tirto.id - Influencer Sherly Annavita mengalami teror yang diduga akibat pandangan politiknya. Berikut gambar kreator konten asal Aceh tersebut.
Pada akhir Desember 2025, Sherly Annavita menjadi salah satu korban upaya teror yang menyasar sejumlah influencer hingga aktivisme di Jakarta dalam waktu berdekatan.
Menurut keterangan Sherly, upaya teror terhadap dirinya ia duga dilakukan untuk menghentikan suara terkait bencana banjir dan tanah longsor di Sumatra pada akhir November lalu.
Sebelumnya, pada tanggal 26 November 2025, Siklon Tropis Senyar melanda wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Badai ini kemudian menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya bencana banjir bandang dan tanah longsor yang mematikan di tiga provinsi tersebut.
Sherly kemudian menjadi salah satu influencer yang cukup vokal terhadap penanganan bencana di daerah tempatnya berasal. Namun, selang sebulan setelah bencana, ia mendapatkan berbagai teror, dari perusakan mobil hingga pesan ancaman.
Sosok Influencer Sherly Annavita
Lahir di Lhokseumawe, Aceh pada tahun 1992, Sherly Annavita merupakan influencer media sosial yang memiliki pengikut yang berjumlah besar di Instagram dan YouTube.
Melalui akun media sosialnya itu, Sherly kerap membagikan konten video bertema pengembangan diri, agama Islam, dan politik. Tema ketiga tersebut menjadi tema yang dominan dalam konten-konten yang ia buat.
Sebelum berkarier sebagai pencipta konten di media sosial, Sherly terlebih dahulu meniti pendidikan di Universitas Paramadina, Jakarta dan mendapat gelar sarjana bidang Hubungan Internasional dari sana.
Kemudian, ia melanjutkan studinya di Fakultas Hukum dan Bisnis di Swinburne University of Technology, Australia pada tahun 2016 lalu.
Setelah mengenyam pendidikan di Swinburne, Sherly meniti karir sebagai dosen paruh waktu. Ia juga mendirikan Sherly Enlightenment Academy (SEA), yakni lembaga pelatihan public speaking.
Hal itu ia lakukan sambil menjadi kreator konten di media sosial maupun jadi pembicara di berbagai acara.
Namanya mulai populer setelah muncul dalam program ILC dan mengungkapkan kritiknya kepada presiden saat itu, Joko Widodo.
Seturut keterangan Sherly pasca menerima teror yang ia unggah di Instagram pribadinya pada hari Selasa, ia sudah sejak lama bertalian dengan politik.
Pada tahun 2014, ia tergabung sebagai lawan pemenangan Prabowo Subianto ketika mencalonkan diri dalam Pilpres 2014. Kala itu ia tergabung sebagai penyiar radio Kantor Pusat DPP Gerindra.
Pada tahun 2019, Sherly juga tergabung sebagai lawan pemenangan Prabowo Subianto dalam Pilpres 2019.
Oleh karena itu, konten video yang ia buat tak jarang membahas isu politik nasional, termasuk ketika bencana banjir bandang dan tanah longsor melanda Sumatera pada akhir November lalu.
Salah satu yang disampaikan Sherly adalah terkait penanganan bencana yang dilakukan oleh pemerintah sejauh ini.
Namun, pada akhir Desember ini, Sherly mengalami teror. Upaya teror yang ditujukan kepada Sherly itu terjadi antara Senin (29/12) malam dan Selasa (30/12) dini hari.
Berdasarkan kronologi yang dibagikan Sherly di Instagram, teror yang ia alami itu berupa pengerusakan mobil pribadi, pelemparan telur busuk, dan pengiriman pesan ancaman ke rumah pribadinya.
Pada rentang waktu tersebut, mobil Sherly dirusak orang tak dikenal dengan cat semprot. Pelaku melakukan vandalisme dengan membuat gambar mirip kepala manusia dengan mulut yang disilang.
Tak hanya itu, rumah Sherly juga melempari sekantung telur busuk beserta sebuah gulungan kertas. Ada kalimat bernada ancaman dalam gulungan kertas itu.
"SHERLY....!!!!!! JGN KAU MAANFAATKAN BENCANA DI ACEH UNTUK MENCARI POPULARITAS MURAHAN DAN UNTUK MENAMBAH CUAN BUAT KAMU PRIBADI JGN KAMU MENGIRING OPINI SESAT," tulis pesan dalam kertas tersebut.
Isi pesan ancaman itu membuat Sherly menduga bahwa upaya itu dilakukan agar ia menghentikan pembicaraan terkait penanganan bencana Sumatera.
Sebelumnya, teror sebenarnya telah dialami Sherly secara digital. Belakangan, secara masif ia mendapatkan pesan-pesan bernada ancaman di kolom komentar dan direct message Instagram miliknya.
"Teror-teror ini terasa sekali setelah Sherly ... ikut memberikan tayangan di beberapa acara TV terkait bencana di Sumatera," tulis Sherly dalam keterangannya.
Namun, pada 29-30 Desember 2025, serangan di dunia maya itu berubah jadi teror langsung di dunia nyata, yakni melalui pengerusakan mobil hingga ancaman surat.
Sherly sebenarnya tidak sendirian. Teror serupa juga dialami sejumlah influencer hingga aktivis lain di Jakarta. Periode terjadinya teror juga berdekatan, yakni pada akhir Desember ini.
Metode yang digunakan para pelaku juga menunjukkan pola kesamaan, yakni dengan mengirimkan pesan ancaman untuk menghentikan pembicaraan terkait penanggulangan bencana.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id































