tirto.id - Komisi I DPR RI baru saja melakukan fit and proper test terhadap 24 calon duta besar (Dubes) Republik Indonesia pada tanggal 5-6 Juli 2025. Dalam uji kelayakan dan kepatutan yang dilangsungkan secara tertutup ini muncul satu nama yang menarik perhatian, yakni Nurmala Kartini Sjahrir.
Nurmala Kartini menjadi calon Dubes RI untuk Jepang (Tokyo). Ia menjalani uji kelayakan di Gedung DPR RI pada hari Sabtu, hari pertama. Munculnya nama Nurmala Kartini Sjahrir sebagai calon Dubes RI untuk Jepang cukup menimbulkan polemik. Banyak dugaan, ada motif politik dalam proses pencalonannya.
Namun, Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, membantah adanya motif tersebut. Meski Nurmala merupakan adik kandung Luhut Binsar Panjaitan yang menjabat Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), hal itu tak ada kaitannya dalam proses seleksi duta besar tersebut.
“Enggak, lah. Ini kan profesionalisme dan juga di sektor yang berbeda. Pak Luhut kan ada di Dewan Ekonomi Nasional,” kata Dave di Kompleks MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Minggu (6/7/2025).
Lebih lanjut Dave menuturkan bahwa Nurmala memiliki rekam jejak dalam dunia diplomatik. Nurmala sempat menjabat sebagai Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (DBLBB) Indonesia untuk Argentina.
Profil Nurmala Kartini Sjahrir dan Rekam Jejak Kariernya
Nurmala Kartini Sjahrir lahir pada 1 Februari 1950 di Tobasa, Sumatera Utara. Ia merupakan adik dari Luhut Binsar Panjaitan, sekaligus ibu dari Pandu Patria Sjahrir yang merupakan Chief Investment Office (CIO) Danantara.
Ia bukan orang yang baru di dunia diplomat. Pada era kepemimpinan Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY), Nurmala menjadi Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh untuk Argentina (DBLBBP). Selain itu, ia juga merangkap Republik Paraguay dan Republik Uruguay, berkedudukan di Buenos Aires.
Ia bahkan mendapat medali kehormatan “Order de Mayo el Maito en el Grado Grand Cruz” dari Pemerintah Argentina. Peristiwa ini terjadi pada 15 September 2014 di Palacio San Martin, Kementerian Luar Negeri Republik Argentina di Buenos Aires. “Medal of Honor” tersebut untuk pertama kali diberikan kepada Kepala Perwakilan Indonesia di Argentina sejak dibukanya hubungan kedua negara 58 tahun lalu.
Nurmala merupakan lulusan Antropologi UI 1976. Ia menempuh pendidikan S-2 di Boston University, Amerika dan memperoleh gelar Master pada 1981. Kemudian, tahun 1982 ia lulus ujian kandidat Doktor S2.
Pada 1988, ia kembali ke Boston untuk menyelesaikan doktoralnya dan tahun 1990 ia dinyatakan lulus. Disertasinya dibukukan oleh PT. Graffiti Press tahun 1995 dengan judul “Pasar Tenaga Kerja Indonesia: Kasus Sektor Konstruksi”.
Sejak tahun 1993 ia banyak berkiprah di bidang kerja sosial dan politik. Selain menjadi Ketua Umum Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI), ia juga menduduki jabatan penting di berbagai organisasi. Berikut ini beberapa jabatan yang pernah diemban.
- Ketua Yayasan Kebun Binatang Ragunan;
- Pendiri Suara Ibu Peduli (SIP—Gerakan nasional perempuan untuk reformasi);
- Ketua Yayasan Rumah Ibu (yang menangani masalah-masalah kekerasan dalam rumah tangga);
- Chief Editor majalah ekonomi-politik “Jurnal”;
- Ketua Yayasan Lingkungan Sejahtera (Yasalira) yang memusatkan perhatian pada soal-soal lingkungan hidup;
- Salah satu pemrakarsa berdirinya Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) dan kemudian membentuk partai politik.
Selain berkarier di bidang politik dan aktif di berbagai kegiatan sosial, ia juga merupakan seorang akademisi. Di tahun 1983, ia menjadi dosen S-1 Antropologi di Universitas Indonesia (UI).
Hingga saat ini, ia tercatat sebagai pengajar tidak tetap di program pascasarjana UI. Tidak hanya itu, ia juga menjabat sebagai Komisaris Independen untuk Siloam Hospital serta pembina Yayasan Doktor Sjahrir.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Elisabet Murni P
Masuk tirto.id

































