tirto.id - Elvina Farahdilla Tasya alias Pina, menjadi salah satu korban banjir dan longsor di Aceh yang berhasil selamat. Pina berhasil kembali ke Banda Aceh usai terjebak di dalam bus selama dua hari di wilayah yang terdampak banjir.
Pina bercerita, pada Selasa (25/11/2025) malam, dia berangkat dari Banda Aceh menuju Medan, Sumatra Utara, menggunakan jasa travel dengan mobil jenis minivans. Namun, ketika sampai di kota Sigli, tiba-tiba datang banjir yang sangat tinggi.
"Saya berangkat dari Banda Aceh menuju kota Medan untuk tempat saya pulang. Awalnya, saya naik travel mobil Hiace, lalu ketika tiba Kota Sigli tiba-tiba ada banjir yang sangat dalam," kata Pina kepada Tirto, Selasa (2/12/2025).
Kata Pina, mobil yang dia tumpangi saat itu tidak bisa lagi melewati banjir yang semakin tinggi. Akhirnya, dia dipindah ke sebuah bus agar dapat melanjutkan perjalanan.
"Yang saya naiki adalah bus Putra Pelangi, melanjuti perjalanan lewat Kota Lhokseumawe," ujarnya.
Sambil sedikit terisak, Pina mengatakan saat melewati Lhokseumawe, Aceh, kondisi kota sudah sangat memprihatikan. Dia melihat rumah-rumah ditelan air bah dan pohon bertumbangan.
Saat melanjutkan perjalanan, Rabu (26/11/2025) pagi, bus yang dinaiki Pina terjebak pohon tumbang.
"Hingga sampai pada pagi hari kami juga terjebak lagi di pohon tumbang. Itu lumayan cukup lama, sekitar 4 jam hanya untuk pohon tumbang saja. Sekitar jam 11, saya melanjuti lagi perjalanan menuju Medan," ujarnya.
Pina mengatakan, saat itu hujan lebat terus mengguyur, tidak ada listrik, dan tidak ada sinyal. Oleh karena itu, Pina dan para penumpang bus lainnya tidak bisa memberi kabar kepada keluarga.
"Salah satu caranya adalah saya berdiri di atas kursi bus saya sendiri untuk mendapatkan jaringan," ujarnya.
Kemudian, Pina dan penumpang bus Putra Pelangi terjebak di Desa Geudong, Aceh Utara, dengan titik koordinat 5°06'57.8"N 97°11'50.2"E. Pina dan penumpang lain sudah mulai kedinginan dan kelaparan. Mereka terjebak di sana selama dua hari dalam kondisi tanpa jaringan, makanan yang terbatas, dan dihantui banjir yang mulai meninggi.
Di tengah kondisi mencekam itu, Pina mulai memikirkan cara untuk menyelamatkan diri. Pasalnya, hingga saat itu, tidak ada bantuan yang datang serta tidak ditemukan tempat evakuasi untuk bisa turun dari bus.
“Saya membuat keputusan untuk bisa keluar dari zona itu," ucapnya.
Pina menyetop sebuah truk dan mengajak para penumpang lain ikut kembali ke Lhokseumawe. Melanjutkan perjalanan ke Medan, menurutnya, sudah tidak memungkinkan.
"Tujuh orang yang bisa ikut baik ke dalam truk. Waktu itu, mengantarkan sampai Simpang, lalu kami turun lagi. Kami mencari warga yang bisa membawa kami ke Kota Lhokseumawe untuk bertahan dulu sementara," katanya.
Beruntung, Pina dan rombongannya menemukan warga yang bersedia membawa mobil pick up menuju Lhokseumawe atau lokasi yang lebih aman.
"Hanya ada salah satu cara yang bisa dilewati untuk menyebrangi kota. Pertama, kami harus menggunakan Haice untuk ke Kuta Blang. Lalu, melanjutkan menaiki sampan yang sangat kecil dan tidak ada pengamannya sama sekali," ucapnya.
"Setelah dari situ, kami menaiki mobil Haice yang sudah ada di sana, disediakan ataupun ditaruhkan dari mereka, untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Banda Aceh," tambahnya.
Usai menempuh perjalanan panjang itu, Pina pun berhasil sampai di Banda Aceh dalam keadaan selamat. Namun, Pina menyayangkan sikap pemerintah yang hingga kini belum menetapkan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat ini sebagai bencana nasional.
Padahal, berdasarkan pengalamannya, kondisi di Aceh sangat memprihatinkan. Banyak akses jalan terputus, bahkan banyak jembatan yang putus total dan hilang tersapu air bah. Belum lagi makanan dan logistik juga sudah sangat sulit didapatkan.
“Kenapa pemerintah tetap membuat pernyataan bahwa banjir ini bukan [bencana] nasional. Padahal, ini sudah jelas-jelas semua akses jalan sudah terputus, semua makanan ataupun logistik sudah sudah didapatkan," pungkasnya.
Banjir yang terjadi di sebagian besar Provinsi Aceh telah menyebabkan 173 orang meninggal dunia, menurut data Pemprov Aceh per Senin (1/12/2025) pukul 20.00 WIB.
Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, menyebutkan korban luka ringan akibat bencana longsor dan banjir berjumlah 1.435 orang, luka berat 403 orang, meninggal dunia 173 orang, dan 204 orang masih hilang.
Penulis: Auliya Umayna Andani
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































