tirto.id - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Nasional dan Tribute untuk Mohammad Diponegoro pada Rabu, 14 Mei 2025. Forum di Aula Student Center UIN Jakarta ini menjadi pembuka rangkaian acara Pestarama #10, ajang yang menandai satu dekade Pekan Apresiasi Sastra dan Drama (Pestarama).
Seminar bertajuk "Peran Lembaga Kebudayaan Islam dalam Membentuk Sastra dan Drama Bernapas Islam di Indonesia #2" tersebut menghadirkan narasumber lintas-bidang seperti Dr. Kusen (Kiai Cepu), Bambang Prihadi, Mahwi Air Tawar, dan Rahmat Hidayatullah. Dibuka dengan pementasan Tari Lenggang Batavia, seminar ini menyajikan diskusi kebudayaan, terutama soal perkembangan sastra bernuansa Islam di tanah air.
Mohammad Diponegoro merupakan sastrawan asal Yogyakarta yang populer sebagai penulis novel, cerita pendek, lakon drama, serta roman. Pria kelahiran 28 Juni 1928 itu memelopori puitisasi terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Indonesia. Selain aktif menulis karya sastra, ia pun mendirikan Teater Muslim di Yogya dan menjadi ketuanya pada periode 1961-1965.
Menurut sastrawan Mahwi Air Tawar, Mohammad Diponegoro tidak hanya memiliki sensitivitas tinggi terhadap bahasa dan estetika. Dia sekaligus punya perhatian pada perkembangan sastra dan seni bernapaskan Islam. Menurut Mahwi, langkah Diponegoro mengembangkan Teater Muslim lahir dari keresahannya atas dominasi estetika teater kontemporer.
"Muhammad Diponegoro tidak hanya mengajari anak-anak menulis, tetapi juga mendorong lahirnya teater sekolah di Muhammadiyah," ujar Mahwi.
Selain tentang kiprah Mohammad Diponegoro, diskusi dalam seminar ini membahas lebih banyak tentang sastra Islam. Dosen filsafat UIN Jakarta, Dr. Kusen (Kyai Cepu), mengungkapkan sastra Islam perlu dipahami secara luas, tidak terbatas pada tema religius atau simbol keagamaan. Pandangan yang sempit, kata dia, membuat "Sastra Islam menjadi seakan-akan bercerita agama."
Pendapat serupa diungkapkan oleh Rahmat Hidayatullah, dosen sekaligus seniman dengan latar pendidikan S3 Sosiologi Agama dari UIN Jakarta. Menurut Rahmat, istilah sastra bernapas Islam tidak bisa dipahami secara sempit sebagai karya yang hanya menampilkan simbol atau teks suci.
Rahmat menambahkan, sebelum Islam hadir, sastra telah eksis sebagai medium ekspresi budaya. Ketika Islam datang, sastra berkembang menjadi sarana dakwah, dan kemudian media estetik spiritual.
Dia berpendapat, Islam hadir dalam karya sastra sebagai sumber nilai, bukan atribut formal semata. Maka itu, sastra Islam harus dipahami dari nilai-nilai etika, spiritualitas, dan pandangan hidup yang diusung dalam karya.
Sementara itu, Bambang Prihadi, pendiri Lembaga Teater Kampus dan inisiator Pestarama di PBSI UIN Jakarta, menyoroti bahwa lembaga pendidikan Islam seperti pesantren dan UIN punya potensi besar mengembangkan kesadaran estetik dan spiritual. Namun, menurut dia, dukungan institusional dari lembaga keislaman terhadap kesenian masih belum optimal.
Masih di forum yang sama, Wakil Rektor 3 UIN Jakarta, Prof. Ali Munhanif, M.A., Ph.D., mengapresiasi penyelenggaraan Pestarama #10 yang menghadirkan seminar dengan pembahasan terkait sosok penting yang jarang tersorot seperti Mohammad Diponegoro.
"Apresiasi yang tinggi untuk menghidupkan kembali tentang pentingnya membicarakan warisan-warisan budaya," kata dia.
Pestarama #10 menghadirkan pula lokakarya, panggung ekspresi, pementasan teater, hingga pameran seni. Acara tahunan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sastra, seni, dan kebudayaan di lingkungan akademik dan masyarakat luas.
Masuk tirto.id

































