Menuju konten utama

Pemerintah Tegaskan Tarif Impor 0% ke RI Bukan Cuma untuk AS

Susi menegaskan Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain yang mendapat penetapan tarif resiprokal lebih tinggi.

Pemerintah Tegaskan Tarif Impor 0% ke RI Bukan Cuma untuk AS
Sesmenko Perekonomian Susiwijono memberi keterangan kepada wartawan terkait gempa bumi di Situbondo di area penyelenggaraan pertemuan tahunan IMF World Bank Group 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). ANTARA FOTO/ICom/Am IMF-WBG/Zabur Karuru/hp/2018

tirto.id - Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menegaskan penetapan tarif impor 0 persen tidak hanya berlaku untuk barang-barang dari Amerika Serikat (AS) saja.

Menurutnya, tarif impor 0 persen ini juga sudah disepakati dengan negara-negara lainnya seperti beberapa negara di ASEAN, Jepang, hingga New Zealand melalui perjanjian perdagangan seperti Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) dan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif (Comprehensive Economic Partnership Agreement/CEPA).

"Sebenarnya, skema tarif yang masuk impor 0 persen itu kan di semua kerjasama FTA dan CEPA kita kan juga 0 persen. Contoh, antarnegara ASEAN," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (18/7/2025).

Dengan adanya The Asean Trade in Goods Agreement, misalnya, sekitar 90-99 persen perdagangan Indonesia dengan mayoritas negara ASEAN dikenakan tarif impor 0 persen. Kemudian, melalui Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), sekitar 94-95 persen perdagangan antara Indonesia dengan Australia juga dikenakan tarif bea masuk 0 persen.

"Dengan New Zealand, dengan IJ CEPA-nya Jepang (IJEPA) itu juga 91 persen (perdagangan) sudah 0 (persen) ke kita. Karena memang average rate untuk rata-rata tarif MFN (Most Favored Nation) itu sudah kecil sekali memang ke Indonesia," imbuh Susi, sapaan Susiwijono.

Ia mengaku, tarif perdagangan dari Indonesia ke AS memang masih cukup tinggi, yakni sebesar 19 persen. Karena itu, saat ini pemerintah pun tengah mengupayakan pembebasan bea keluar untuk Indonesia.

Namun, lebih penting dari itu, pada dasarnya Indonesia masih lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya yang mendapat penetapan tarif resiprokal lebih tinggi. Sebab, dengan tarif yang lebih rendah ini, daya saing Indonesia bisa menjadi lebih besar.

"Di antara semua negara ASEAN, untuk yang defisit (perdagangan dengan AS), ya, kita terendah. kecuali Singapura kan Amerika-nya surplus ke Singapura. Itu pun kena baseline 10 persen, kan, begitu. Jadi, sangat kompetitif tarif kita itu, bahkan sekarang posisinya masih paling rendah di antara negara-negara yang membuat Amerika defisit. Jadi membandingkan jangan 19 kok ini 0, bukan begitu," tegas Susi.

Baca juga artikel terkait TARIF TRUMP atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana