tirto.id - Peta sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia pada Kamis (3/9/2026), menurut tangkapan citra pukul 13.00 WIB, menunjukkan kabut asap masih terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua.
Sebaran asap tersebut juga berpotensi bergerak mengikuti pola angin yang berkembang di atmosfer. Dalam pemantauan BMKG, arah angin di Indonesia secara umum bertiup dari Tenggara menuju Barat Laut hingga Utara, sehingga asap dari wilayah yang mengalami kebakaran dapat terbawa menuju daerah lain.
Bahkan, terdeteksi pula fenomena transboundary haze, yakni sebaran asap yang melintasi batas negara, dari Sumatra menuju Johor, Malaysia, serta dari Kalimantan menuju Sarawak, Malaysia, dan wilayah Filipina.
Peta Sebaran Asap Karhutla di Indonesia per Hari Ini 3 September
Berdasarkan citra sebaran asap yang ada di laman Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kamis (3/9/2206), asap terdeteksi di Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Pergerakan asap dipengaruhi oleh pola angin yang secara umum bertiup dari arah Tenggara menuju Barat Laut hingga Utara.
Di sejumlah wilayah Sumatra, yakni Sumatra Utara, Riau, Sumatra Barat, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatra Selatan, Lampung, serta Papua Selatan, asap terpantau bergerak ke arah Barat Laut.
Sedangkan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Maluku, asap bergerak ke arah Barat Laut hingga Utara. Adapun di Kepulauan Riau, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara, pergerakan asap mengarah ke Utara hingga Timur Laut.
Kondisi tersebut juga menyebabkan terdeteksinya transboundary haze (sebaran asap yang bergerak melintasi batas wilayah negara). BMKG mencatat adanya sebaran asap dari wilayah Sumatra menuju Johor, Malaysia, serta dari Kalimantan menuju Sarawak, Malaysia, dan hingga wilayah Filipina.
Prediksi Cuaca Sepekan, Adakah Potensi Hujan di Indonesia?
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer BMKG, kondisi cuaca di Indonesia saat ini cenderung lebih kering dari biasanya. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang masih bertahan.
Pada Dasarian II Agustus 2026, indeks IOD tercatat +0,29, sedangkan rata-rata indeks pada Agustus berada di angka +0,376. Kondisi ini ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat dari normal di bagian barat Samudra Hindia, sedangkan perairan di sekitar Sumatra dan Jawa bagian barat cenderung lebih dingin.
Perbedaan suhu tersebut dapat mengurangi jumlah uap air yang masuk ke wilayah Indonesia. Akibatnya, pembentukan awan hujan menjadi lebih terbatas dan beberapa wilayah berpotensi mengalami kondisi yang lebih kering.
Selain IOD positif, El Nino dengan intensitas sangat kuat juga masih terpantau. Hal ini terlihat dari nilai suhu permukaan laut di wilayah Nino3.4 yang mencapai +2,74 pada Dasarian II Agustus 2026, sedikit turun dari angka +2,83 pada Agustus.
Kondisi ini menunjukkan adanya pemanasan yang kuat di wilayah Pasifik yang dapat memengaruhi pola cuaca di Indonesia dan membuat sebagian wilayah lebih sulit mendapatkan hujan.
Analisis BMKG juga menunjukkan bahwa kondisi atmosfer secara umum memang kurang mendukung terbentuknya awan hujan. Namun, bukan berarti seluruh Indonesia akan mengalami cuaca kering tanpa hujan.
Beberapa fenomena atmosfer, seperti Gelombang Kelvin yang aktif di sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara, masih dapat membantu memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah yang dilewatinya.
Selain itu, aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) juga terpantau di Aceh bagian utara, Maluku bagian timur, dan sebagian besar Papua, sehingga peluang terbentuknya awan hujan masih ada di wilayah-wilayah tersebut.

Untuk periode sepekan ke depan (3-9 September 2026), potensi pertumbuhan awan hujan kategori tinggi, yakni lebih dari 70 persen, diprakirakan terdapat di sejumlah wilayah, antara lain:
- Aceh,
- Sumatra Utara,
- Sumatra Barat,
- Riau,
- Jambi,
- Bengkulu,
- Lampung,
- Jawa Barat,
- Kalimantan Utara,
- Kalimantan Timur,
- Kalimantan Tengah,
- Kalimantan Barat,
- Sulawesi Barat,
- Sulawesi Tengah,
- Sulawesi Selatan,
- Maluku Utara,
- Papua,
- Papua Barat,
- Papua Barat Daya,
- Papua Tengah,
- Papua Pegunungan, dan
- Papua Selatan.
Dalam analisis kondisi terkini, BMKG mencatat bahwa dalam periode 24 jam terakhir hujan dengan intensitas sedang hingga lebat terjadi di sebagian wilayah Sumatra Utara.
Hujan ringan hingga sedang juga terjadi di sejumlah wilayah lain, termasuk Aceh, Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.
Update Sebaran Hotspot dan Potensi Karhutla
Data titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 2 September 2026 pukul 00.00-23.00 WIB menunjukkan terdapat 264 titik panas di Sumatra, 463 titik panas di Kalimantan, dan 60 titik panas di Papua dan Maluku.
BMKG secara khusus melakukan analisis terhadap tujuh provinsi prioritas pemantauan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Berdasarkan pemantauan dalam 10 hari terakhir, jumlah titik panas di tujuh provinsi tersebut menunjukkan pola yang cenderung fluktuatif.
Meskipun jumlahnya dapat berubah dari hari ke hari, keberadaan titik panas dalam jumlah besar, terutama di Sumatra bagian tengah hingga selatan dan sebagian besar wilayah Kalimantan, menjadi indikator yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Dari sisi Fire Weather Index (FWI), BMKG memprediksi potensi karhutla di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan selama periode 3–9 September 2026 berada dalam rentang kategori rendah (biru) hingga sangat tinggi (merah). Berikut rinciannya:
- Sumatra: potensi karhutla teridentifikasi di sebagian kecil Sumatra Barat dan Bengkulu, serta sebagian wilayah Kepulauan Riau, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, dan Kepulauan Bangka Belitung.
- Jawa: potensi karhutla terdapat di sebagian besar wilayah.
- Kalimantan: potensi tersebut diperkirakan terdapat di sebagian besar Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, serta sebagian kecil Kalimantan Utara.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id































