Menuju konten utama

Kenali 5 Perbedaan Salep dan Krim supaya Gak Salah Pilih!

Antara salep dan krim, mana yang lebih ampuh? Yuk, ketahui dulu perbedaan salep dan krim, mulai dari komposisi, tekstur, hingga daya serapnya pada kulit.

Kenali 5 Perbedaan Salep dan Krim supaya Gak Salah Pilih!
ilustrasi salep. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Cream dan salep untuk kulit bisa ditemukan dengan mudah di pasaran. Meski terlihat mirip dan memiliki fungsi serupa, terdapat beberapa perbedaan salep dan krim yang perlu diketahui agar kita bisa memilih produk perawatan kulit yang tepat.

Ketika berbelanja skincare atau obat kulit, kita pasti familiar dengan istilah krim dan salep. Pada dasarnya, produk obat maupun perawatan kulit topikal (dioleskan) memang hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari krim, salep, losion, hingga gel yang teksturnya sangat ringan.

Semuanya memiliki fungsi serupa, yaitu merawat, melembapkan, atau mengatasi masalah kulit tertentu. Khusus untuk salep dan krim, keduanya berbeda dari segi komposisi, tekstur, hingga daya serapnya ke kulit.

Produk ini bisa ditemukan dalam bentuk jar atau tube yang praktis. Lalu, soal merawat kulit, mana yang lebih baik di antara keduanya? Untuk tahu jawabannya, maka kita tak hanya wajib mengenal kebutuhan kulit, tapi juga memahami perbedaan salep dan krim secara menyeluruh.

5 Perbedaan Salep dan Krim, Apa Saja?

Ilustrasi Salep

Ilustrasi Salep . FOTO/iStockphoto

Salep dan krim adalah dua jenis produk topikal yang sering digunakan, baik untuk tujuan medis maupun kosmetik.

Meskipun keduanya tampak mirip, ada perbedaan penting dalam hal komposisi, tekstur, hingga daya serapnya pada kulit. Berikut adalah beberapa perbedaan salep dan krim dikutip dari laman Healthline:

1. Komposisi

Perbedaan utama antara salep dan krim terletak pada komposisi bahannya. Krim mengandung campuran seimbang antara minyak dan air, sementara salep memiliki kandungan minyak yang sangat tinggi, yaitu sekitar 80%, sehingga lebih kental dan berminyak dibandingkan krim.

2. Daya Serap ke Kulit

  • Salep
Salep memiliki kandungan minyak yang dominan sehingga produk ini tidak cepat terserap dan cenderung membentuk lapisan pelindung di atas kulit. Hal ini membantu kulit tetap lembap lebih lama dan meningkatkan efektivitas obat atau bahan aktif yang terkandung di dalamnya.

Contoh bahan dalam salep termasuk mineral oil dan petroleum yang bekerja sebagai oklusif untuk mencegah kehilangan kelembapan. Namun, salep menimbulkan sensasi berminyak atau greasy ketika digunakan.

  • Krim
Krim memiliki kandungan air yang tinggi sehingga relatif lebih mudah terserap dibandingkan salep, sangat cocok untuk menutupi area kulit yang luas tanpa meninggalkan rasa terlalu berminyak.

Krim bekerja dengan cepat, tapi lapisan pelindungnya lebih tipis ketimbang salep sehingga cocok untuk penggunaan sehari-hari, contohnya day cream atau moisturizer untuk perawatan kulit wajah.

3. Konsistensi

  • Salep
Konsistensi salep cenderung lebih tebal, kental, dan berminyak daripada krim. Saat digunakan, akan timbul rasa yang lebih lengket di permukaan kulit. Namun, konsistensi yang sangat kental inilah yang membuat salep sangat efektif untuk mengatasi masalah kulit.

  • Krim
Teksturnya jauh halus dan ringan dibandingkan salep. Berkat kandungan air yang cukup tinggi, krim bisa terasa ringan dan tidak terlalu lengket di kulit, tapi ada juga krim yang masih terasa sedikit berminyak. Jika dibandingkan salep, krim tentunya lebih nyaman untuk pemakaian harian.

Ilustrasi Salep

Ilustrasi Salep. FOTO/iStockphoto

4. Bentuk atau Tampilan Fisik

  • Salep
Tampilan salep bisa pekat maupun transparan tergantung pada bahan dasarnya. Sama seperti krim, salep memiliki kepadatan yang baik sehingga mampu mempertahankan bentuknya dan tidak mudah tumpah atau meleleh saat dikeluarkan dari kemasannya.

  • Krim
Krim umumnya memiliki tampilan yang pekat sehingga bentuknya tetap stabil baik saat dikeluarkan dari tabung maupun diambil dari wadah pot/jar. Berdasarkan klasifikasi sistematis obat topikal, krim dideskripsikan sebagai sediaan yang memiliki viskositas tinggi, namun tetap mudah dibaurkan.

5. Penggunaan

  • Salep
Salep biasanya dikemas dalam tube/tabung, tapi ada juga beberapa merek yang mengemasnya dalam bentuk jar. Salep lebih sering digunakan untuk obat yang memerlukan efektivitas tinggi. Ini karena formulanya yang tebal dan berbasis minyak mampu menjaga kelembapan lebih lama.

Contoh penggunaannya antara lain perawatan eksim, dermatitis kontak, luka ringan, dan beberapa kondisi mata seperti konjungtivitis. Salep menjaga obat tetap menempel lebih lama dan meningkatkan efektivitasnya untuk mengatasi masalah kulit yang ada.

  • Krim
Krim lebih cocok untuk pemakaian di wajah, tangan, atau area kulit yang luas, serta untuk kondisi yang membutuhkan hidrasi lebih ringan tanpa rasa berminyak berlebih.

Krim sering digunakan sebagai pelembap sehari-hari, obat gatal, anestesi topikal sebelum prosedur medis, hingga perawatan kulit di area genital, termasuk pengobatan infeksi jamur.

Krim untuk penggunaan harian seperti moisturizer biasa dikemas dalam wadah jar maupun tube, tapi krim pengobatan (seperti hidrokortison untuk gigitan serangga dan gatal-gatal) sering dijumpai dalam kemasan tube yang praktis.

Salep dan Cream, Mana yang Lebih Ampuh?

Ilustrasi Skincare

Ilustrasi Krim. foto/IStockphoto

Setelah mengetahui perbedaan salep dan krim, pertanyaan selanjutnya adalah mana yang lebih ampuh di antara keduanya. Menentukan mana yang lebih baik sebenarnya tergantung pada kebutuhan kulit.

Salep bekerja sangat baik untuk kulit yang sangat kering karena formulanya yang tebal dan berbasis minyak dapat menahan kelembapan lebih lama. Salep juga efektif mencegah infeksi pada luka ringan atau terbakar.

Di sisi lain, krim efektif untuk merawat dan melembapkan kulit. Namun, krim lebih cocok digunakan oleh kulit sensitif atau kulit kering yang tingkat kekeringannya tidak terlalu parah, serta dapat diaplikasikan untuk area kulit yang lebih luas.

Sementara itu, ada sebuah studi yang menilai bahwa salep lebih ampuh dibandingkan krim dalam tujuan pengobatan masalah kulit. Studi tersebut bertajuk Ointment is Evenly Spread on the Skin, in Contrast to Creams and Solutions.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa salep terbukti menyebar secara merata di seluruh area yang diobati, memberikan dosis formulasi yang konsisten dari bagian tengah hingga ke pinggiran area kulit.

Sementara itu, krim cenderung tidak merata dengan dosis formulasi yang lebih rendah di bagian tepi area aplikasi. Hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh kandungan air yang cepat menguap. Salep sendiri yang tidak cepat menguap sehingga tetap merata di seluruh area.

Penggunaan Tergantung Tujuan

Ilustrasi Salep
Ilustrasi Salep. FOTO/iStockphoto

Untuk tujuan medis atau hendak mengatasi masalah kulit tertentu (seperti kulit yang sangat kering, eksim, atau tumit pecah-pecah), formula dalam bentuk salep lebih disarankan ketimbang krim karena memberikan perawatan maksimal.

Namun, menurut situs Very Well Health, krim dinilai lebih cocok untuk pengobatan di area lipatan kulit seperti area selangkangan atau ketiak. Oleh karena itu, krim juga dapat digunakan untuk mengobati masalah kulit seperti infeksi jamur di daerah genital.

Sementara untuk tujuan kosmetik, krim yang bertekstur ringan dan mudah diserap lebih ideal untuk penggunaan harian, seperti moisturizer yang bertujuan menjaga hidrasi kulit atau mengatasi kulit kering yang tidak terlalu parah.

Itulah beberapa perbedaan salep dan krim sebagai panduan memilih produk perawatan kulit yang tepat. Setiap produk memiliki karakteristik masing-masing sehingga pilihan di antara keduanya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit, area yang dirawat, dan kenyamanan saat digunakan.

Butuh rekomendasi salep, krim, atau produk perawatan kulit lainnya? Temukan berbagai produk pilihan hingga tips kecantikan di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel tentang Skincare

Baca juga artikel terkait SKINCARE atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani