Penyebab Peternak Blitar Masih Demo Usai Perwakilan Bertemu Jokowi

Oleh: Abdul Aziz - 28 September 2021
Dibaca Normal 2 menit
Para peternak di Blitar memprotes pemerintah dengan cara bagi-bagi telur sebanyak 1,5 ton ke warga. Mereka mengeluhkan harga telur yang anjlok.
tirto.id - Peternak Blitar aksi bagi-bagi 1,5 ton telur dan ayam gratis kepada warga sebagai bentuk protes terhadap pemerintah. Mereka menganggap pemerintah kurang memperhatikan nasib peternak, khususnya harga telur yang semakin anjlok di tingkat peternak.

"Aksi itu dilakukan karena prihatin ya harga telur murah," kata Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia (PPRN) Alvino Antonio kepada reporter Tirto, Selasa (28/9/2021).

Alvino menggambarkan pekan lalu harga telur dari peternak hanya dihargai sekitar Rp14.800/kg. Saat ini tidak jauh berbeda, harga jual telur dari peternak ada di kisaran Rp15.800. Hal ini membuat peternak menjerit karena tidak sesuai dengan modal yang mereka keluarkan.

Padahal berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 mengenai Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen, harga acuan pembelian telur di tingkat peternak ditetapkan Rp19.000-Rp21.000/kg. Namun, di lapangan jauh dari ketentuan tersebut.

Karena itu, para peternak berniat melakukan protes dengan cara membagi-bagikan telur dan ayam gratis ke warga. "Telur yang sudah masuk sekitar 1,5 ton dan ayamnya sekitar 100 ekor. Ini akan dibagikan kepada warga," kata Koordinator Acara Yesi Yuni Astuti.

Aksi pembagian telur gratis ini akan dilakukan di sejumlah titik. Seperti di depan Kantor Pemkab Blitar, sepanjang jalan antara Kantor Pemkab Blitar ke lokasi DPRD Kabupaten Blitar, sepanjang jalan di Kecamatan Udanawu hingga kantor pemerintah kabupaten dan beberapa titik simpang empat.

Bukan Hanya Peternak di Blitar

Protes tidak hanya terjadi di Blitar, Jawa Timur. Peternak di Sulawesi Selatan juga mengeluhkan harga pakan yang melonjak drastis, sementara harga telur di tingkat petani tidak mengalami perubahan kendati harga telur sudah mulai naik di sejumlah pasar tradisional.

"Kenaikan harga jagung, dedak dan konsetrat sangat membebani peternak, sementara kenaikan harga jual telur di lapangan tidak dinikmati peternak," kata Ketua Forum Peternak Layer Syahrial di Makassar, seperti dikutip Antara, Kamis (23/9/2021).

Dia mengatakan, apabila kondisi ini tidak segera dicarikan solusinya, maka dikhawatirkan kondisi peternak semakin terpuruk di masa pandemi COVID-19 ini, padahal sudah saatnya bangkit pada masa adaptasi normal baru.

Sebagai gambaran, pergerakan kenaikan harga pakan yang terus meningkat mulai terjadi pada 2020 berkisar Rp365 ribu per sak dengan berat 50 kilogram, kemudian pada Januari 2021 naik menjadi Rp380 ribu per sak, Maret Rp410 ribu, April Rp425 per sak, sekarang sudah di atas Rp445 per sak.


Perwakilan Peternak Bertemu Jokowi

Harga pakan mahal, sementara harga telur di tingkat peternak anjlok merupakan masalah klasik yang selalu berulang. Bahkan perwakilan peternak, khususnya di Blitar sudah bertemu Jokowi di Istana Negara pada 15 September 2021.

Jokowi mengundang perwakilan peternak ke Istana usai insiden penangkapan Suroto, seorang peternak unggas asal Blitar. Kasus Suroto berawal ketika ia secara berani membentangkan poster saat Jokowi hendak meninggalkan lokasi vaksinasi massal di Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (7/9/2021).

Saat itu, Suroto membentangkan poster yang bertuliskan "Pak Jokowi, bantu peternak beli jagung dengan harga wajar" ketika Jokowi tengah menyapa warga sambil membuka jendela.

Aksi Suroto lantas direspons represif oleh petugas. Suroto langsung ditangkap dan dibawa polisi tidak lama setelah membentangkan poster. Belakangan, polisi menegaskan bahwa aksi mereka sebatas mengamankan Suroto saat kunjungan Jokowi. Suroto pun langsung dilepaskan usai diinterogasi soal motif pembentangan poster tersebut.

Seminggu kemudian, Suroto dan 14 orang perwakilan asosiasi peternak diundang ke Istana oleh Jokowi. Pada pertemuan tersebut, para peternak mengeluhkan tiga hal, yaitu: soal budidaya, harga pakan, dan harga telur di peternak.

Jokowi saat itu didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Menteri Pedagang M. Luthfi. Usai pertemuan itu, SYL mengaku, Jokowi mengambil sejumlah kebijakan setelah mendengar soal tiga keluhan tersebut.

Agenda pertama atau terdekat adalah melakukan langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan jagung di wilayah Klaten, Blitar, dan Lampung. Presiden pun menginstruksikan agar harga jagung di daerah tersebut segera normal.

"Perintahnya kepada mendag dan menteri pertanian adalah melakukan langkah cepat minggu ini juga agar kebutuhan jagung khususnya di tiga tempat yang bersoal, Klaten, Blitar dan Lampung bisa tertangani dengan harga yang sangat normatif dan kalau perlu menggunakan subsidi-subsidi tertentu untuk tiga daerah sentra karena tiga daerah itu merupakan sentra peternakan," kata SYL.

Langkah kedua, kata dia, Kementerian Pertanian diminta untuk mendekatkan pasokan jagung ke daerah-daerah yang membutuhkan. Hal tersebut perlu dilakukan karena harga jagung ikut terdampak akibat COVID. Jokowi ingin agar jagung didekatkan pada sentra peternakan.

Sementara langkah ketiga, pemerintah segera membuat regulasi bersama untuk melindungi para peternak yang hadir dalam pertemuan. Pemerintah ingin membentuk cadangan pangan dalam jumlah terbatas.

Jokowi juga menginstruksikan agar ada pembangunan sentra pangan berupa tepung dan telur di Blitar dalam 1-2 bulan ke depan. Mantan Wali kota Solo itu juga mendorong agar ada industri pakan di dekat peternak.

Namun demikian, ternyata para peternak di sejumlah wilayah masih mengeluhkan hal yang sama: harga pakan mahal dan harga telur di tingkat peternak jauh di bawah HET yang ditetapkan Kemendag. Hal ini membuat para paternak kembali protes dengan aksi bagi-bagi telur dan ayam gratis kepada warga.


Baca juga artikel terkait PETERNAK atau tulisan menarik lainnya Abdul Aziz
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Selfie Miftahul Jannah & Andrian Pratama Taher
Penulis: Abdul Aziz
Editor: Maya Saputri
DarkLight