Menuju konten utama
Horizon

Petani Muda Bergandengan dengan Alam, Tak Cuma Mengeruknya

Para petani muda di Lumajang memproduksi dan menggunakan pupuk organik sendiri. Mereka mencoba bekerja selaras dengan alam meski belum bisa sepenuhnya.

Petani Muda Bergandengan dengan Alam, Tak Cuma Mengeruknya
Header Horizon Anak Muda Yang Menggunakan Pupuk Organik. tirto.id/Tino
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Artikel sebelumnya: Jatuh dan Bangun Lagi, Potret Petani Muda di Lumajang

"Sejak kecil, di sekolah, kita diajari materi soal ekosistem alam, rantai makanan. Iya, 'kan?" begitu pertanyaan retoris yang dilontarkan Restu, mengawali cerita soal pertanian organik yang digelutinya sejak 2020.

Rantai makanan di sawah, ia melanjutkan, dimulai dari padi sebagai produsen, yang kemudian dimakan oleh tikus atau burung pipit. Lalu binatang pengerat dilahap oleh ular, sedangkan ular dimakan burung elang. Sampai akhirnya bangkai konsumen terakhir tersebut diurai oleh bakteri hingga menjadi pupuk alami yang diserap kembali oleh tanaman.

Jika salah satu aktor di dalamnya mati, rantai makanan akan kacau. Misalnya dalam kasus banyak ular mati. Akibatnya, tikus merajalela, membeludak.

Kebanyakan para petani, sepengetahuan Restu, menangani masalah peningkatan jumlah kawanan tikus macam itu dengan obat pembasmi. Padahal di sisi lain, bahan kimia sintetis yang dipakai itu tak sedikit menghasilkan residu yang berbahaya bagi tanah.

"Belum lagi penggunaan pupuk kimia yang ugal-ugalan... Alhasil, sekarang, ekosistem tanah, sejak digempur oleh bahan kimia sintetis, telah rusak," keluhnya, saat ditemui di warung kopi pinggir jalan di Jalan Gajah Mada, Kepuharjo, Kecamatan Lumajang, Kabupaten Lumajang, pada malam Minggu yang riuh, 16 Mei 2026.

Keyakinan Restu untuk memproduksi dan menerapkan pertanian berbasis pupuk organik sedikit banyak dipengaruhi oleh idealismenya sebagai generasi Z yang cukup melek isu lingkungan. Awalnya, ia tidak yakin bisa terjun ke pertanian karena di Indonesia, wabilkhusus di Jawa, tanahnya telah rusak, tak lagi subur.

Pertanyaan retoris di awal itu pula yang membuatnya getol mempelajari alam. Bahwasanya, kata dia, alam telah menyediakan semuanya. Segala jenis pohon di hutan bisa tumbuh subur dengan sendirinya, menyediakan makanan bagi manusia pemburu dan peramu zaman dulu, tanpa sedikit pun pupuk kimia sintetis.

"Pohon pepaya, misalnya, menggugurkan daun dan batangnya ketika sudah kering. Lalu, bagian tanaman itu diurai oleh bakteri dalam tanah hingga dengan sendirinya menjadi pupuk. Itulah rahasia kesuburan yang alami," lanjutnya.

Hal yang dipelajari dan kemudian dikampanyekan oleh Restu dengan percaya diri pada malam itu bukanlah bualan. Ia mengaku mempelajarinya secara autodidak, perlahan-lahan, dengan bekal motivasi sebagaimana disebutnya di awal. Bahwasanya tanah kita telah rusak.

Memang tak sekomprehensif pemahaman ahli pertanian. Misalnya Drs. Achmad Sjaifullah, M.Sc., Ph.D, akademisi bidang Kimia Organik Universitas Negeri Jember, yang saya wawancarai pada Jumat (29/5) sore, via telepon, sekitar sepekan setelah berbincang dengan Restu soal praktik pertanian organiknya.

Sjaifullah membenarkan bahwa bahan kimia sintetis, termasuk pestisida, mengeluarkan residu yang berbahaya bagi tanah. Bahan pangan yang dihasilkan juga akan mengancam kesehatan manusia dalam jangka panjang.

"Residu tidak bisa hilang. Ia tetap beracun. Kalau dibiarkan, lama-lama, ya, cuma numpuk," jelasnya.

***

Sama seperti kebanyakan angkatan kerja di Indonesia, Restu juga tidak berasal dari jurusan yang selaras dengan bidang yang ditekuninya. Pemuda berperawakan gempal itu merupakan lulusan Manajemen Informatika Universitas Brawijaya.

Segala soal pertanian, terutama tentang pupuk organik, ia pelajari secara autodidak, dari sang ayah, dari buku, dari pengalaman, juga dari YouTube. Semuanya dilakukan demi membangun ekosistem organik yang ia dambakan.

"Aku pengennya nanti semuanya membentuk ekosistem: punya ladang jagung, sebagian panennya dipakai untuk pakan ayam, tahi ayamnya dipakai untuk pupuk, pupuknya untuk menghidupi lahan. Begitu seterusnya," dengan mata berbinar ia menjelaskan imajinasi idealis soal pertanian organik.

"Pertanian yang bergandengan dengan alam," tiba-tiba Restu memungkasi pernyataannya, seolah ia baru saja beroleh ilham berupa kata-kata mutiara, entah dari mana.

Selama enam tahun terakhir, Restu rutin menampung limbah air cucian beras dari tetangga-tetangga rumahnya, untuk kemudian ditampung di dalam beberapa drum seukuran 100 liter.

Setelah itu, ia mencampurnya dengan dedaunan kering apa saja, mulai dari cacahan tebon, jerami, hingga rerumputan. Lalu, sebagai pelengkap dan tak kalah penting, ia memasukkan bakteri pengurai, yang diambilnya dari dedaunan yang baru mulai membusuk di bawah pepohonan--biasanya bambu--di wilayah yang jauh dari rumahnya.

Setelah didiamkan selama dua hingga tiga bulan, gentong-gentong tersebut ia pindahkan ke dalam bak air terbuat dari semen. Ukurannya jauh lebih besar, kurang lebih 5x2 meter.

Dari "kolam" itulah sumber nutrisi ladangnya berasal. Ia memang memanfaatkan pupuk buatannya untuk pribadi, tak berniat mengomersialkannya. Beruntungnya, lahan yang dijadikan sebagai arena eksperimen merupakan lahannya sendiri, meskipun kegagalan tak pernah lepas darinya.

"Sejak 2023-2024, hasilnya tidak menguntungkan, hanya balik modal, karena cuaca yang tidak menentu," jelasnya.

Produksi Pupuk Organik

Drum produksi pupuk organik milik Restu. Tirto.id/Fadli Nasrudin

Pupuk seperti buatan Restu itulah yang dimaksud oleh Sjaifullah sebagai pupuk organik. Sebab, kalau prosesnya tidak alami, meskipun bahan-bahannya organik, pupuk tidak bisa lantas disebut pupuk organik.

"Misalnya, dalam proses pelarutan atau penguraiannya menggunakan asam pekat atau bahan sintetis, jadi nggak melalui proses penguraian alami; maka ia tidak bisa disebut pupuk organik," terangnya, dengan tempo pelan dan bahasa ringan sehari-hari. Ia berusaha memastikan saya memahami betul hal-hal yang disampaikannya, agar tak ada misinformasi.

Geliang Penggunaan Pupuk Organik yang Sukar Disebarluaskan

Dengan visi sama, meskipun caranya berbeda, geliang produksi pupuk organik juga ditunjukkan oleh Arif Yunianto. Sudah tujuh tahun ini ia memproduksi pupuk organik dan menjualnya—tidak secara bebas—dengan nama jenama Sari Luhur.

Keresahannya sama: tanah di Indonesia, terutama wilayah Jawa, telah rusak. Mikroorganisme alami di dalamnya telah banyak yang mati. Nyaris habis, katanya.

"Itu semua karena tanah kita telah berpuluh-puluh tahun digenjot oleh sistem Revolusi Hijau ala Orde Baru," tegas Arif, saat dikunjungi di rumahnya yang berlokasi di Desa Tukum, Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang.

Ia repot-repot menyambut saya pada Minggu (10/5) pagi di rumahnya. Padahal, hari itu ia sudah punya agenda berkunjung ke ladang tebu di daerah Yosowilangun, milik seorang dosen UIN Jember, hendak mengambil sampel tanah dari ladang tersebut.

Rencananya, sampel tersebut akan diuji di laboratorium untuk mengecek kandungannya. Lalu, sampel itu akan dibandingkan dengan sampel berikutnya, yang telah diberi pupuk organik buatannya. Jika hasil uji laboratorium sesuai ekspektasi, produknya bakal punya legitimasi kuat untuk dipasarkan secara masif, layaknya pupuk kimia sintetis yang dijajakan bebas sejak lama.

Shafry adalah salah satu petani yang menunggu keluaran lab tersebut. Ia baru bisa mengukuhkan tekadnya untuk menggunakan Sari Luhur jika sudah ada bukti saintifik soal kemanjurannya terhadap tanaman pangan.

"Ya, itu aku nunggu tebu milik dosen itu [baru yakin mau pakai Sari Luhur],” tegasnya.

Sebenarnya, sekarang sudah puluhan petani yang menggunakan pupuk organik buatannya. Namun, menurut dia, makin banyak yang mengaplikasikan pupuk organik, makin baik kualitas tanah kita di kemudian hari.

Sudah cukup, kata dia, berpuluh-puluh tahun tanah pertanian di Indonesia disusupi bahan kimia sintetis hingga akhirnya sekarang kecanduan. Dan sekarang, dampak dari kerusakan akibat bahan destruktif itu kian nyata di depan mata. Pupuk organiklah yang, salah satunya, menurutnya, bisa memperbaiki itu.

Ladang Tebu

Dari kiri, Prasetyo dan Arif Yunianto, tengah melihat-lihat ladang tebu yang hendak diambil sampel tanahnya. Tirto.id/Fadli Nasrudin

Hal sama juga dikeluhkan oleh Restu sebagai pegiat pupuk organik rumahan buatan sendiri dan konsumsi pribadi.

"Dulu, menurut cerita-cerita bapakku, panen satu hektare ladang padi bisa mencapai belasan ton, dengan kebutuhan pupuk cuma 1 kwintal. Tapi sekarang, hasil panennya cuma mentok di 6-7 ton, dengan keperluan pupuk kimia sintetis mencapai 1 ton," ujar Restu, seolah menuntut saya untuk membayangkan betapa jauh ketimpangan hasil panen sekarang dan masa lalu, juga betapa tinggi kadar kecanduan tanah terhadap pupuk kimia sintetis.

Pernyataan yang terdengar pesimistis itu bukanlah bualan atau karangan Restu belaka. Kondisi tanah Indonesia memang sudah memprihatinkan. Hal itu dikonfirmasi oleh Wildan Muhlison S.P., M.Si, dosen Universitas Jember yang membidangi entomologi, pertanian organik, dan manipulasi habitat.

"Ada beberapa penelitian yang menyatakan, tanah di Pulau Jawa itu rata-rata bahan organiknya berada di bawah standar minimal, yaitu 5 persen," ujarnya melalui pesan suara WhatsApp, Jumat (29/5).

Menurut dia, kalau bahan-bahan organik menipis, tanah akan sakit, tidak bisa bekerja secara optimal, khususnya dalam produksi tanaman pangan. Dalam konteks itulah pupuk organik mengambil peran krusial.

Sebagaimana juga diamini oleh Sjaifullah, pupuk organik, seturut penjelasan Wildan, berfungsi memperbaiki tanah, baik secara fisika (berhubungan dengan agregat tanah), kimia (berhubungan dengan pH), maupun secara biologis (berhubungan dengan mikroba alami dalam tanah).

Akif, "anak didik" sekaligus pelanggan tetap Arif Yunianto, juga menyadari hal itu. Ia pun menjadi cukup aktif dan tampak begitu semringah saat menjelaskan soal impak buruk pertanian kimia sintetis.

"Banyak orang tidak sadar sampai sekarang. Mereka sering kali menyalahkan tanahnya. Padahal, tanah itu sejak awal diciptakan Tuhan sudah ajaib (bagus kualitasnya). Manusialah yang merusaknya," tegasnya, dengan suara menggelegar, padahal tempat duduk kami berhadap-hadapan, terdengar jelas, bahkan meskipun dia berbisik. Suaranya begitu lantang, seolah seisi warung kopi langganan di tengah kota itu harus mendengar dan menghayati kesadaran yang sedang ia bangun.

