Menuju konten utama

People Fight vs People Power: Langgar Hukum dan Korbankan Rakyat

Inas Nasrullah Zubir bilang ada yang siap melawan people power Amien Rais. Dia menamakannya people fight.

People Fight vs People Power: Langgar Hukum dan Korbankan Rakyat
mantan ketua umum partai amanat nasional (pan), amien rais memberikan pernyataan sikap kepada wartawan di kediamannya, sleman, kamis (3/9). amien rais menyatakan menyetujui dan merestui pan untuk bergabung dengan pemerintahan pimpinan presiden joko widodo. antara foto/regina safri/nz/15.

tirto.id - Anggota penugasan khusus Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Inas Nasrullah Zubir, mewanti-wanti adanya gerakan perlawanan terhadap people power, yakni people fight. People power adalah istilah yang kerap disebut Amien Rais kala bicara soal kecurangan pemilu.

Amien bilang people power akan menggagalkan pemilu jika muncul kecurangan yang sistematis, masif, dan terstruktur.

"Kita enggak akan ke MK (Mahkamah Konstitusi, satu-satunya institusi yang berwenang mengadili sengketa hasil pemilu), enggak ada gunanya. Kita langsung people power," kata Amien dua minggu sebelum hari pencoblosan.

Inas bilang bukan dia penggagas gerakan ini, meski mengaku kalau nama people fight memang berasal dari dia. Inas mengatakan itu adalah inisiatif dari para relawan Jokowi-Ma'ruf yang geram terhadap ucapan dan tindakan Amien Rais.

"Ada 100 grup relawan yang sudah menyatakan siap menyambut kemenangan Jokowi-Ma'ruf tanggal 22 Mei nanti. Kita tidak takut people power itu," tegas Inas kepada reporter Tirto, Rabu (8/5/2019).

Mengadu Domba Masyarakat

Peringatan Inas ini punya efek yang sama merusaknya seperti yang kerap dibicarakan Amien Rais. Apa yang diucapkan Inas hanya membuat situasi makin runyam dan berpeluang semakin memecah masyarakat yang memang sudah terdikotomi sedemikian rupa karena pilihan capres-cawapres yang berbeda.

"Ini seperti masyarakat akan diadu," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin kepada reporter Tirto.

Menurut Ujang, keduanya sama-sama bentuk ketidaktaatan terhadap demokrasi. Apa yang dinyatakan Inas bahwa people fight adalah upaya meredam people power sebenarnya seperti menyiram api dengan minyak: membuatnya lebih besar.

Oleh karena itu, kata Ujang, semestinya elite politik ikut serta meredam potensi konflik, alih-alih membesar-besarkannya.

"Apalagi ini bulan puasa. Kenapa bukan rekonsiliasi?" tambahnya.

Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kaka Suminta bahkan mengatakan kalau yang menggaungkan people power dan people fight sama-sama kekanak-kanakan. Untuk kasus people fight, kata Kaka, itu tak perlu muncul karena toh sudah ada kepolisian yang tugasnya memang menjaga keamanan.

Dengan kata lain, sama saja ikut-ikutan melanggar hukum.

"Kalau memang ada aksi, dan tidak sesuai aturan, tentu ada kepolisian dibantu TNI," tegas Kaka kepada reporter Tirto.

Menurut Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Johnny G Plate, apa yang dikatakan Inas tak pernah dibicarakan di tim sukses. Politikus dari Nasdem itu mengaku TKN sendiri tidak pernah mencoba melawan people power.

"Kami tidak akan membuat masyarakat diadu," tegasnya kepada reporter Tirto.

"Kalau Saya Cegah Nanti Rakyat Marah"

Inas sebetulnya tau potensi-potensi yang tadi disebut, bahkan dia juga paham konsekuensi terjauhnya adalah bentrokan fisik. Namun dia merasa tak bertanggung jawab dan juga mengaku tak bisa menghentikannya.

Dia justru menyalahkan Amien Rais jika bentrokan benar-benar terjadi.

"Akan terjadi bentrokan antarbangsa yang motornya Amien Rais," ucapnya. "Kalau saya mencegah nanti rakyat malah marah sama saya," tambahnya.

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan lainnya dari Felix Nathaniel

tirto.id - Politik
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Rio Apinino