Menuju konten utama

Pilu Ibunda Dokter Hewan Alfonsius, Korban Penembakan di Papua

Alfonsius meninggal dunia setelah ditembak saat menjalankan tugas kedinasan mengantar bantuan bibit babi di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya.

Pilu Ibunda Dokter Hewan Alfonsius, Korban Penembakan di Papua
Ibu almarhum Maria Sukarti Yam dan Bapa Paulus Robertus bersama keluarga saat berdialog dengan Bupati Sikka di rumah duka keluarga, Jumat (11/9/2026). Foto/Mario Sina.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Maria Sukarti Yam, terpaksa menerima kenyataan pahit. Kepulangan Dokter Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Alfonsius Albinus Mehan yang ia nanti pada Desember 2026 tak lagi sesuai janji.

Di rumah duka Wailiti, Sikka, NTT, Jumat (11/9/2026), Maria kini hanya bisa menanti kedatangan jenazah sang putra yang tewas tertembak di Jayawijaya, Papua Pegunungan.

"Dia bilang: 'Mama, saya mau pulang. Tidak usah kirim mama uang. Mama di sini juga tidak susah. Biar ubi, pisang saya juga bisa makan,'" tutur Maria mengenang percakapan terakhirnya dengan sang anak.

Dalam percakapan itu, Maria sempat meminta Alfonsius untuk tidak memikirkan dirinya dan tetap bekerja serta mengurus keluarga kecilnya di Papua.

"Dia kirim. Habis omong begitu baru dia bilang: 'Ya sudah Mama, saya kerja kumpul uang bulan 12 saya pulang.' Iya," ujar Maria.

Alfonsius meninggal dunia setelah ditembak saat menjalankan tugas kedinasan mengantar bantuan bibit babi di Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Rabu (9/9/2026).

Krans bunga duka

Krans bunga duka di kediaman almarhum drh. Alfonsius Albinus Mehan di rumah duka keluarga, Jumat (11/9/2026). Foto/Mario Sina.

Alfonsius merupakan salah satu dari tiga pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang menjadi korban penembakan. Dua korban lainnya yakni Aprida Rapi dan Willi Mbuik.

Menurut laporan, rombongan yang terdiri dari 11 orang tersebut dihadang kelompok bersenjata ketika menjalankan tugas. Ketiga korban kemudian ditembak dan sempat dievakuasi ke rumah sakit, namun nyawa mereka tidak tertolong.

Bagi Maria, Alfonsius bukan hanya seorang anak yang pergi mencari penghidupan di tanah rantau. Ia mengenang putranya sebagai pribadi yang baik dan suka membantu orang lain.

Alfonsius telah hampir sembilan tahun tinggal dan bekerja di Papua.

"Mungkin ada kesinggungan/perselisihan sedikit, tidak jelaskan tidaknya. Padahal saya punya anak itu baik sekali. Dengan itu warga di situ, baik pokoknya dia itu. Orang sudah tahu sudah hampir 9 tahun, hampir 9 tahun di sana," kata Maria.

Kepergian Alfonsius ke Papua pada 2018 sempat ditentang Maria. Ia khawatir karena mengetahui wilayah tersebut merupakan daerah rawan. Namun, Alfonsius tetap memilih pergi merantau.

"Eh mama tidak usah cari tahu saya nekat ke sana. Pokoknya mama itu doa saja," kenang Maria menirukan pesan putranya.

Kekhawatiran sang ibu akhirnya berubah menjadi kenyataan setelah Alfonsius menjadi korban penembakan.

Tinggalkan Istri dan Anak Berusia Lima Tahun

Alfonsius--anak ketujuh dari delapan bersaudara. Ia merupakan putra dari Paulus Robertus.

Kakak pertama almarhum, Hendrikus Evenitus, mengatakan Alfonsius meninggalkan istri dan anak laki-laki yang masih berusia lima tahun.

Alfonsius dan istrinya menikah pada 2021. Keduanya kemudian menjalani kehidupan keluarga di Papua.

Istri dan anak Alfonsius kini masih berada di Papua, sementara keluarga di Sikka menunggu jenazahnya dipulangkan ke tanah kelahirannya.

Sebelum meninggal, Alfonsius juga dikenal ibunya sebagai sosok yang mudah tergerak membantu orang lain.

"Bangun pagi dia tuh pokoknya dari sana kalau orang-orang minta bantuan tuh cepat kali," tutur Maria.

Ia bahkan masih rutin mengirim uang kepada ibunya di Sikka, meski Maria selalu meminta agar uang tersebut digunakan untuk kebutuhan Alfonsius bersama istri dan anaknya.

"Terus-terus dia kirim. Rp1.500.000, pokoknya saya ini jangan dengar sakit dia kirim. Malahan saya ini bilang: 'Sudah tidak usah kirim Mama.' Mama masih sehat, bisa jalan," ujar Maria.

Kini, uang kiriman, telepon dan janji kepulangan itu tinggal kenangan. Yang tersisa bagi Maria dan keluarga hanyalah penantian di rumah duka, menunggu putra mereka kembali untuk terakhir kalinya.

Bupati Sikka Datangi Rumah Duka

Juventus Prima Yoris Kago

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago saat bertemu dengan bapa dan mama dari almarhum drh. Alfonsius Albinus Mehan di Kelurahan Wailiti, Jumat (11/9/2026). Foto/ Mario Sina.

Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, mendatangi rumah duka Alfonsius pada Jumat (11/9/2026) untuk menyampaikan belasungkawa kepada keluarga.

Juventus mengatakan Alfonsius merupakan adik kelasnya yang ia kenal secara pribadi.

"Yang pertama tentu kami sampaikan atas nama pemerintah seluruh masyarakat Kabupaten Sikka tentu mengucapkan turut berduka cita, belasungkawa atas kepergian almarhum," kata Juventus.

Ia mengecam keras aksi penembakan yang menewaskan Alfonsius dan dua rekannya.

"Jadi anak baik yang berjuang mencari hidup, berbakti buat masyarakat Papua. Tapi menurut saya perbuatannya sangat keji. Perbuatan itu menunjukkan itu bukan perbuatan manusia, itu perbuatan yang biadab," tegasnya.

Juventus meminta pemerintah pusat dan aparat keamanan mengusut kasus tersebut secara terbuka dan tuntas.

"Dan negara tidak boleh takut! Kami minta Pak Presiden, Pak Prabowo Subianto, Bapak Panglima TNI, Bapak Kapolri, kami minta penanganan secara terbuka, transparan, penyelesaian secara transparan. Negara tidak boleh kalah dengan kelompok teroris, kelompok separatis, atau apa pun itu, negara tidak boleh kalah," ungkapnya.

Ia berharap negara hadir memberikan kepastian hukum bagi keluarga korban dan memastikan kejadian serupa tidak kembali terjadi.

"Kami mohon penyelesaian ini dan negara, Pak Prabowo, negara tidak boleh kalah, tidak boleh takut dengan kelompok-kelompok separatis," katanya.

Baca juga artikel terkait KASUS KEKERASAN DI PAPUA atau tulisan lainnya dari Mario Wihelmus PS

tirto.id - Flash News
Reporter: Mario Wihelmus PS
Penulis: Mario Wihelmus PS
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama