Menuju konten utama

Purbaya PD Penempatan Rp200 T di Himbara Tak Kerek Inflasi

Menurut Purbaya, penempatan Rp200 triliun tersebut merupakan upaya paksa pemerintah ke Himbara untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi.

Purbaya PD Penempatan Rp200 T di Himbara Tak Kerek Inflasi
Purbaya Yudhi Sadewa. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom.

tirto.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis penyaluran dana sebesar Rp200 triliun dari pemerintah ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) tak akan memicu lonjakan inflasi. Sebab, menurutnya, kondisi perekonomian yang tengah lesu dapat membuat suntikan dana dari pemerintah ke Himbara justru akan lebih mudah terserap oleh masyarakat.

"Ini, kan, kita kemarin lesu ekonominya, dengan adanya itu pasti akan diserap sistem dan belum akan menimbulkan inflasi sampai mungkin beberapa tahun ke depan sampai pertumbuhan ekonomi kita di atas 6,5-6,7 persen. Yang saya sebut adalah demand pull inflation. Artinya, inflasi karena permintaan yang terlalu banyak," jelasnya saat ditemui di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan, Selasa (16/9/2025).

Meski begitu, Purbaya mengakui, lonjakan inflasi bisa saja terjadi saat pemerintah menyuntikkan dana ke sistem perbankan. Namun, hal itu hanya akan terjadi jika suntikan dana yang diberikan pemerintah berlebih atau terlalu banyak.

Mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (DK LPS) tersebut mengibaratkan bahwa guyuran dana ini seperti upaya paksa pemerintah ke Himbara untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan paksaan ini, mau tidak mau, bank akan memikirkan bagaimana caranya agar dana dapat tersalurkan melalui penyaluran kredit maupun pembiayaan.

Ia juga menyinggung kebijakan pemerintah pada 2021, ketika pemerintah menyuntikkan dana besar-besaran melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi. Hasilnya, tak hanya ekonomi mampu tumbuh dengan resilien, penyaluran kredit juga terakselerasi.

"Saya paksa sistem bekerja dengan saya kasih bahan bakar yang kalau mereka enggak pakai, mereka harus bayar ke saya. Jadi, ini sebetulnya prinsip dasar dari monetary policy. Sebagian orang bilang, kalau uang di-inject sistem akan menimbulkan inflasi, ya mungkin kalau jangka panjang dan uangnya kebanyakan," terangnya.

"Jadi saya pikir sih ketika uang bertambah ke sistem dua sisi akan bergerak. Yang pertama, tentunya likuiditas bertambah kan. Itu otomatis, pelan-pelan bunga di pasar akan turun. Yang tadinya orang naruh uang di bank seneng karena bunganya tinggi, pasti akan turun. Karena banknya juga kelebihan duit kan," tambah Purbaya.

Pada kondisi ini, suku bunga simpanan maupun kredit juga akan berpotensi mengalami penurunan. Alhasil, ketika bunga bank turun, masyarakat akan cenderung menggunakan uangnya untuk berbelanja.

"Perusahaan-perusahaan pun yang tadinya ragu untuk menyimpan di bank, ketika suku bunga nanti turun atau uangnya ada ya. Uangnya ada lebih banyak di sana dan gampang minjem bunga yang mungkin bunga juga turunnya sedikit. Tapi dengan adanya uang itu, mereka menjadi berani minjem uang di bank. Artinya, sisi demand dan supply akan tumbuh berbarengan," tutup Purbaya.

Baca juga artikel terkait PURBAYA YUDHI SADEWA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana