Pelecehan Seksual di Industri Film dan Suara Nyalang Mian Tiara

Oleh: Aulia Adam - 15 Februari 2020
Dibaca Normal 6 menit
Perempuan di industri film Indonesia mulai bicara tentang salah satu masalah terbesar di sana: pelecehan seksual dan seksisme.
tirto.id -
"I was physically triggered in the car," kata Hannah Al Rashid, aktor dan aktivis kesetaraan gender. Ia sedang dalam perjalanan ketika membaca sebuah utas di Twitter tentang pelecehan seksual yang dialami seorang aktor lain di lokasi syuting.

"I experienced very similar things on a film set. My body started shaking. And my heartbeat was going crazy," sambung Hannah.

Ia kemudian menghubungi Mian Tiara, aktor yang menuliskan utas tersebut di Twitter, untuk menyampaikan dukungan. Membaca bentuk pelecehan yang dilakukan, Hannah sempat berpikir bahwa pelaku dalam kasus Tiara adalah aktor yang sama dalam kasusnya. Tebakan itu ternyata tak meleset. Belakangan, editor film Aline Jusria, yang juga mendatangi Tiara, ternyata punya pengalaman serupa dengan pelaku yang sama.

Saat itu, mereka tahu tak bisa lagi diam.

Mian Tiara Bicara

"Hari itu dimulai dengan optimisme dan semangat yang positif," tulis Mian Tiara. Dalam utas yang ditulisnya 23 Januari kemarin, Tiara bercerita tentang hari pertama proses syuting film pendek yang ia lakoni. Tak ada yang ganjil, sampai seorang aktor senior memintanya duduk bersebelahan untuk berlatih dialog. Awalnya, Tiara tak berprasangka apa pun dan obrolan mereka berjalan normal. "Dia senior, jadi out of respect, I tried to be polite when he wanted to chat with me," kata Tiara.

Tak dinyana, dalam kesempatan mengobrol di ruangan berbeda, aktor senior itu tiba-tiba menghadapkan kursinya ke Tiara. "Dan mengelus paha saya," ceritanya. "Saya tidak bereaksi apa-apa, there was so much going on in my head. Saya merasa terlanggar. Saya marah."

Sutradara film pendek itu tiba-tiba masuk ruang rias, tempat Tiara dan si aktor senior berbincang. Tiara yang sudah sangat tidak nyaman memanfaatkannya untuk keluar dari sana. Sepanjang sisa proses syuting, Tiara menghindari si aktor senior, menjaga jarak. Ia tidak membicarakan hal itu pada siapa pun karena takut dianggap mengganggu proses syuting dan dianggap berlebihan, serta masih mencoba memproses insiden itu di dalam diri sendiri. Tapi, di ujung hari, si aktor senior kembali melakuan tabiat durjananya dalam sesi foto bareng.

Ia dengan sengaja menarik bagian belakang celana jins Tiara, lalu menyelipkan jarinya masuk. Menahan Tiara, yang kemudian berusaha meloncat untuk melepaskan genggaman itu. "Tapi dia malah menarik saya ke belakang, it was as if he was telling me: Hey, you've been a bad girl," kata Tiara. "I froze."

Butuh waktu relatif tidak sebentar buat Tiara memproses semuanya. Ia baru buka bicara sekitar seminggu setelah kejadian, karena masih trauma dan mempertimbangkan dampak-dampak yang akan dia hadapi. "Saya enggak naif. Saya tahu kejadian semacam ini banyak sekali yang enggak tuntas (diusut). Bahkan kita (korban) sering kali dianggap mengada-ada," tulis Tiara pada utasnya. Namun, ia kemudian menceritakan kejadian itu pada sang manajer, sutradara dan produser film pendek mereka, karena ia tidak ingin kejadian serupa terjadi lagi. Ia juga ingin si aktor senior pelaku meminta maaf.

Produser film pendek itu sempat menyampaikan keberatan Tiara kepada si aktor senior. Namun, lewat manajernya, aktor senior itu ternyata menampik dan merasa tersinggung dengan laporan Tiara: kebiasaan yang umum dilakukan predator. Tiara sendiri tak terima.

Di luar kasusnya sendiri, persoalan pelecehan seksual dan perlakuan seksisme di lingkungan film, menurut Tiara sudah jadi masalah besar yang bikin korban sering kali tidak didengar, bahkan terpinggir. Padahal, yang harus terjadi adalah sebaliknya. Membuat kasus-kasus seperti ini cuma jadi angin lalu, dan cenderung dimaklumi sebagai hal biasa alias wajar.

"Ini yang bikin saya harus mulai bicara," kata Tiara, yang akhirnya memutuskan membuat utas di Twitter.


Percik Bara yang Menyebar

Utas itu kemudian menjadi percik bara yang menyebar. Selain menghubungi Tiara untuk menyampaikan dukungan, Hannah dan Aline juga punya keprihatinan dan fokus yang sama dengan Tiara: terutama tentang terulangnya kasus-kasus serupa.

