Menyerang Iran adalah Blunder bagi Donald Trump

Oleh: Herdanang Ahmad Fauzan - 9 Januari 2020
Dibaca Normal 2 menit
2011 lalu Trump menuding Obama sebagai presiden yang rela memulai perang dengan Iran demi terpilih lagi di pemilu. Namun, belakangan justru Trump sendiri yang terindikasi melakukannya.
tirto.id - Iran menyerang Pangkalan Pasukan Amerika Serikat (AS) Al-Asad, Irak, Rabu (8/1/2020). Iran menembakkan serangkaian rudal balistik di dua pangkalan Irak yang menampung pasukan AS dan memperingatkan AS serta sekutunya di wilayah tersebut untuk tidak membalas.

Serangan ini merupakan bentuk pembalasan usai tewasnya komandan pasukan elite, Jenderal Qasem Soleimani dalam serangan drone di Baghdad yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump, Jumat (3/1/2020).

“Jika Amerika merespons lagi serangan ini, kami telah menyiapkan serangan lebih besar. Ini bukanlah upaya mengancam, ini adalah peringatan,” ujar pihak Pasukan Revolusioner Iran dalam pernyataan resminya.

Donald Trump belum menanggapi peringatan tersebut. Rencananya, dia bakal menyampaikan reaksi pada Rabu (8/1/2020) siang waktu AS alias malam waktu Indonesia.

“Presiden sedang memonitor situasi dengan saksama dan berkonsultasi dengan tim keamanan,” tulis pihak gedung putih dalam pernyataan resminya.

Eskalasi konflik AS dan Iran meningkat usai Trump memerintahkan langsung pembunuhan Soleimani pekan lalu.

Trump beralasan langkah ini ditempuh dengan berbagai alasan. Salah satunya, Soleimani dituding sebagai otak penyerangan Kedutaan Besar AS di Baghdad beberapa hari sebelumnya.

Soleimani juga diklaim Trump telah melakukan banyak kejahatan bersama pasukan Quds serta berencana menyerang diplomat AS di Irak dan sekitarnya.

“Dia [Soleimani] secara langsung dan tidak langsung bertanggung jawab pada kematian jutaan orang,” tulis Trump lewat akun Twitter-nya.

Mengecam dan Melakukannya Sendiri

Terlepas dari keabsahan klaim Trump, serangan terhadap Iran kali ini juga memunculkan kesan Trump menjilat ludahnya sendiri.

Kurang lebih delapan tahun lalu, 30 November 2011, Trump pernah menuding presiden AS saat itu, Barrack Obama bakal rela memulai perang dengan Iran demi terpilih di pemilu setahun kemudian.

“Demi terpilih jadi presiden lagi, aku yakin Obama akan memulai perang dengan Iran,” tulis Trump.

Itu bukan satu-satunya blunder politikus Partai Republik tersebut. Setahun berselang, Trump juga melontarkan tudingan yang sama. “Dia [Obama] sedang putus asa,” imbuhnya.

Di sisi lain, tak sedikit warga dan politikus AS yang menilai langkah Trump menyerang Soleimani pekan lalu sebagai upaya Trump mengalihkan isu. Sebab, di saat hampir bersamaan sang presiden juga sedang jadi sorotan lantaran berpotensi dimakzulkan.

Trump dimakzulkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS pada Rabu, 18 Desember 2019. Penyebabnya, ia dinilai menyalahkan kekuasaannya untuk menekan Pemerintah Ukraina serta menghalangi upaya dalam penyelidikan Kongres.

Politikus Demokrat, Elizabeth Warren menilai kecurigaan seperti itu wajar belaka, sebab pemilihan waktu Trump memang mendorong publik berpikir ke arah pengalihan isu.

“Patut dipertanyakan, kenapa sekarang? Kenapa tidak bulan lalu, kenapa tidak bulan depan?" ujar Warren dalam sebuah wawancara di stasiun televisi NBC New York. “Aku rasa wajar jika orang-orang mempertanyakan itu.”

Selain itu, fakta bahwa tahun depan AS bakal menggelar pemilu lagi, menjadi faktor yang menambah kecurigaan, sebagaimana yang dituduhkan Trump terhadap Obama bertahun-tahun silam.

Trump, di sisi lain membantah tudingan-tudingan tersebut. Dia juga menolak serangan terhadap Soleimani sebagai upaya memulai peperangan.

“Aksi itu [pembunuhan] Soleimani kami lakukan untuk menghentikan perang, bukan untuk memulai perang,” tulis Trump.

Tak Populer

Dampak eskalasi konflik AS dan Iran tidak saja dirasakan warga kedua negara tersebut. Minyak mentah Asia mengalami lonjakan harga sedikitnya 4,5 persen, pada Rabu (8/1/2020).

Tak cuma minyak, emas dunia juga melonjak. Per Rabu siang (8/1/2020), harga emas dunia naik 2,4 persen menjadi 1.611,42 dolar AS per ounce, tertinggi sejak 2013, dan diperdagangkan pada 1.600,95 dolar AS pada jam 9.28 pagi di Singapura.

Atas situasi itulah, alih-alih menaikkan popularitas, langkah Trump dan Militer AS membunuh Soleimani justru lebih banyak menuai kecaman di kalangan warga negara sendiri.

Survei terbaru yang dilakukan Reuters/Polling Ipsos yang dirilis Selasa (7/1/2020) kemarin menyebutkan 53 persen orang dewasa AS tidak menyukai cara Trump menyikapi Iran. Angka ini bahkan naik cukup tajam (9 persen) dibanding survei sebelumnya pada Desember 2019, ketika Trump belum memerintahkan pembunuhan Soleimani.

Jika survei hanya dikhususkan ke lingkaran parpol, sikap antipati terhadap Trump pun semakin meninggi pasca-serangan terhadap pasukan Iran.

Masih berdasarkan data Reuters, sembilan dari 10 orang Demokrat serta 5 dari 10 politikus independen menentang sikap Trump. Langkah Trump, secara keseluruhan cuma populer di lingkaran partainya sendiri, yakni delapan dari 10 responden yang mendukungnya.

Baca juga artikel terkait KEBIJAKAN DONALD TRUMP atau tulisan menarik lainnya Herdanang Ahmad Fauzan
(tirto.id - Politik)

Penulis: Herdanang Ahmad Fauzan
Editor: Abdul Aziz
DarkLight