Menuju konten utama

Prabowo: Indonesia Tak Boleh Bergantung Energi dari Luar

Prabowo menegaskan kemandirian energi merupakan syarat utama bagi bangsa yang berdaulat.

Prabowo: Indonesia Tak Boleh Bergantung Energi dari Luar
Presiden Prabowo Subianto memimpin Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/nz

tirto.id - Presiden Prabowo Subianto, meresmikan Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026). Peresmian ini menjadi langkah strategis pemerintah memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG).

Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan kemandirian energi merupakan syarat utama bagi bangsa yang berdaulat. Indonesia, kata dia, tidak boleh terus bergantung pada pasokan energi dari luar negeri.

“Kita (Indonesia) tidak boleh tergantung energi kita dari luar. Tidak boleh. Kita ingin merdeka dan kita mampu. Kita miliki semua, diberi karunia oleh Yang Mahakuasa, tinggal kita mampu atau tidak sebagai bangsa,” ujarnya.

Ia secara tegas menolak ketergantungan energi dari luar, terlebih Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah.

“Kita harus menjadi bangsa yang kuat, bangsa yang percaya diri, bangsa yang mampu berdiri di atas kaki kita sendiri,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, ketergantungan pada impor pangan dan energi bertentangan dengan semangat kemerdekaan.

“Tidak masuk akal suatu negara ingin merdeka kalau masih tergantung pada pangan dan energi dari luar. Kebutuhan pangan dan energi harus bisa kita hasilkan sendiri,” tegasnya.

Presiden juga menyoroti besarnya potensi energi nasional, mulai dari batu bara, minyak dan gas bumi, hingga panas bumi, yang harus dikelola optimal untuk mencapai swasembada energi.

“Dengan sumber daya yang kita miliki, sesungguhnya kita mampu menghasilkan energi sendiri tanpa bergantung pada impor. Ini sasaran kita ke depan dan dengan kerja keras bisa kita capai lebih cepat,” kata Prabowo.

Ia optimistis modernisasi kilang Balikpapan akan mempercepat terwujudnya swasembada energi nasional.

“Kita menuju swasembada energi. Kita mampu,” ujarnya.

Prabowo menyebut pembangunan infrastruktur energi berskala besar seperti RDMP Balikpapan memiliki nilai historis, mengingat proyek serupa terakhir kali diresmikan pada 1994 silam di masa Soeharto.

“Tadi kita sudah disebut bahwa acara seperti ini pernah dilakukan tahun 1994. Berarti 32 tahun yang lalu, ya lumayan cukup bersejarah,” kata Prabowo.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyatakan beroperasinya RDMP Balikpapan berpotensi menghemat devisa hingga Rp 60 triliun per tahun. Hal itu ditopang fasilitas Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang meningkatkan kapasitas kilang.

Kapasitas kilang Balikpapan naik dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel minyak per hari. Kilang ini juga mampu menghasilkan hingga 5,8 juta kiloliter BBM per tahun sehingga impor dapat ditekan.

“Jadi dengan RDMP ini, kita bisa menghemat devisa kurang lebih sekitar Rp 60 triliun lebih, karena dia bisa menambah 100 ribu barel. Dengan bensin itu kita bisa menghasilkan 5,8 juta kiloliter per tahun,” kata Bahlil dalam kesempatan yang sama.

Baca juga artikel terkait ENERGI atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Insider
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama