tirto.id - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membutuhkan waktu hingga 3 bulan untuk mengambil kesimpulan penyebab kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Kecelakaan maut yang mengakibatkan 16 korban meninggal dunia itu kini masih dalam proses investigasi.
Meskipun demikian, KNKT sudah menyampaikan sejumlah temuannya dalam rapat bersama Komisi V pada Kamis, (21/5/2026). Gelaran rapat itu juga dihadiri oleh Menteri Perhubungan, Menteri Pekerjaan Umum, Basarnas, Korlantas Polri, PT KAI, dan PT KCI.
Kronologi Kecelakaan versi Kementerian Perhubungan

Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, membeberkan kronologi kecelakaan itu bermula ketika Commuter Line 5568A tiba di Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.34 WIB atau satu menit lebih awal dari jadwal.
Sementara itu, KA Sawunggalih 116B tiba pada pukul 20.35 WIB dengan keterlambatan lima menit.
Setelah itu, KA Sawunggalih diberangkatkan pada pukul 20.37 WIB dan melintas Stasiun Bekasi Timur 20.39. Tak selang lama, sebuah taksi dilaporkan mogok di tengah rel dan pukul 20.48 WIB, KA 5181B relasi Cikarang-Jakarta melintas dan menabrak taksi tersebut.
Peristiwa itu lantas memicu kerumunan warga di sekitar lokasi kejadian.
Dia menjelaskan Commuter Line 5568A yang sebelumnya mengalami keterlambatan delapan menit kemudian tiba di Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.49 WIB. Kereta sempat berjalan, namun kembali berhenti akibat adanya kerumunan warga di sekitar lokasi temperan taksi.
“Kereta tersebut sempat berangkat. Namun berhenti karena adanya kerumunan di depan untuk melihat kejadian temperan tersebut,” katanya.
Selanjutnya, KA Argo Bromo Anggrek melintasi Stasiun Bekasi pada pukul 20.51 WIB atau tiga menit lebih cepat dari jadwal dengan kecepatan 108 kilometer per jam. Tabrakan kemudian terjadi pada pukul 20.52 WIB.
Hasil Investigasi Sementara KNKT

KNKT membeberkan lima temuan awal terkait penyebab kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Kamis (21/5/2026), KNKT mengungkap adanya faktor keterlambatan sinyal darurat hingga kendala operasional taksi listrik yang mogok di atas rel sebelum tabrakan terjadi.
1. KA Argo Bromo Dapat Sinyal Hijau Sebelum Berangkat
KNKT mengungkap bahwa sinyal untuk KA Argo Bromo Anggrek berwarna hijau sebelum menabrak Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Sinyal hijau itu lah yang membuat masinis tetap melaju.Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengonfirmasi insiden temperan taksi sudah terjadi ketika Argo Bromo mulai bergerak meninggalkan Stasiun Bekasi.
“KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 beraspek hijau atau berwarna hijau,” kata Soerjanto Tjahjono.
2. KRL Alami Keterlambatan, KA Argo Bromo Melaju Lebih Cepat Dibanding Jadwal
KNKT menemukan bahwa Commuter Line-selain yang terlibat insiden dengan taksi-mengalami keterlambatan sekitar 8 menit. Sedangkan KA Argo Bromo Anggrek melaju lebih cepat tiga menit dibanding jadwal dalam Grafik Perjalanan Kereta Api (GAPEKA).Soerjanto masih akan menganalisis lebih lanjut soal apakah kereta itu tak patuh terhadap GAPEKA atau tidak.
“Nah ini GAPEKA yang kamu coba tampilkan bahwa KA 5568 mengalami keterlambatan sekitar 8 menit sedangkan KA Bromo Anggrek lebih cepat 3 menit dari waktu kedatangan di Stasiun Bekasi Timur,” katanya.
3. KA Argo Bromo Sudah Mengerem Sebelum Tabrak KRL, Tapi Tak Maksimal
KNKT menilai masinis KA Argo L Bromo Anggrek telah mulai melakukan pengereman sekitar 1,3 kilometer sebelum menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur. Namun, pengereman yang dilakukan bukan pengereman maksimum.“Saya ingin menceritakan masinis itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan,” kata Soerjanto.
Masinis mengetahui kejadian adanya temperan di perlintasan sebidang, namun dia hanya mengurangi laju kereta setelah menerima informasi dari pusat pengendali perjalanan kereta atau PK Timur.
KNKT menilai instruksi ini sebab Pusat Pengendali (Pusdal) tak mengetahui secara jelas kondisi di lapangan saat peristiwa temperan di perlintasan sebidang terjadi.
Menurutnya, hal ini lah yang menyebabkan mereka memberikan instruksi hanya untuk berhati-hati kepada masinis.
“Maka dia positive thinking saja bahwa kurangi kecepatan lah intinya untuk berhati-hati dan 35 atau memberi klakson lah,” katanya.
KA Bromo Anggrek membutuhkan sekitar 900 meter hingga 1 kilometer untuk berhenti apabila pengereman maksimum dilakukan.
4. Jeda Temperan Taksi dan Tabrakan Agro Bromo-KRL 3 Menit 43 Detik

"Jadi 20:52:12 terjadi tabrakan, jadi antara tabrakan KA 5181 dengan taksi dan jeda waktu dengan KA Bromo Anggrek tabrakan dengan Commuter Line 5568 sekitar 3 menit 43 detik,” kata Soerjanto.
Menurutnya, jeda insiden ini terbilang singkat. Insiden antara Commuter Line dan Taksi adalah pada pukul 20:48:29. Sementara, kejadian KA Bromo Anggrek dan Commuter Line lain terjadi pada pukul 20:52:12.
5. Kondisi Taksi Green SM Netral, Tapi Perekrutan Singkat-Pelatihan Hanya Dasar
Berdasarkan data faktual hasil investigasi awal KNKT, taksi listrik berpelat B 2864 SBX melaju dari arah utara menuju selatan di Jalan Ampera. Kendaraan disebut berhenti di rel dengan kemiringan jalan sekitar 2,9 persen.KNKT menyebut hasil pemeriksaan data on board unit kendaraan tidak menemukan adanya error system dalam satu jam sebelum kejadian.
“Kendaraan lulus uji elektromagnetik kompatibilitas mengikuti standar India, sementara untuk Indonesia tidak diwajibkan mengikuti standar elektromagnetik kompatibilitas,” katanya.
KNKT menemukan mobil awalnya berjalan normal dalam posisi drive (D) dengan kecepatan sekitar 15 kilometer per jam, kemudian posisi berpindah ke netral (N) dan kendaraan meluncur dengan kecepatan 3 sampai 7 kilometer per jam.
“Ini kami tidak tahu kenapa kok di posisi netralkan,” katanya.
Pengemudi membiarkan kendaraan melaju sambil melakukan pengereman ringan di jalur menurun. Sesampainya di perlintasan rel, pengemudi disebut mencoba menginjak pedal gas hingga 25 persen, tetapi kendaraan tidak bergerak karena posisi transmisi masih berada di netral.
Pengemudi kemudian terus menekan gas hingga 51 persen, namun kendaraan tetap tidak bergerak dan akhirnya berhenti di rel.
Pada pukul 20.46.43, posisi handle kembali berpindah ke drive (D), tetapi pengemudi tidak menginjak pedal gas. Setelah itu berubah ke posisi parkir (P).
“Di mana selanjutnya pengemudi menginjak gas, menginjak rem, menginjak on-off on-off tapi selalu dalam posisi P sehingga mobil tidak bisa bergerak,” jelasnya.
Proses pengenalan kendaraan kepada pengemudi juga hanya dilakukan melalui kelas teori singkat yang mencakup cara menyalakan mobil, parkir, lampu indikator, knob transmisi, dan penggunaan sabuk pengaman. KNKT, menemukan knob indikator lampu pada kendaraan sulit terlihat pada siang hari.
“Pengemudi yang terlibat laka baru diterima melalui Job Fair dan baru bekerja 3 hari,” kata Soerjanto.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































