tirto.id - Dalam sepekan terakhir, cuaca ekstrem yang berujung pada bencana mematikan tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di sejumlah negara di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Hingga Senin (1/12/2025) malam, seturut laporan Aljazeera, bencana banjir dan longsor di Indonesia, Sri Lanka, Thailand, hingga Malaysia dilaporkan telah menewaskan lebih dari seribu orang.
Di Indonesia, bencana menimpa tiga provinsi di Pulau Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Senin malam, tercatat 604 orang meninggal dunia akibat bencana di Sumatra.
Di Sri Lanka, sebanyak 366 orang meninggal dunia serta 367 orang lainnya hilang akibat banjir yang terjadi sejumlah wilayah, termasuk di ibu kota Kolombo. Dilansir dari BBC, banjir yang terjadi akibat Siklon Ditwah itu disebut Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, sebagai “bencana alam paling menantang” sepanjang sejarah negara itu berdiri.
Sementara itu, 176 orang meninggal dunia akibat banjir di Thailand bagian selatan, berdasarkan data dari otoritas resmi Thailand pada Senin. Banjir paling parah terjadi di Provinsi Songkhla, tepatnya di Distrik Hat Yai yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Di Songkhla saja, seturut Aljazeera, tercatat 110 orang yang meninggal dunia per 28 November 2025.
Di Malaysia, tiga orang dikabarkan meninggal dunia akibat banjir. Sebelumnya pada 10 November 2025, Filipina dilanda oleh Topan Fung-wong yang menyebabkan setidaknya 10 orang tewas. Padahal, sepekan sebelumnya, Filipina juga dilanda Topan Kalmaegi yang menewaskan sedikitnya 232 orang, seturut pemberitaan Aljazeera.
Salah satu pemicu bencana banjir dan longsor yang terjadi di beberapa negara dalam sepekan terakhir adalah peristiwa cuaca ekstrem. Cuaca ekstrem itu disebabkan oleh Siklon Tropis Senyar dan Koto yang melintasi kawasan Asia Tenggara, tepatnya di kawasan Selat Malaka.
Profesor Riset Iklim dan Cuaca Ekstrem Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menjelaskan sejumlah wilayah Indonesia dan Malaysia terdampak oleh cuaca ekstrem yang ditimbulkan oleh Siklon Tropis Senyar. Sejak kemunculan awal siklon itu, Erma mengatakan, dampaknya langsung dirasakan pada beberapa wilayah di Sumatra.
Dia mencontohkan di wilayah Sumbar, sejak awal November 2025 lalu, hujan dengan intensitas sedang sudah sering terjadi. Saat itu, curah hujan berada pada kisaran 50 milimeter. Menurutnya, itulah awal dari terbentuknya Siklon Senyar.
“Indonesia dan Malaysia ini sudah bisa dipastikan [mengalami cuaca ekstrem] karena efek dari [Siklon] Senyar. Senyar ini sejak awal prakondisinya saja sudah membuat cuaca tereskalasi. Kalau dari data hujan yang ada, kita bisa lihat bahwa Sumatra bagian barat itu sejak 1 November hujannya sudah intensitas yang sedang ke tinggi,” tutur Erma saat dihubungi Tirto pada Senin (1/12/2025).
Setelahnya pada 17 November, curah hujan di Sumbar mengalami peningkatan signifikan. Hal itu menjadi indikasi bahwa Siklon Tropis Senyar terus berkembang. Pada saat-saat itu, tingkat curah hujan di Sumbar disebut Erma sudah mencapai 80 mm.
Memasuki akhir pekan ketiga November, curah hujan di Sumatra terus meningkat hingga mencapai kategori ekstrem. Dimulai pada 21 November, Erma menyebut hujan terus turun dengan deras. Bahkan kalau diakumulasikan selama empat hari, curah hujannya sudah mencapai angka 500-800 milimeter.
“Diinisiasinya sudah sejak tanggal 21 [November]. 21, 22, 23, 24. Artinya, sudah 4-5 hari sebelum kejadian [bencana], itu sudah mengalami intensitas curah hujan yang ekstrem. Yang bahkan kalau diakumulasikan ya, sudah sampai sekitar 500 sampai 800 milimeter [curah hujan yang] turun dan itu luar biasa,” ucap Erma.
Erma menjelaskan lagi, curah hujan ekstrem yang melanda tiga provinsi di Sumatra itu turut diperparah dengan adanya titik jenuh di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS). Kombinasi antara hujan yang jatuh di daratan (landfall) dan adanya titik jenuh di sekitar DAS, kemudian membuat bencana banjir bandang tidak dapat terhindarkan.
Situasi yang terjadi di Sumatra, menurut Erma, sedikit berbeda dengan apa yang terjadi di Malaysia. Di Malaysia, Siklon Tropis Senyar sempat melintasi area daratan dalam waktu yang lebih singkat, kemudian kembali bergeser ke arah lautan. Dengan begitu, pusat perputaran Siklon Tropis Senyar di Malaysia berada di tengah lautan, bukan daratan.
“[Di Malaysia], walaupun [Senyar] masuk [ke daratan], tapi dia langsung geser ke tengah [laut] lagi. Jadi, center-nya masih di laut, balik lagi ke laut. Tapi, begitu masuk ke Sumatra, itu besar sekali efeknya karena memang didukung sama angin. Anginnya dari barat kuat banget,” kata Erma.
Angin yang datang dari arah barat membuat Siklon Tropis Senyar di Sumatra menjadi makin besar. Akibat fenomena cuaca itu, alat pengamatan klimatologi yang terdapat di Kabupaten Agam, Sumbar, mencatat total curah hujan di kawasan itu bahkan sampai menyentuh angka 1.300 mm sepanjang November.
Anomali Cuaca ketika Siklon Tropis Koto & Senyar Bersatu
Apabila Indonesia dan Malaysia dilanda oleh Siklon Senyar, Erma mengungkapkan, Filipina dan Thailand dilanda oleh Siklon Koto. Dia menerangkan Siklon Tropis Koto pada awalnya berkembang dari lautan sebelah timur Filipina. Siklon itu lalu melintasi sejumlah wilayah Filipina, mengarah ke Vietnam, hingga ke Thailand.
“Sempat dia [Siklon Tropis Koto] melewati Filipina, tapi mungkin enggak persis di wilayah padatnya sehingga bencananya enggak terlalu [besar]. Kemudian, baru masuk ke arah Vietnam dan seterusnya. Jadi, Thailand dan seterusnya itu terdampaknya ya karena Koto,” kata Erma.
Erma menyebut Siklon Tropis Senyar dan Koto kemudian bersatu. Fenomena itu dikenal dengan istilah Fujiwhara Effect—fenomena interaksi antara dua siklon tropis yang berdekatan sehingga keduanya berputar mengelilingi pusat yang sama atau salah satunya menelan yang lain.
Istilah itu diambil dari nama seorang ahli meteorologi Jepang, Sakuhei Fujiwhara, yang pertama kali mengamati fenomena ini pada 1920-an.
Dua siklon bisa bersatu karena salah satu siklon yang lebih kuat menarik siklon lain yang lebih kecil. Dalam hal ini, Erma mengatakan bahwa Siklon Senyar-lah yang kemudian ditarik oleh Siklon Koto. Setelah kedua siklon itu bersatu, ia sempat melemah, lalu terbentuk lagi di Laut Cina Selatan.
“Walaupun sempat melemah, terus ngebentuk lagi di Laut Cina Selatan. Sekarang, sudah mulai luruh atau terdisipasi. Senyar dan Koto udah enggak ada, tapi masih ada sisa-sisa. Nah, ini kemungkinan akan terbentuk lagi,” sebutnya.
Bagi Erma, interaksi kedua siklon itu tergolong unusual event atau anomali dalam fenomena cuaca. Menurutnya, anomali itu terakselerasi oleh perubahan iklim yang gejalanya semakin tampak. Salah satu dampak nyata dari perubahan iklim itu adalah pola angin monsun yang biasanya stabil dan mengalir secara laminar menjadi lebih kacau dan tidak homogen. Akibatnya adalah kondisi atmosfer juga jadi lebih mudah berkembang menjadi badai.
Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, mengatakan fenomena siklon tropis yang terjadi di Indonesia merupakan suatu anomali yang biasanya tidak terjadi. Pasalnya, Indonesia selama ini bukan wilayah rawan bahaya siklon tropis.
Teuku mencontohkan, jalur yang dilalui oleh siklon biasanya adalah Perairan Pasifik bagian barat atau utara—dari Pulau Papua, lalu melaju melintasi Malaysia, menuju Laut Cina Selatan, dan melintasi Filipina.
“Sehingga, Filipina ini dilalui siklon selama lebih dari 10 kali dalam setahun,” ujar Teuku di Kantor Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin.

Siklon Diprediksi Juga Akan Melanda Indonesia Bagian Selatan
Menurut Teuku, salah satu anomali cuaca lain yang terjadi adalah melintasnya siklon tropis di wilayah Indonesia yang posisinya dekat Garis Khatulistiwa. Biasanya, siklon tidak akan mendekat ke area khatulistiwa karena lemahnya Coriolis Effect—pembelokan arah benda bergerak yang disebabkan oleh rotasi bumi.
“Sehingga, siklon terjadi lebih tinggi daripada 5 derajat Lintang Utara dan 5 derajat Lintang Selatan. Dia tidak berada di Khatulistiwa pembangkitannya, tapi ternyata terjadi anomali karena anomali atmosfer,” ungkap Teuku.
Gara-gara anomali tersebut, Siklon Tropis Senyar kemudian muncul di area Selat Malaka. Selat itu, disebut Teuku, memiliki suhu yang hangat. Suhu yang hangat kemudian menaikkan awan hujan sehingga membuat curah hujan tinggi yang berujung memicu bencana banjir dan longsor.
Siklon Tropis Senyar dikatakannya juga sempat melintasi wilayah Filipina. Namun, Filipina tidak terdampak bencana besar karena siklon itu hanya melintas selama satu hari. Berbeda dengan Sumatra dan Malaysia, di mana siklon terus berputar di atas kedua wilayah itu selama berhari-hari.
“Dia terjebak di antara daratan Sumatra dan Semenanjung Malaysia sehingga dia berputar-putar, hujan lebat terjadi lebih dari dua atau tiga hari. Di Pos Langsa itu tercatat 380 milimeter hujannya. Itu hujan satu bulan dijatuhkan dalam satu hari,” tuturnya.
Menjelang akhir tahun ini, Teuku menyampaikan bibit siklon tropis diprediksi akan muncul di wilayah selatan Indonesia. Dalam beberapa kasus, bibit itu biasanya akan hilang dengan sendirinya. Namun, tidak menutup kemungkinan, bibit itu akan berkembang dewasa dan menjadi siklon.

Wilayah-wilayah Indonesia bagian selatan yang diwaspadai bakal dilintasi oleh siklon tropis adalah Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku, Papua Selatan, hingga Papua Tengah.
Meskipun potensi terjadinya siklon tropis di wilayah-wilayah itu tergolong kecil, Teuku tetap mengingatkan bahwa riwayat timbulnya siklon tropis di Indonesia bagian selatan pernah terjadi. Salah satunya adalah yang terjadi di NTT pada 2021, saat wilayah itu dilintasi oleh Siklon Tropis Seroja.
“Sebelumnya, kita mengalami juga Siklon Tropis Seroja di perairan NTT pada tahun 2021. Dan sebelumnya lagi juga, ini kategori dua yang Seroja. Untuk [Siklon] Cempaka ini di perairan selatan Jawa pada tahun 2017,” urainya.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Teuku menegaskan bahwa BMKG telah membentuk Tropical Cyclone Warning Center sejak beberapa tahun terakhir. Tugasnya adalah memonitor perkembangan siklon tropis di Tanah Air.
Dia juga memastikan bahwa sampai saat ini, Indonesia sudah aman dari ancaman Siklon Tropis Koto karena ia sudah berjalan ke arah Laut Cina Selatan, tepatnya ke arah Vietnam.
“Jadi, menjelang Nataru nanti adanya Siklon Koto. Sekarang, di Laut Cina Selatan mendekat ke arah Vietnam. Ini tidak berpengaruh pada wilayah Indonesia,” pungkasnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































