Menuju konten utama

Pemberdayaan Petani Pasirlangu: Ubah Paprika Jadi Lebih Bernilai

Tim Universitas Islam Nusantara menggelar program pemberdayaan yang membantu petani wanita Pasirlangu mengubah paprika menjadi produk bernilai tambah.

Pemberdayaan Petani Pasirlangu: Ubah Paprika Jadi Lebih Bernilai
Paprika. foto/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Panen melimpah tidak selalu berarti keuntungan bagi petani. Untuk komoditas hortikultura yang mudah rusak, meningkatnya produksi justru dapat diikuti penurunan harga ketika pasokan tidak seluruhnya terserap pasar. Kondisi seperti ini juga dihadapi petani paprika di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pasirlangu berada di kawasan dataran tinggi dengan kondisi alam yang mendukung pertanian hortikultura. Paprika menjadi salah satu komoditas penting desa ini. Namun, potensi produksi tersebut belum sepenuhnya diikuti kemampuan masyarakat dalam menciptakan nilai tambah setelah panen.

Persoalan tersebut antara lain dihadapi Kelompok Wanita Tani (KWT) Kurnia Abadi. Selama ini paprika lebih banyak dipasarkan dalam bentuk segar. Ketika produksi melimpah, harga dapat turun drastis. Produk yang tidak segera terserap pasar juga berisiko mengalami penurunan kualitas bahkan terbuang. Di sisi lain, pemasaran masih banyak dilakukan secara konvensional dengan jangkauan konsumen yang relatif terbatas.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pertanian tidak selalu berhenti pada kemampuan menghasilkan komoditas namun juga bagaimana masyarakat mampu mengolah, mengelola, dan memasarkan nilai dari hasil pertanian tersebut.

Berangkat dari persoalan itu, tim Universitas Islam Nusantara melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa pemberdayaan KWT Kurnia Abadi melalui diversifikasi produk olahan paprika, penguatan manajemen usaha, dan digital entrepreneurship. Program ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Ketika Paprika Tidak Lagi Hanya Dijual Segar

Salah satu pendekatan yang diterapkan adalah diversifikasi produk. Paprika yang sebelumnya lebih banyak dijual sebagai komoditas segar diperkenalkan sebagai bahan baku yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, antara lain bubuk paprika dan sambal paprika.

Inovasi produk yang diterapkan merupakan bagian dari hilirisasi hasil penelitian tim sebelumnya mengenai pengembangan produk dan konsep pemasaran digital berbasis komoditas lokal Desa.

Melalui pengolahan, karakter ekonomi paprika dapat berubah. Produk tidak lagi hanya bergantung pada kecepatan penjualan setelah dipanen. Pengolahan memberikan peluang memperpanjang umur simpan sekaligus menambahkan nilai melalui proses produksi, kemasan menarik, identitas produk, serta kemudahan penggunaan bagi konsumen.

Anggota KWT mendapatkan pelatihan mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, penggunaan peralatan produksi, manajemen usaha hingga pengemasan. Pelatihan dilakukan melalui praktik langsung agar pengetahuan yang diberikan tidak berhenti sebagai teori.

Membuat Produk Belum Berarti Memiliki Bisnis

Mampu membuat produk olahan merupakan langkah penting, tetapi belum cukup untuk membangun usaha yang berkelanjutan. Pelaku usaha juga perlu menguasai manajemen usahanya.

Karena itu, program ini juga memberikan penguatan dalam manajemen usaha sederhana. Anggota KWT diperkenalkan pada pencatatan keuangan, penghitungan biaya produksi dan harga pokok, perencanaan usaha, serta pembagian peran dalam kelompok.

Kemampuan tersebut terlihat sederhana, tetapi sangat menentukan keberlanjutan usaha para anggota KWT Pasirlangu.

Dari Pasar Lokal ke Ruang Digital

Tantangan berikutnya adalah pemasaran. Diversifikasi produk akan sulit memberikan dampak ekonomi apabila pasar yang dijangkau tetap terbatas. Perkembangan teknologi digital menyediakan peluang bagi produk desa untuk dikenal konsumen di luar lingkungan pemasaran tradisional.

Dalam kegiatan ini, anggota KWT dilatih pemasaran melalui media sosial dan platform digital, dan pemasaran di website yang dibuat khusus untuk pemasaran produk Desa Pasirlangu sebagai salah satu etalase digital bagi produk olahan paprika.

Melalui media digital, konsumen dapat memperoleh informasi mengenai jenis produk, harga, keunggulan, maupun kontak pemesanan tanpa harus datang langsung ke lokasi produksi.

Namun, digital entrepreneurship tidak dapat dipahami hanya sebagai pembuatan website atau akun media sosial.

Teknologi akan memberikan manfaat ketika masyarakat yang menggunakannya memiliki kemampuan mengelola informasi, membuat konten, berinteraksi dengan konsumen, serta menjaga keberlanjutan aktivitas pemasaran.

Dengan demikian, transformasi digital sesungguhnya bukan hanya mengenai teknologi, melainkan juga mengenai kompetensi manusia yang mengoperasikannya.

Kompetensi Perempuan Tani yang Bertambah

Salah satu hal yang menarik dari pelaksanaan kegiatan ini adalah respons anggota KWT Kurnia Abadi setelah mengikuti rangkaian pelatihan.

Berdasarkan testimoni peserta, anggota KWT mengaku senang karena memperoleh tambahan pengetahuan dan kompetensi yang sebelumnya belum mereka miliki.

Testimoni ini menjadi penting karena keberhasilan kegiatan pemberdayaan tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan jumlah pelatihan yang diselenggarakan atau peralatan yang diberikan.

Ukuran yang lebih substantif adalah apakah masyarakat memperoleh kemampuan baru yang dapat digunakan setelah pendampingan selesai.

Dalam konteks KWT Kurnia Abadi, bertambahnya kompetensi membuka peluang bagi perempuan tani untuk memiliki peran yang lebih luas dalam rantai ekonomi pertanian.

Mereka tidak lagi hanya terlibat dalam menghasilkan bahan baku, tetapi mulai memiliki pengetahuan untuk mengolah produk, mengemasnya, menghitung nilai ekonominya, mengelola usaha, dan memperkenalkannya kepada pasar. Di sinilah pemberdayaan perempuan memperoleh makna yang lebih luas.

Belajar dari Pasirlangu

Pengalaman Pasirlangu memberikan satu pelajaran penting: peningkatan produksi pertanian saja belum tentu cukup untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Persoalan besar justru sering muncul setelah panen.

Ketika petani hanya menjual komoditas dalam bentuk mentah, pendapatan sangat bergantung pada harga yang berlaku pada saat itu. Diversifikasi memberikan alternatif untuk menciptakan nilai tambah. Penguatan manajemen membantu kelompok memahami apakah usaha yang dijalankan benar-benar menghasilkan keuntungan. Sementara pemasaran digital membuka peluang memperluas jangkauan konsumen.

Ketiganya saling berhubungan. Produk tanpa pasar akan sulit berkembang. Pemasaran tanpa kemampuan menghasilkan produk secara konsisten juga tidak akan bertahan. Produksi dan pemasaran tanpa manajemen yang baik berisiko menghasilkan aktivitas ekonomi tanpa kejelasan keuntungan.

Karena itu, inti pemberdayaan KWT di Pasirlangu bukan semata-mata mengubah paprika menjadi bubuk atau sambal.

Hal yang lebih mendasar adalah membangun kemampuan perempuan tani untuk menangkap nilai ekonomi yang lebih besar dari sumber daya yang sebenarnya telah tersedia di lingkungan mereka sendiri.

Ketika masyarakat mampu mengolah hasil pertanian, mengelola usaha, dan memanfaatkan teknologi untuk menjangkau pasar, posisi mereka dalam rantai nilai juga berpeluang berubah.

Pada akhirnya, panen melimpah tidak harus selalu menjadi ancaman akibat jatuhnya harga. Dengan pengetahuan, inovasi, dan kemampuan kewirausahaan yang tepat, hasil panen justru dapat menjadi pintu masuk menuju produk baru, pasar baru, dan peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Penulis: Muhammad Ikmal Wiawan, S.Tr., M.Kom; Rahmi Rismayani Deri, S.Psi., MT; Ir. Noneng Nurhayani, M.MPd.

Penulis: Tim Media Servis