tirto.id - Kanada dan Cina resmi menyepakati babak baru kerja sama ekonomi, khususnya di sektor pertanian dan perikanan. Kesepakatan strategis ini diproyeksikan akan membuka keran ekspor bernilai miliaran dolar bagi produsen asal Kanada, menyusul pelonggaran tarif dagang antara kedua negara.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengungkapkan optimisme tinggi terhadap pemulihan hubungan dagang ini. Ia mengatakan bahwa kesepakatan tersebut menjadi angin segar bagi para pelaku industri pangan di negaranya.
"Kesepakatan ini akan membuka peluang pesanan ekspor senilai hampir 3 miliar dolar AS bagi petani, nelayan, dan pengolah ikan Kanada," kata Carney dilansir dari Reuters, Sabtu (17/1/2026).
Sebagai bagian dari realisasi kesepakatan tersebut, Carney menjelaskan bahwa Cina diharapkan segera memangkas tarif impor biji Canola secara signifikan. Mulai tanggal 1 Maret, tarif tersebut diprediksi turun menjadi sekitar 15 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tarif yang berlaku saat ini sebesar 84 persen.
Tak hanya biji Canola, pelonggaran hambatan dagang juga akan berlaku bagi komoditas lain. Kanada memperkirakan produk andalan seperti tepung Canola, kacang polong, lobster, dan kepiting akan terbebas dari tarif anti-diskriminasi mulai awal Maret hingga setidaknya akhir tahun ini. Merespons kabar positif ini, harga berjangka Canola Kanada dilaporkan langsung mengalami kenaikan.
Kementerian Perdagangan Cina, dalam pernyataan resminya, mengonfirmasi langkah tersebut. Pihak Beijing menyatakan sedang melakukan penyesuaian terhadap langkah-langkah anti-dumping pada produk Canola serta kebijakan anti-diskriminasi pada sejumlah produk pertanian dan perikanan Kanada. Langkah ini diambil sebagai respons timbal balik atas keputusan Kanada menurunkan tarif pada kendaraan listrik (EV) menjadi 6,1 persen.
Selain sektor pangan, kedua negara juga berkomitmen memperluas cakupan kerja sama. Kantor berita pemerintah Cina, Xinhua, melaporkan bahwa kedua negara berjanji untuk mengaktifkan kembali dialog ekonomi dan keuangan tingkat tinggi. Fokus kerja sama akan mencakup peningkatan investasi, perdagangan, serta penguatan sektor minyak, gas, dan energi hijau.
Terkait sektor energi, Carney memaparkan ambisi Kanada untuk menggandakan jaringan energinya dalam 15 tahun ke depan. Ia melihat peluang besar bagi kemitraan investasi dengan Cina, termasuk dalam pengembangan energi angin lepas pantai.
Selain itu, Kanada tengah menggenjot ekspor gas alam cair (LNG) ke Asia dengan target produksi mencapai 50 juta ton per tahun pada 2030, yang seluruhnya ditujukan untuk pasar Asia.
Di sisi hubungan diplomatik antarwarga, Carney menambahkan bahwa Xi berkomitmen untuk memberikan akses bebas visa bagi warga Kanada yang bepergian ke China, tetapi tidak memberikan rinciannya.
Langkah Kanada mendekat ke Beijing ini dinilai para pengamat sebagai strategi diversifikasi pasar di tengah ketidakpastian hubungan dengan tetangga terdekatnya, Amerika Serikat. Kebijakan tarif yang diberlakukan Donald Trump terhadap barang-barang Kanada, serta retorika politik AS yang menyinggung kedaulatan Kanada, menjadi pendorong utama.
"Mengingat kompleksitas hubungan perdagangan Kanada dengan AS saat ini, tidak mengherankan jika pemerintahan Carney sangat ingin meningkatkan hubungan perdagangan dan investasi bilateral dengan Beijing, yang merupakan pasar besar bagi petani Kanada," kata Even Rogers Pay dari Trivium China yang berbasis di Beijing.
Cina, yang juga terdampak oleh kebijakan tarif Trump, menyambut baik kerja sama ini sebagai upaya merangkul negara anggota G7. Ketika ditanya mengenai perbandingan antara kedua mitra dagang raksasa tersebut, Carney memberikan pandangan yang menarik mengenai stabilitas hubungan dengan Beijing.
"Dalam hal perkembangan hubungan kita dengan China dalam beberapa bulan terakhir, hal itu lebih mudah diprediksi, dan Anda melihat hasilnya," kata Carney.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





