Hannah menyadari penanganan untuk kasus-kasus seperti yang dialaminya masih lemah di komunitas dan industri film sendiri. Itu salah satu alasan Hannah tidak menuntut atau memperkarakan lanjut si aktor senior. Di lokasi syuting film yang sama, padahal beberapa rekan kru perempuan juga mengalami hal serupa Hannah.

Namun, mereka sepakat untuk tidak melaporkan karena risiko yang dihadapi korban jauh lebih besar daripada pelaku. "Ada yang khawatir dengan pekerjaannya. Apa gue bakal masih dipakai di industri ini? Atau ada yang males karena dia (pelaku) kan aktor senior, pasti lebih banyak yang dukung dia," kata Hannah.

"These men are powerful people and there was no procedure in place so we employed a warning system," tambah Hannah. Ketiadaan mekanisme yang menjamin keamanan penyintas membuat Hannah dan kru perempuan yang mengalami hal sama bikin sistem keamanan sendiri. Mereka waktu itu saling mengingatkan untuk tidak terlalu dekat atau berada dalam ruangan yang sama sendirian dengan si pelaku.

"Dulu itu kesadaran tentang pelecehan seksual belum kayak sekarang," kata Aline yang pengalamannya terjadi pada 2012 lalu. "Saya kaget banget (waktu kejadian), tapi mikirnya yaudahlah. Mungkin iseng. (Si aktor senior) Udah terkenal juga tangannya ke mana-mana." Namun, Aline terus mendapat cerita serupa dari aktor yang sama. Sehingga ia merasa perlu untuk ikut bersuara agar isu ini tidak hilang belaka.

Setelah Tiara buka suara di Twitter, Hannah merasa tak bisa lagi tinggal diam. "Warning system itu malah jadi beban lebih yang harus ditanggung korban. Padahal, keamanan itu hak kita," kata aktor yang juga duta kesetaraan gender PBB ini.

Tiara, Hannah, dan Aline menolak untuk menyebutkan nama si aktor senior, terkait lemahnya perlindungan hukum positif Indonesia. Belum lagi adanya pasal-pasal karet yang biasa dipakai pelaku untuk menuntut balik penyintas. Salah satunya, UU ITE, yang sudah makan banyak korban.

"But we still have to do something," kata Hannah.



Ruang Aman buat Penyintas


Sejak utasnya viral di Twitter, Mian Tiara dihubungi banyak media. Namun, waktu itu ia sendiri belum merasa siap. Sejumlah jurnalis tetap menulis berdasarkan utas Tiara di Twitter. Ini, menurut Tiara, membuktikan bahwa masih banyak pihak yang belum paham menangani kasus-kasus pelecehan seksual yang lebih memprioritaskan perspektif dan keselamatan korban. Termasuk, media.

Saat sudah siap, ia akhirnya menghubungi Tirto, The Jakarta Post, dan Magdalene untuk menceritakan pengalamannya dalam forum terbatas.

"We don't want this to be just another story nor a sensational story," kata Tiara. "Ada masalah besar yang harus jadi perhatian kita bersama. Kita enggak bisa tinggal diam dengan situasi yang bikin korban kebingungan harus apa, kita harusnya bikin pelaku yang enggak nyaman karena kelakuannya," tambahnya.

Tiara juga mendapat dukungan dari Yayasan Bersama Project, lembaga yang mendukung kesetaraan gender, milik Kartika Jahja. Selain Tiara, Hannah, dan Aline, Kamis terakhir Januari kemarin, Tika juga mengundang produser film Mira Lesmana (Miles) dan Meiske Taurisia (Palari Film).

Dua produser ini adalah sedikit dari para pegiat industri film Indonesia yang punya fokus pada masalah pelecehan seksual dan seksisme di lingkungan mereka. Mira Lesmana sendiri adalah produser film pertama di Indonesia yang menerapkan klausul anti-pelecehan seksual dalam kontrak tiap produksi filmnya.

"Awalnya 2008 lalu, pertama kali saya dapat laporan dari kru. Dan saya pikir, ini tanggung jawab saya buat bikin produksi saya aman buat siapa saja, termasuk kru-kru perempuan dari perlakuan tidak menyenangkan," kata Mira.

Klausul itu jadi salah satu senjatanya untuk menciptakan ruang aman buat para aktor dan juga kru perempuan, yang sering kali jadi korban karena industri film yang masih, "Male dominated," kata Mira. Sanksi yang diberikan Mira juga tak main-main, kru atau pemain yang terbukti melanggar klausul itu akan dikeluarkan dari produksi secepat mungkin, tidak akan pernah terlibat produksi Miles lagi, dan harus mengembalikan semua honor, termasuk yang sudah dibayarkan rumah produksi.

"Kita memang harus tegas," tambah Mira. Klausul tersebut juga memberikan ruang buat produser melakukan investigasi, dan memberi sanksi melemparkan temuan mereka ke pihak berwajib untuk tindak hukum lebih lanjut.

Di industri film sendiri, ada klausul anti-narkoba yang umumnya tertera di tiap kontrak rumah produksi di Indonesia dengan sanksi tegas. Klausul itu, kata Mira, biasanya sangat ditakuti kru dan pemain dan cukup dihormati karena sanksinya yang juga tidak main-main. "Makanya, saya mau bikin klausul (anti-pelecehan seksual) sekuat itu. Biar semua orang benar-benar sadar ini juga isu penting," tegasnya.

Mira juga sempat menyebarkan contoh kontrak yang dimiliki rumah produksi ke serikat Asosiasi Produser Film Indonesia (Aprofi) agar kesadaran akan pentingnya ruang aman buat perempuan dan penyintas pelecehan seksual di industri ini makin tersebar.

"Tantangan ke depannya memang untuk bikin semua orang aware dengan isu ini," kata Meiske, yang mengadopsi kontrak Mira di rumah produksinya sendiri. "Industri ini memang mau enggak mau memang harus diakui masih male-dominated banget. Jokes yang ada di set juga ya 'laki' banget, walaupun obrolannya misalnya tentang rindu rumah, urusan rumah tangga. Tapi semuanya dari perspektif laki banget, yang kadang itu bikin kita perempuan malah enggak nyaman. Selain menerapkan klausul khusus itu, kita juga harus mulai mendidik apa yang boleh dan apa yang enggak boleh, biar safer place itu tercipta," tambah Meiske.


Munculnya Gerakan #SinematikGakHarusToxic


Ruang aman itu sebetulnya sudah coba dibuka inisiasi #SinematikGakHarusToxic yang digagas sembilan orang pegiat film. Maret tahun lalu, Lisabona Rahman, Jonathan Pasaribu, Agus Mediarta, Albertus Wida Wiratama, Amerta Kusuma, Arie Kartikasari, Lintang Gitomartoyo, Maza Radita, dan Vauriz Bestika, mencoba menyediakan ruang diskusi dan tempat pengaduan buat para penyintas di industri film Indonesia.

Inisiasi ini bermula ketika mereka mendapatkan testimoni dari korban-korban pelecehan seksual, tak cuma di lokasi syuting, tapi juga sektor industri film lainnya, seperti di penyelenggaraan festival film dan komunitas-komunitas berbasis film.

"Ada relasi kuasa yang dimanfaatkan para pelaku untuk bikin korban-korban tidak berdaya," kata Lisabona, salah satu anggota #SinematikGakHarusToxic, yang juga aktivis dan peneliti.

Hal itu tak terlepas dari faktor desentralisasi perfilman Indonesia yang terpusat di Jakarta dan beberapa kota besar lain macam Yogyakarta atau Bandung, yang bikin pendatang dari daerah lain cenderung merasa powerless ketimbang beberapa orang (senior) yang lebih dulu punya nama di industri.

Mereka juga membuka formulir pengaduan yang bisa diisi penyintas dan korban kekerasan seksual di komunitas dan industri film secara online. Tujuannya untuk memetakan pola atau modus pelaku, atau bahkan mengadvokasi jika pelapor ingin kasusnya didampingi.

Lisa yang juga hadir dalam pertemuan terbatas itu bilang, "Permasalahan ini memang kompleks, tapi kita bisa mulai bergerak untuk menciptakan ruang aman buat penyintas, supaya mereka punya tempat untuk merasa didengarkan, dan tidak takut lagi."

Kartika dari Yayasan Bersama Project juga merasa perlu menyediakan ruang aman itu, dan menciptakan support system yang baik agar penyintas tak merasa sendiri. "Pelecehan dan seksisme sudah begitu mengakar dan dilumrahkan. Dan banyak korban yang mengalaminya merasa tak punya support system yang cukup untuk menindaknya (kasus pelecehan yang mereka alami),' itu sebabnya kita ingin mengajak semua pihak bekerja sama untuk berkolaborasi menghentikannya," kata Tika.

Tiara dan Hannah saat ini juga mencoba jadi ruang aman untuk rekan-rekan aktor lain yang menghadapi masalah serupa mereka. "Setelah thread itu memang ada teman-teman yang approach aku, ada yang pelakunya sama, ada yang beda. Aku coba untuk ada buat mereka, dan membicarakan ke depannya ini bisa gimana," kata Tiara.

Hannah juga bersikap serupa. "Kepada siapa pun pekerja industri ini yang pernah mengalami pelecehan di lokasi, you are not alone. We are here for you, if you want to reach out, we will listen," ungkap Hannah di Twitternya.


Baca juga artikel terkait KEKERASAN SEKSUAL atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Aulia Adam & Fadiyah Alaidrus
Penulis: Aulia Adam
Editor: Restu Diantina Putri
DarkLight