Menuju konten utama

Pemerintah Terus Perkuat Peran Perempuan di Literasi Digital

Literasi digital bagi perempuan bisa untuk membentuk keluarga yang tangguh di tengah arus digital.

Pemerintah Terus Perkuat Peran Perempuan di Literasi Digital
Guru dan siswa SD IT Al Rahbini melihat peta digital yang disediakan di Malang Creative City Planning Gallery, Jawa Timur, Kamis (16/10/2025). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz.

tirto.id - Direktur Ekosistem Media Ditjen Komunikasi Publik dan Media, Kementerian Komunikasi dan Digital, Farida Dewi Maharani, menyebutkan, peran perempuan masa kini semakin berkembang tak hanya sebagai penjaga keluarga, tapi juga pelaku ekonomi dan agen komunitas.

"Karenanya perempuan harus bukan hanya sebagai pengguna tapi juga sebagai penggerak teknologi," kata Farida dalam kegiatan yang diadakan Aliansi Perempuan Peduli Indonesia (Alppind), dikutip Rabu (13/5/2026).

“Teknologi bisa dimanfaatkan untuk menjaga keluarga. Apalagi perempuan punya kelebihan di mana anak lebih suka bercerita ke Ibu,” lanjut Farida.

Sementara itu, Ketua Bidang Infrastruktur Telematika Nasional (INFRATELNAS) dan Dewan Pengurus Harian Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL), Sigit Puspito Wigati Jarot, menyebutkan, di era digital saat ini tantangan pengasuhan bukan sekadar anak patuh atau tidak.

“Tapi apakah keluarga mampu membentuk anak yang aman, cerdas, beretika dan tangguh di tengah arus digital,” kata Sigit.

Sigit mencatat ada lima titik kerentanan keluarga dalam hal ancaman ketahanan digital, yaitu krisis pengasuhan digital seperti adiksi gadget, tekanan psikososial melibatkan algoritma, kesenjangan akses dan kapasitas, beban peran ganda dan ancaman keamanan.

Karenanya, ia berujar, harus ada aksi nyata untuk memperkuat peran perempuan sebagai garda terdepan literasi digital, penggerak ekonomi rumah tangga, sekaligus sebagai agen perubahan dan keamanan.

“Dari mode pengawas ke mode navigator. Orang tua harus menjadi co-viewing. Jangan panik dan emosi saat anak terpapar konten negatif, dampingi anak lalu berikan pembatasan. Di era digital, memperkuat kapasitas perempuan bukan lagi sebuah pilihan social, melainkan keharusan strategis pertahanan negara,” kata Sigit.

Hal senada juga disampaikan Direktur Kebijakan Tata Kelola Keamanan Siber dan Sandi BSSN, Nunil Pantjawati. Nunil menyatakan, tak bisa dipungkiri memang ada ancaman siber yang nyata yang saat ini telah merambah ke ruang keluarga.

Hal ini menjadi tantangan penting di era digital, khususnya bagi perempuan dan anak. Risiko seperti cyber bullying, kecanduan game, penipuan online, hingga paparan konten negatif perlu diantisipasi melalui penerapan cyber hygiene dan pengawasan orang tua.

“Orang tua diharapkan mampu membangun kebiasaan digital yang sehat, memberikan edukasi kepada anak, serta membatasi penggunaan teknologi secara bijak guna menciptakan ruang digital yang aman dan produktif bagi keluarga,” kata Nunil.

Baca juga artikel terkait LITERASI DIGITAL atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Sosial Budaya
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto