-Jejak Berdarah Kekuasaan Orde Baru).

Rhoma dan Soneta jelas berbahaya karena ia magnet bagi massa. Konser-konsernya berhasil menyedot massa yang tumpah ruah dan itu menjadi momen yang cukup efektif untuk melakukan kritik kepada Orde Baru.

Perlawanan Rhoma kepada Orde Baru ia perlihatkan dengan telanjang saat menjadi juru kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Pemiu 1977 dan 1982. Pernah juga Rhoma dimusuhi Orde Baru karena sempat enggan bergabung ke partai kesayangan orde baru, Golongan Karya (Golkar).

Menurut Andrew M Weintraub, dalam Dangdut Stories: A Social and Musical History of Indonesia's Most Popular Music (2010), Rhoma pernah memelesetkan lagu "Begadang" dengan lirik "Menusuk boleh menusuk/ asal yang ada artinya/ Menusuk boleh menusuk/ asal Kabah yang ditusuk". Ka'bah merujuk simbol PPP.

Meski begitu, sikap Rhoma tidak statis dalam persoalan politik. Dia kemudian bersedia menjadi juru kampanye Golkar dan jadi Anggota Dewan wakil seniman di Golongan Karya (Golkar) pada 1993. Hingga kini, Rhoma terus bermusik dan berpolitik, berkat popularitasnya sebagai Raja Dangdut.

Selain lewat lagu-lagunya, Rhoma adalah superstar yang kondang lewat film-film musikalnya. Rhoma tampil sebagai aktor utama dalam film-filmnya. Ia selalu memerankan sosok si jago nyanyi yang berada di jalan yang benar. Sudah pasti ada muatan dakwah dalam filmnya.

Orang-orang pasti kenal film Darah Muda, Berkelana, Satria Bergitar, Nada dan Dakwah. Seperti film populer lain, ada akris-aktris cantik di zamannya, seperti Yati Octavia atau Rica Rachim atau yang lainnya lagi. Film-filmnya, selain terkandung cerita cinta ada pula ada adegan berantemnya.

Dan sudah pasti: Rhoma selalu menjadi pemenang di akhir cerita. Entah sampai kapan. Sebab tampaknya tak ada yang sanggup menggantikan sosoknya sebagai Sang Raja. Apa pun kata orang yang tak suka.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Zen RS
DarkLight