Perusahaan Energi Digeser Teknologi

Oleh: Wan Ulfa Nur Zuhra - 18 Agustus 2016
Dibaca Normal 2 menit
Sepuluh tahun lalu, daftar perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi didominasi perusahaan minyak dan beberapa konglomerat multinasional. Kini, perusahaan-perusahaan berbasis teknologi menggeser posisi mereka.
tirto.id - Ketergantungan penduduk dunia terhadap teknologi kian besar. Fenomena ini tak hanya mengubah gaya hidup dan kebiasaan manusia. Ia juga mengubah wajah bisnis secara global.

Tahun 2006, ExxonMobil merajai pasar. Kapitalisasi pasarnya tertinggi di seluruh dunia, menyentuh angka $362,5 miliar kala itu. ExxonMobil adalah perusahaan multinasional di bidang minyak dan gas asal Amerika Serikat. Ia menjadi perusahaan energi milik swasta terbesar yang memproduksi sekitar 3 persen minyak di dunia.

Di tahun itu, General Electric (GE) juga tercatat sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi. Posisinya tepat berada di bawah ExxonMobil. Sama seperti Exxon, GE juga berasal dari Amerika. Ia sudah berdiri sejak 1890. Salah satu pendirinya adalah Thomas Alva Edison.

GE, sebagai konglomerat multinasional memiliki sembilan anak usaha yang bergerak di berbagai bidang, termasuk energi, distribusi listrik, motor listrik, lampu, lokomotif, perangkat lunak, turbin angin, senjata, keuangan, hingga kesehatan. 10 tahun lalu itu, ia berada di posisi kedua dengan nilai kapitalisasi pasar $348,5 miliar.

Kapitalisasi pasar adalah saham perusahaan yang beredar di pasar. Ia berbeda dengan nilai aset perusahaan. Sehingga kapitalisasi pasar sebuah perusahaan tidak menggambarkan nilai aset perusahaan. Perusahaan yang asetnya banyak belum tentu memiliki kapitalisasi pasar tinggi, begitu pula sebaliknya.

Pada tahun 2006 itu, satu-satunya perusahaan teknologi yang masuk dalam enam besar perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi adalah Microsoft. Ia juga berasal dari Amerika Serikat. Microsoft mengembangkan, membuat, memberi lisensi, dan mendukung beragam produk dan jasa terkait dengan komputer.

Perusahaan ini didirikan oleh Bill Gates dan Paul Allen pada 4 April 1975. Pada tahun 2006 itu, ia merupakan pembuat perangkat lunak terbesar di dunia. Kapitalisasi pasarnya pada saat itu mencapai $279 miliar. Ia menjadi perusahaan teknologi pertama yang masuk dalam daftar tiga besar perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia.

Di bawah Microsoft, tiga negara yang masuk dalam daftar perusahaan dengan nilai terbesar di dunia adalah Citigroup, BP, dan Royal Dutch Shell. Masing-masing mengantongi nilai pasar $230,9 miliar, $225,9 miliar, dan $203,5 miliar. BP dan Royal Dutch Shell adalah juga perusahaan energi. Jadi, sangat jelas dominasi perusahaan minyak dan energi begitu kentara sepuluh tahun lalu.

Waktu itu, Facebook masih bayi. Nilai Apple juga masih sangat rendah. Untuk bisa setara dengan ExxonMobil, nilai kapitalisasi pasar Apple harus dikalikan enam.

Sepuluh tahun kemudian, zaman berubah. Penemuan-penemuan di bidang teknologi semakin dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Ponsel pintar, komputer jinjing, tablet, belanja online, media sosial adalah item yang tak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Nilai pasar perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi pun melonjak tinggi.



ExxonMobil yang sepuluh tahun lalu nilainya setara dengan enam kali nilai Apple saat itu pun kini berhasil disalip oleh empat perusahaan berbasis teknologi. Sampai Agustus tahun ini, nilai kapitalisasi pasar Apple sudah menyentuh angka $571,4 miliar, jauh melampaui nilai ExxonMobil saat ini yang bahkan turun dari sepuluh tahun lalu menjadi $356 miliar.

Facebook yang sepuluh tahun lalu masih bayi, kini masuk dalam enam besar perusahaan yang kapitalisasi pasarnya besar. GE, Citigroup, BP, dan Shell pun hilang dari daftar. Mereka digeser Apple, Alphabet, Amazon, dan Facebook.

Perusahaan-perusahaan teknologi yang berhasil menggeser ini bukanlah perusahaan-perusahaan tua seperti GE atau ExxonMobil. Amazon, Facebook, dan Apple, baru muncul tahun 1990-an, bahkan Facebook baru muncul pada Februari 2004.

Ketika perusahaan minyak menghadapi krisis pasokan, perusahaan teknologi hadir dengan beragam inovasi dan keunikan. Amazon misalnya, bisa membawa keuntungan kepada investor dengan risiko yang kecil.

Walmart, peritel terbesar asal Amerika pernah masuk dalam daftar lima besar, 15 tahun lalu. Tetapi perusahaan jenis ini sulit memperbesar skalanya. Bisa saja, tetapi dibutuhkan usaha dan ada risiko yang lebih besar.

Ia berbeda dengan perusahaan teknologi yang dengan mudah bisa ekspansi. Mereka bisa memperluas skala bisnis tanpa terhalang oleh banyaknya masalah seperti yang dihadapi perusahaan-perusahaan dengan besar dengan jutaan karyawan.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Wan Ulfa Nur Zuhra
(tirto.id - Bisnis)

Reporter: Wan Ulfa Nur Zuhra
Penulis: Wan Ulfa Nur Zuhra
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti
DarkLight