Puncak Hujan Meteor Perseid Terbaik Muncul 12 Agustus Malam Ini

Oleh: Yuliana Ratnasari - 12 Agustus 2018
Dibaca Normal 1 menit
Untuk penampakan yang lebih baik, penonton dapat menyaksikan hujan meteor Perseid pada Minggu malam hingga Senin dini hari.
tirto.id - Tahun ini, Bumi kembali didatangi hujan meteor Perseid yang mulai muncul sejak 17 Juli lalu hingga 24 Agustus mendatang. Puncak hujan meteor terjadi pada 11-12 Agustus dan 12-13 Agustus. Namun untuk penampakan yang lebih baik, penikmat hujan meteor dapat menyaksikannya pada Minggu malam hingga Senin dini hari.

Perseid disebut-sebut sebagai hujan meteor terbaik tahun ini. Fenomena alam ini terjadi ketika Bumi mulai bergerak melewati jalur Komet 109P. Komet yang juga dikenal sebagai Swift-Tuttle ini adalah objek terbesar yang diketahui berulang kali dilalui oleh Bumi; intinya sekitar 16 mil (26 km) lebarnya.

Terakhir komet ini lewat pada 1992 saat orbit Bumi dekat dengan Matahari, dan waktu berikutnya akan terjadi pada 2126. Puing-puing dan debu sisa dari Swift-Tuttle inilah yang akan menjadi hujan meteor Perseid setiap tahun ketika Bumi mengorbit dekat bekas jalur komet.

Meskipun akan masuk ke atmosfer Bumi sepanjang hari, penonton baru dapat melihat meteoroid-meteoroid itu ketika Matahari sudah terbenam. Bahkan lebih baik lagi jika pengamatannya dimulai saat tengah malam hingga menjelang Matahari terbit.

Mengutip Space.com, selama puncak Perseid akhir pekan ini, penonton akan dapat melihat sekitar 60-70 meteor per jam. Namun pada kondisi tertentu, bisa saja muncul 150-200 meteor per jam seperti pada tahun 2016.

Untuk melihat Perseid terbaik, pergilah ke tempat yang minim pencahayaan. Pilih tempat yang nyaman untuk mengamati langit. Jumlah Perseids yang terlihat akan meningkat dari sekitar jam 10 malam (sesuai zona waktu setempat) sampai fajar.

Jika dapat melihat jelas, penonton akan menyaksikan potongan-potongan puing-puing komet itu muali memanas. Ketika memasuki atmosfer Bumi, meteor akan terbakar dan menimbulkan cahaya terang.

Teleskop dapat membantu memperbesar objek meteor. Sayangya, alat itu akan sangat membatasi bidang pandang, demikian juga binokular. “Sebaliknya, jika memiliki teropong di dekatnya, Anda dapat menggunakannya untuk menangkap gambar secara close-up jejak asap meteor setelah melihatnya dengan mata telanjang.” demikian yang dilansir Astronomy.com.


Baca juga artikel terkait HUJAN METEOR atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari