Menuju konten utama

Apa itu KOSPI Indeks Saham yang Anjlok Hari Ini & Penyebabnya?

Indeks saham Korea Selatan, KOSPI mengalami penurunan yang signifikan, menjadi yang terburuk sejak 2008. Apa sebabnya? Simak di bawah ini.

Apa itu KOSPI Indeks Saham yang Anjlok Hari Ini & Penyebabnya?
Ilustrasi Dividen. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pasar saham Korea Selatan anjlok pada Rabu (4/3/2026). Indeks utama Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) sempat turun lebih dari 12 persen, sedangkan KOSDAQ merosot lebih dari 8 persen.

Kejatuhan ini memperpanjang penurunan sehari sebelumnya dan menjadi performa dua hari terburuk sejak krisis keuangan Korsel pada 2008.

Anjloknya saham-saham di bursa saham Korea hari ini memicu penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) oleh Korea Exchange.

Tekanan jual dipicu kepanikan investor setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran, yang meningkatkan risiko konflik berkepanjangan.

Indeks Saham KOSPI Anjlok, Terburuk Sejak 2008

Pasar saham Korea Selatan langsung dibuka dengan tekanan besar pada Rabu, 4 Maret 2026. Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) dibuka lebih rendah 3,44 persen seperti diberitakan Yonhap News Agency.

Tekanan jual tidak berhenti, bahkan semakin dalam karena investor panik menyusul memburuknya konflik di Timur Tengah.

Hanya beberapa menit setelah pasar dibuka, operator bursa Korea Exchange (KRX) langsung mengaktifkan mekanisme penghentian sementara yang dikenal sebagai sidecar.

Sidecar adalah penghentian selama lima menit untuk membatasi transaksi jual otomatis berbasis program di pasar berjangka KOSPI. Sekitar pukul 10.30 waktu setempat, sidecar juga diberlakukan di pasar saham teknologi Kosdaq.

Namun tekanan jual terus berlanjut. Menjelang pukul 11.20 pagi, indeks KOSPI anjlok 8,10 persen ke level 5.322,93. Pada saat yang sama, indeks KOSDAQ merosot 8,13 persen ke 1.045,24.

Karena penurunan sudah melewati ambang batas 8 persen, KRX mengaktifkan circuit breaker tahap pertama, yang menghentikan seluruh perdagangan saham selama 20 menit. Langkah ini diambil untuk memberi waktu pasar menenangkan diri dan mencegah kepanikan lebih lanjut.

Mengutip Korea JoongAng Daily, sistem circuit breaker di Korea Selatan memiliki tiga tahap. Jika setelah perdagangan dibuka kembali indeks masih turun hingga 15 persen dari penutupan hari sebelumnya, maka circuit breaker tahap kedua akan diberlakukan. Jika kemudian penurunan mencapai 20 persen, perdagangan akan dihentikan total untuk hari itu.

Pada Rabu siang, tekanan masih berlanjut hingga KOSPI tercatat sempat jatuh 12,6 persen, memperburuk penurunan 7,2 persen sehari sebelumnya. Data menunjukkan ini menjadi kinerja dua hari terburuk sejak krisis keuangan global 2008.

Kejatuhan ini dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap perang di Timur Tengah. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada akhir pekan lalu, yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Presiden AS Donald Trump memberi sinyal bahwa operasi militer bisa berlangsung lama. Konflik yang memasuki hari kelima itu menimbulkan kekhawatiran besar terhadap pasokan minyak global, terutama karena ancaman gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima distribusi minyak dunia.

Lonjakan harga minyak memperparah kepanikan pasar. Sejak akhir pekan sebelum serangan dimulai, harga minyak mentah West Texas Intermediate melonjak sekitar 12 persen hingga di atas $75 per barel, sedangkan Brent naik lebih dari 13 persen hingga melampaui $82 per barel.

Bahkan muncul peringatan bahwa harga bisa menembus $100 per barel jika konflik terus meluas. Pada Rabu saja, kedua kontrak minyak utama kembali naik sekitar 1 persen.

Bagi Korea Selatan, situasi ini sangat sensitif. Negara tersebut adalah pengimpor minyak mentah terbesar keempat di dunia dan hampir sepenuhnya bergantung pada impor energi, dengan sekitar 70 persen pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah, mengutip CNA.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan menekan ekonomi yang sangat bergantung pada ekspor. Investor pun berbondong-bondong menjual saham, terutama saham yang sebelumnya mencatat kenaikan tajam tahun ini.

Baca juga artikel terkait SAHAM atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Insider
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra