tirto.id - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengakui pertumbuhan uang primer atau base money (M0) adjusted per Oktober 2025 tumbuh melambat menjadi 7,8 persen (year on year/yoy). Padahal, pada bulan sebelumnya uang beredar masih bisa tumbuh di level 13,3 persen.
Menurutnya, pelambatan laju pertumbuhan uang beredar ini terjadi karena penempatan dana Sisa Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di lima bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru berdampak setidaknya 2-3 bulan setelah injeksi dilakukan. Artinya, pengaruh penempatan dana pemerintah di perbankan baru akan terlihat pada Desember 2025 atau Januari 2026.
“Ini dampak penuh dari tambahnya likuiditas itu perlu sampai 2-3 bulan sejak uang itu diinjeksikan. Jadi, baru kita lihat impact penuhnya di Desember-Januari kalau mau lihat pertumbuhannya,” ujar Purbaya, dalam Konferensi Pers APBN KITA Oktober 2025, di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2025).
Apalagi, pada 10 November lalu pemerintah baru saja menambah penempatan dana di 3 Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, serta 1 bank daerah yaitu Bank DKI. Tambahan penempatan dana kepada 4 bank ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan uang beredar di masyarakat.
“Jadi, kita lihat itu base money-nya tumbuh 13,3 persen di bulan Oktober, turun sedikit di 7,8 persen. Jadi, kita pikir mungkin kita perlu dorong lagi, masukkan lagi Rp76 triliun, Rp25 triliun, Rp25 triliun, Rp25 triliun masing-masing di bank BUMN dan Rp1 triliun di Bank DKI,” rinci Purbaya.
Kendati belum berdampak terhadap uang beredar, namun mantan Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (DK LPS) itu menilai, setelah penempatan tersebut likuiditas domestik meningkat. Terbukti dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang stabil di 11,5 persen dan pertumbuhan kredit yang solid di Oktober, khususnya untuk kredit konsumsi dan investasi.
“Tujuan penempatan dana tersebut untuk menjaga biaya dana rendah agar tercapai, suku bunga deposito 6 bulan turun signifikan, dari 6 persen jadi 5,2 persen pada September. Penurunan ini diharapkan diteruskan kepada masyarakat melalui suku bunga kredit tertimbang. Data per Oktober 2025 menjukkan, suku bunga kredit tertimbang berada di 9 persen, turun dari 9,12 persen pada Juli,” tukas Purbaya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































