tirto.id - Seorang ibu dan anaknya menjadi korban dalam kecelakaan KRL dengan Kereta Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Sang ibu, Sariati (63), mengalami luka serius hingga harus menjalani operasi besar, sementara anaknya yang berkebutuhan khusus selamat dengan luka ringan.
Pendamping korban, Nia dari Fatayat NU DKI Jakarta, mengatakan bahwa keduanya sama-sama menjadi korban dalam insiden tersebut. Namun, kondisi sang ibu jauh lebih parah dibandingkan anaknya.
“Iya, betul. Keduanya menjadi korban. Hanya saja alhamdulillah-nya anak ini kondisinya cukup baik ya setelah diobservasi. Yang parah itu ibunya,” ujar Nia di depan RSUD Kota Bekasi, Rabu (29/04/2026).
Nia menjelaskan Sariati mengalami kerusakan organ dalam akibat kecelakaan tersebut. Ia bahkan harus menjalani operasi pengangkatan limpa untuk menangani luka yang dideritanya.
“Kondisi ibunya kemarin setelah dilakukan operasi ya, pengangkatan limpa karena organ dalamnya tuh ada beberapa bagian yang hancur seperti itu,” katanya.
Saat ini, lanjut Nia, kondisi Sariati sudah mulai membaik dan telah sadar, meski masih menjalani masa pemulihan di ruang perawatan.
Sementara itu, anak Sariyati bernama Putri (24), yang merupakan penyandang down syndrome, hanya mengalami luka lebam dan kini sudah diperbolehkan menjalani rawat jalan. Meski sudah tidak lagi dirawat, Putri tetap berada di rumah sakit untuk mendampingi ibunya. Menurut Nia, Putri tidak bisa berpisah dari sang ibu setelah kejadian tersebut.
“Jadi anaknya statusnya sudah tidak perawatan, tapi ada di rumah sakit karena tidak bisa pisah sama ibunya. Jadi anaknya bersama-sama dengan ibunya, seperti itu,” ujarnya.

Nia mengungkapkan saat awal kejadian, korban sempat tidak memiliki keluarga yang mendampingi di lokasi. Ia bersama tim Fatayat NU DKI Jakarta kemudian berupaya menelusuri identitas korban hingga akhirnya berhasil menghubungi pihak keluarga yang berada di luar kota.
“Pas kejadian, tim itu datang ke lokasi dan mencari data. Setelah ditemukan, ternyata ada salah satu korban yang tidak memiliki keluarga dan saudara di sini,” jelasnya.
Sariati dan Putri ternyata hanya tinggal berdua di wilayah Cikarang Barat. Keduanya saat itu tengah dalam perjalanan pulang menggunakan KRL Commuter Line dari Stasiun Cakung menuju Cikarang.
Pihak keluarga akhirnya berhasil dihubungi, dan salah satu anak Sariati yang berada Agam, Aceh, telah datang ke Jakarta untuk mendampingi.
“Alhamdulillah salah satu anaknya dari Sumatra ya, dari Agam, sudah datang ke sini,” ujarnya.
Dalam penanganan korban, Nia menyebut seluruh biaya perawatan telah ditanggung oleh pihak KAI. Selain itu, korban juga mendapatkan bantuan tambahan selama masa perawatan.
“Ya, sudah di-cover sama KAI ya, iya. Alhamdulillah KAI juga memberikan satu bantuan ya kepada pasien yang dirawat,” katanya.
Sebagai pendamping dari Fatayat NU DKI Jakarta, Baznas (Bazis) DKI Jakarta, serta fasilitator BPBD DKI Jakarta, Nia juga turut membantu mengupayakan fasilitas perawatan yang lebih layak bagi korban.
Ia sempat mengajukan permohonan kepada pihak rumah sakit dan PT KAI agar korban mendapatkan fasilitas yang lebih baik, mengingat kondisi anak yang turut mendampingi tanpa istirahat sejak kejadian.
“Kemudian saya meminta kebijakan dari KAI dan RSUD, sebenarnya sih saya minta bed tambahan gitu (untuk anaknya)... tapi kemudian alhamdulillah ada kebijakan dipindah ke kelas 1 gitu,” tuturnya.
Hingga kini, proses pemulihan Sariati masih terus berlangsung di rumah sakit, dengan pendampingan dari keluarga dan relawan.
==============
Dini Puspita berkontribusi dalam tulisan ini.
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