Siang itu, matahari sedang terik-teriknya. Ia juga baru saja pulang dari sawah. Menyemprot pupuk organik buatan Arif, Sari Luhur, katanya.

"Cuaca cerah begini bagus buat padi. Fotosintesisnya jalan. Kalau hujan terus, itu yang bikin padi rusak," terangnya, mensyukuri cuaca panas terik yang menerpa hari itu, Selasa (5/5).

Hampir semua kebutuhan pupuk dan pestisida di lahan milik Akif berasal dari produk-produk Sari Luhur. Mulai dari pupuk cair hingga pengusir tikus.

Untuk hama tikus, ia tidak berupaya membunuhnya. Tidak seperti kebanyakan petani lain yang menggunakan rodentisida untuk membunuh sebanyak-banyaknya binatang pengerat itu.

Akif menggunakan cairan pengusir tikus, yang juga hasil ramuan Arif. Pagar Tikus, begitu ia menamakan produknya. Tak seperti pupuk cair buatannya, yang begitu menyengat bagai terbuat dari campuran tahi, ramuan pengusir tikus tersebut berbau sedap, seperti saus barbeku. Kalau-kalau labelnya dilepas, orang mungkin mengira bahwa itu adalah saus andalan penyedap dalam acara-acara barbeku, hanya saja berukuran jumbo.

"Tidak perlu repot-repot membunuh mereka (tikus) sebenarnya. Cukup mengusirnya dengan bau yang tidak mereka sukai. Dan bau ini (menunjuk produk Pagar Tikus buatannya) tikus nggak suka," terang Arif, dengan percaya diri, yang kemudian disusul oleh penjelasan mendetail soal tikus dan kebiasaannya.

Meski tak seluruhnya pernyataan Arif benar, upaya pengusiran dengan hal-hal berbau menyengat, seperti terejawantahkan melalui produk buatannya, dinilai sudah selaras secara teori. Ahli pertanian organik dari Universitas Negeri Jember yang memvalidasinya.

Tikus, menurut pengamatan Wildan Muhlison, termasuk hewan cukup pintar. Kawanan hewan pengerat itu tidak bisa ditangani dengan satu cara sebab mereka cepat belajar. Setelah dibunuh satu kumpulan, yang lain akan bisa menghindarinya. Setelah dikeroyok sarang singgahnya, mereka akan mencari jalan lain.

Apalagi, masih seturut penjelasan Wildan, kelimun tikus biasanya memiliki lokasi singgah dan makan yang berbeda. Jalur berangkat dan pulangnya pun acap kali berlainan.

"Untuk [mengusir] tikus, kita harus menggunakan aroma-aroma yang menyengat atau penolak. Asalkan dirotasi. Musim tanam pertama menggunakan penolak A, musim tanam kedua [memakai] penolak B, dan seterusnya," jelas Wildan, yang telah menerbitkan lebih dari selusin riset soal pertanian organik, dengan intonasi tegas dan mudah dimengerti.

***

Salah satu titik mula Akif meyakini sepenuhnya penggunaan pupuk organik adalah saat dia melihat sendiri hasil di lahannya, ketika serangan tikus sedang ganas-ganasnya. Dia bercerita, ketika dirinya berada di masa-masa merajuk dan enggan pergi ke sawah, lahannya sudah menggunakan Sari Luhur, pertama kali.

Lahan miliknya, yang terletak di Desa Sumberjo, Kecamatan Sukodono, dengan luasan setengah hektare, terbagi menjadi dua. Keduanya terpisah oleh lahan lain yang digarap oleh Khudori (42), seorang buruh tani yang juga sering dipekerjakan oleh Akif, misalnya saat waktunya menyiangi rumput.

Pada waktu-waktu itu, hanya tanah garapan Akif yang disuntik Sari Luhur, termasuk ramuan Pagar Tikus. Lahan yang diolah Khudori tergolong di antaranya: masih konvensional, hanya mengandalkan pupuk kimia sintetis dan pestisida.

Setelah masa vegetatif dan generatif berjalan, hasilnya begitu kentara dan timpang. Nyatanya, menurut kesaksian Khudori, lahan setengah hektare milik Akif bersih dari tikus.

"Lahanku rusak 'dikeroyok' tikus waktu itu, Mas," akunya, di tengah jeda istirahat, selepas ia menyelesaikan penyemprotan di lahan milik Akif, Selasa (5/5).

Penyemprotan Pupuk

Khudori tengah menyemprot pupuk di lahan milik Akif. Tirto.id/Fadli Nasrudin

Berbagai bukti itulah yang membuat Akif makin yakin dengan organik. Ia pun sebenarnya tidak terlalu membeda-bedakan pupuk organik.

"Semua organik itu baik," ujarnya menyimpulkan.

Memang, Akif sendiri mengakui, mustahil menerapkan pertanian organik secara mentah-mentah. Akif dan para petani lain yang satu leting telah menyadari itu. Bahwasanya tidak mungkin secara langsung di awal hanya mengandalkan pupuk organik.

Di sekitaran sawah milik Akif yang berlokasi di Desa Sumberjo, misalnya, hampir semuanya menggenjot penggunaan pupuk kimia sintetis dan pestisida. Hanya milik Akif dan Khudori yang tidak. Tapi masalahnya, air irigasinya mengalir untuk semua lahan di sekitarnya, dengan sistem buka-tutup bergiliran. Maka, muskil suatu lahan bisa bebas dari paparan kimia sintetis ketika aliran airnya penuh dengan anorganik.

Selain itu, tanah yang biasa terpapar bahan kimia sintetis tidak bisa langsung produktif jika asupan instan itu dihilangkan sama sekali dan diganti dengan pupuk organik. Maka, perlu ada masa transisi, sebelum beralih sepenuhnya nanti.

"[Apalagi] kita sebagai petani juga punya hitung-hitungan produktivitas dan keuntungan. Oleh karena itu, aku menerapkannya secara hybrid. Masih menggunakan kimia sintentis, tapi jauh lebih sedikit dibanding [petani] lainnya," jelasnya.

Andaikan semua orang sadar, menurut Akif, tanah kita akan subur kembali seperti dulu. "Seperti lirik lagu Koes Plus: 'tongkat kayu yang jatuh jadi tanaman'," katanya berseloroh, disusul dengan gelak tawa.

Tonase panennya pun akan meningkat terus, ia meyakini.

Namun, seturut pengamatan lapangan dan riset yang dipelajari oleh Wildan Muhlison, pertanian organik sebenarnya tidak bisa diandalkan untuk menggenjot produktivitas. Ia memang bisa menyamai seperti produksi rata-rata sekarang, sekitar 5-7 ton per hektare, tapi itu pun butuh waktu. Kalau dalam bahasa Akif, seperti yang juga dipraktikkannya di lahan merger-nya dengan Shafry, perlu pemulihan kondisi lahan terlebih dahulu.

"Meski begitu, sistem organik ini bisa lebih efisien," Wilson menambahkan. Kebanyakan petani, menurut dosen lulusan magister IPB tersebut, menganggap bahwa pertanian organik itu cenderung merepotkan, terlalu banyak biaya produksi, baik itu soal input, frekuensi pemberian, maupun tenaga kerja.

Pola pikir itu muncul karena para petani skeptis, bahwa produk organik itu harus dibeli. Atau kalaupun tidak membelinya secara langsung, seperti halnya Akif rutin menebus produk Sari Luhur, bahan organik harus dicari, yang akhirnya mesti mengeluarkan biaya tambahan.

"Padahal tidak [seperti itu]. Kalau kita bisa mengobservasi lingkungan sekitar kita, kita bisa menemukan banyak bahan-bahan alam yang bisa kita manfaatkan sebagai input sistem budidaya organik," ujarnya.

Seia sekata dengan pernyataan Wildan Muhlison, Sjaifullah, yang merengkuh gelar PhD dari University of Strathclyde, juga cukup optimistis dengan prospek pertanian organik.

"Pertanian organik harus dikembangkan bersama, nggak mungkin kalau sendiri," tegasnya, sekaligus memungkasi wawancara kami via saluran telepon.

Baca juga artikel terkait PETANI MUDA atau tulisan lainnya dari Fadli Nasrudin

tirto.id - Horizon
Penulis: Fadli Nasrudin
Editor: Irfan Teguh Pribadi