PM Scott Morrison: Trump dari Australia, Penyangkal Perubahan Iklim

Perdana Menteri Australia Scott Morrison berpidato pada sesi ke 74 Majelis Umum PBB, Rabu, 25 September 2019, di markas besar PBB. AP / Frank Franklin II
Oleh: Faisal Irfani - 13 Januari 2020
Dibaca Normal 3 menit
Perkenalkan Scott Morrison: Perdana Menteri Australia yang kelakuannya mirip Donald Trump.
tirto.id - Dua warga negara Australia bernama Luella Brookes-Inglis dan Linda Phillips mengungkapkan kekesalannya di laman The Guardian, Senin (5/01/2020) kemarin, sehubungan dengan kasus kebakaran hutan di benua tersebut.

Dalam dua tulisan yang terpisah, keduanya mengkritik orang yang sama: Perdana Menteri Scott Morrison. Keduanya menilai bahwa Morrison tak kompeten menangani konflik kebakaran hutan. Tindakannya sering keliru dan tak punya sensitivitas.

Beberapa perangai Morrison yang dikritik keduanya antara lain adalah menolak mendengarkan permintaan dan masukan petugas pemadam kebakaran, tetap berlibur di luar negeri meski hutan-hutan di Australia dilalap api, hingga memilih banyak berdoa ketimbang menawarkan kebijakan yang riil.

Semua sikap itu membuat orang-orang seperti Linda dan Luella merasa “malu menjadi orang Australia” dan mendesak Morrison untuk “mengundurkan diri”.


Kebakaran Parah

Api yang melumat habis hutan di kawasan tenggara Benua Kanguru betul-betul mengejutkan masyarakat Australia. Kebakaran itu menghanguskan sekitar 13 juta hektare lahan—atau setara dengan luas Inggris. Kebakaran di Australia lebih besar daripada yang terjadi di Amazon pada 2019 (900 ribu hektare) dan California pada 2018 (800 ribu hektare).

Tak hanya melenyapkan hutan, kebakaran turut pula telah membunuh puluhan orang, memusnahkan milyaran hewan terbunuh, dan melumat habis ribuan rumah. Kerugian materi yang ditaksir mencapai 700 juta dolar Australia.

BBC mengabarkan pemerintah akan mengeluarkan dana sebesar $2 miliar dolar Australia—atau hampir Rp19 triliun—untuk penanggulangan kebakaran. Selain itu, pemerintah menjanjikan sejumlah kompensasi bagi sukarelawan hingga memperbanyak alokasi anggaran penyediaan pesawat air.

Australia memang dikenal memiliki “musim kebakaran hutan”. Namun, musim tahun ini dinilai yang terburuk. Penyebabnya, selain sambaran petir dan kesengajaan, adalah perubahan iklim yang meningkatkan kadar CO2 di udara. Imbasnya: Australia kian panas. (18 Desember 2019, suhu menyentuh 41,9 derajat celcius.)

Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa iklim yang panas dan kering berpotensi menyebabkan kebakaran sering terjadi dan kemungkinan menyebarnya juga lebih cepat dan luas.

“Tidak diragukan lagi perubahan iklim itu nyata dan menurut saya keadaan tersebut menambah buruk [kebakaran hutan],” terang Stephen Pyne, ahli kebakaran hutan dari Arizona State University sekaligus penulis Burning Bush: A Fire History of Australia (1991).

Kebakaran hutan yang besar tak sekali saja melanda Australia. Pada 2009, misalnya, api menghanguskan 450 ribu hektar dan menewaskan 173 orang. Kejadian ini dikenal sebagai “Black Saturday”.


Sasaran Utama: Sang Perdana Menteri

Kunjungan Morrison ke Cobargo, wilayah terdampak kebakaran di New South Wales, tak berjalan baik. Ia disambut kemarahan warga, bahkan ada yang memintanya untuk segera angkat kaki. Ada pula yang menyebutnya “idiot”.

Kemarahan itu menunjukkan betapa jengkelnya masyarakat Austalia terhadap Morrison dan caranya menangani kebakaran hutan. Masyarakat tak sekadar melihat kebakaran hutan sebagai bencana alam, melainkan juga sebagai kegagalan pemimpin nasional.

Seperti dicatat Tony Walker, pengajar komunikasi di La Trobe University, ketidakbecusan Morrison terlihat ketika ia menyalahkan kelompok oposisi lokal, yakni Partai Hijau, yang dinilainya tak responsif menangani bencana. Morrison juga memilih untuk melancong ke luar negeri saat situasi dalam negeri sedang tidak baik.

James Walter, profesor ilmu politik Monash University, dalam tulisannya di The Conversation, menambahkan bahwa Morrison menangani masalah dengan buruk: lamban, reaktif, menanggapi kritik secara sembarangan, serta sibuk melontarkan pesan-pesan partisan ketimbang membereskan pekerjaan rumah.

“Kegagalan diperparah oleh kecenderungan pemerintah menganggap permasalahan sebagai [alat] 'politik', ketika yang terjadi di lapangan menyangkut kelangsungan hidup [orang banyak],” demikian tulis Walter.

Bukan kali ini saja Morrison dikritik sehubungan tanggapannya terhadap bencana lingkungan. Sebelum kebakaran muncul, Morrison dihujat setelah menilai kelompok pembela lingkungan sebagai penghambat aktivitas bisnis dan investasi.

Morrison juga sempat mengemukakan pendapat gegabah. Ia menyebut tingginya emisi gas karbon—yang salah satunya dihasilkan lewat bahan bakar fosil—tak punya korelasi dengan kebakaran hutan. “Tidak didukung bukti ilmiah yang kredibel sama sekali,” katanya.

Padahal, sudah banyak laporan yang memperlihatkan keduanya saling berhubungan. PBB, misalnya, pernah merilis laporan (PDF) yang menegaskan Australia akan menjadi produsen bahan bakar fosil terbesar nomor enam di dunia pada 2030. Ini turut memengaruhi kenaikan emisi karbon yang diprediksi menyentuh 41 gigaton—empat kali lebih banyak dari jumlah maksimal (10 gigaton) yang diperlukan agar pemanasan global berada di bawah 1,5 derajat Celcius.

Sementara penelitian Robert Glasser, profesor dari Australia National University, menerangkan bahwa sekitar lebih dari 500 orang bakal terdampak oleh kenaikan panas di Australia. Kerugian ekonominya diperkirakan juga tak sedikit: 39 miliar dolar Australia pada 2050.

Perubahan iklim bukan sekadar pepesan kosong atau konspirasi politik sebagaimana yang dipercaya kaum sayap kanan. Perubahan iklim adalah ancaman nyata. Jajak pendapat yang dihimpun Studi Pemilu Australia di ANU (PDF) bahkan menunjukkan bahwa masalah lingkungan adalah hal serius bagi orang-orang Australia—bersanding dengan masalah ekonomi dan kesehatan.



Trump dari Australia?

Naiknya Morrison ke tampuk kekuasaan disebut Rachel Withers, dalam tulisannya di Slate, sebagai sesuatu yang mengejutkan. Pasalnya, Morrison, yang diusung koalisi Partai Liberal dan Nasional—dua-duanya kanan-tengah—berhasil membalik semua prediksi yang menyatakan bahwa Partai Buruh akan memenangkan pemilihan. Morrison sendiri kemudian duduk di kursi perdana menteri menggantikan Malcolm Turnbull.

Morrison bukan orang baru di dunia politik Australia. Laporan Financial Times mengatakan bahwa lelaki kelahiran Bronte, pinggiran Sydney, ini memulai karier politiknya pada 2000, saat menjabat posisi orang nomor satu di Partai Liberal cabang New South Wales.

Sempat meredup karena sibuk mengurus bisnis agensi pariwisatanya, Tourism Australia, Morrison kembali ke dunia politik pada 2007, tatkala terpilih menjadi anggota parlemen federal. Sejak dari sini, jalan politiknya perlahan mulus. Puncaknya adalah ketika ia terpilih sebagai perdana menteri.

Selama aktif di dunia politik, Morrison dikenal lewat kebijakannya yang sarat kontroversi. Ia, ambil contoh, menentang undang-undang pernikahan sesama jenis, menolak masuknya pencari suaka yang sampai di Australia dengan kapal, dan tak percaya bahwa perubahan iklim menjadi faktor penyebab kebakaran yang melanda daratan Australia. Pemerintahan Morrison merupakan wajah dari konservatisme hari ini, yang juga merebak di AS, Eropa, sampai Asia.

Reinkarnasi Trump rupanya tersebar hingga seberang benua. Bedanya, ia tak sampai mengajak perang negara lain.

Baca juga artikel terkait KEBAKARAN HUTAN atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight