tirto.id - General Manager PHR Zona Rokan, Andre Wijanarko, menekankan bahwa keberlanjutan ekosistem menjadi elemen kunci dalam menjaga stabilitas produksi migas nasional. Menurutnya, karhutla adalah risiko nyata yang dapat mengganggu infrastruktur energi sekaligus membahayakan masyarakat. "Penurunan visibilitas, gangguan kesehatan pekerja, serta ancaman terhadap keselamatan masyarakat sekitar adalah risiko yang wajib kami mitigasi secara komprehensif sejak fase awal. Kesiagaan personel Fire Brigade dan formasi armada alat berat kami di lapangan hari ini merepresentasikan ketegasan PHR dalam melindungi aset negara sekaligus mengamankan ruang hidup masyarakat," ujar Andre. Langkah kesiapsiagaan yang dilakukan PHR selaras dengan kebijakan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam menghadapi potensi tantangan hidrometeorologi tahun 2026. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Hanif Faisol Nurofiq, yang bertindak sebagai pembina apel, menegaskan pentingnya respons dini di tingkat lapangan (early fire response). KLH/BPLH juga memberikan apresiasi terhadap kesiapan armada dan personel dalam apel siaga yang digelar di kawasan Rumbai. Hanif menilai kesiapan sejak awal menjadi faktor penting dalam mencegah meluasnya kebakaran, terutama di wilayah dengan karakter lahan gambut yang rentan. "Pengendalian Karhutla mewajibkan sinergi lintas sektor secara terpadu. Kolaborasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan dunia usaha adalah kunci utama mewujudkan lingkungan yang aman, bebas Karhutla, demi keberlanjutan ekosistem serta kesehatan masyarakat luas," tegas Hanif di hadapan ratusan personel. Dalam praktiknya, peran PHR tidak hanya terbatas pada pencegahan di wilayah operasional, tetapi juga mencakup dukungan saat terjadi eskalasi kebakaran di tingkat regional. Saat periode siaga Idulfitri 1447 H, tim pemadam PHR turut diterjunkan ke Dumai untuk membantu operasi pemadaman bersama Satgas Gabungan yang melibatkan TNI, Polri, dan Manggala Agni. Dukungan tersebut meliputi pengerahan personel serta peralatan untuk mengendalikan titik api di kawasan gambut. Apel Kesiapsiagaan Karhutla 2026 sendiri melibatkan lebih dari 500 personel gabungan dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, hingga sektor swasta. Kolaborasi ini menjadi indikator kesiapan Provinsi Riau dalam menghadapi potensi kebakaran akibat cuaca ekstrem sepanjang tahun ini.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































