Periksa Data

Paylater Bikin Orang Makin Impulsif Berbelanja

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto, tirto.id - 26 Okt 2022 15:00 WIB
Dibaca Normal 6 menit
Opsi paylater terbukti berkontribusi terhadap kenaikan jumlah transaksi responden per bulan dan meningkatkan ketertarikan untuk membeli barang mahal.
tirto.id - Adanya fitur beli sekarang bayar belakangan (buy now pay later) atau yang lebih umum dikenal sebagai paylater mendorong orang untuk melakukan pembelian barang yang bersifat impulsif. Hal tersebut menjadi salah salah temuan dari riset mandiri yang dilakukan Tirto bersama dengan Jakpat.

Tren belanja online di Indonesia meningkat signifikan dalam beberapa tahun belakangan. Data NielsenIQ yang dikutip CNN menunjukkan kalau konsumen belanja daring (online) di Indonesia mencapai 32 juta orang pada tahun 2021. Angka ini tumbuh drastis, sebesar 88 persen, dibanding tahun 2020 ketika jumlah orang yang berbelanja di platform e-commerce hanya sekitar 17 juta.

Peningkatan ini juga yang membuka jalan bagi model pembayaran digital berbasis kredit seperti paylater untuk masuk. Integrasi sistem pembayaran bak kartu kredit ini dengan platform e-commerce manawarkan kemudahan transaksi yang kian mulus bagi pengguna.

Paylater mengisi kekosongan metode menunda atau mencicil pembayaran yang kurang berhasil dilakukan kartu kredit di Indonesia. Menurut data Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), jumlah jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia per 2021 ada 16,51 juta, yang kalau dibandingkan jumlah penduduk Indonesia di pertengahan tahun 2021 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), berarti penetrasinya hanya sekitar 6 persen.

Bandingkan dengan paylater yang terhitung muda, tapi telah menjadi produk fintech yang paling banyak digunakan nomor 2 di Indonesia. Survei Kredivo bersama Katadata insight Center (KIC) pada tahun 2022 menemukan kalau persentase penggunaan paylater mencapai 38 persen.

Tren kepopularan paylater juga tercatat di situs pencarian Google. Laporan Think with Google mencatat kata kunci 'paylater' sebagai kata kunci dengan peningkatan pencarian paling tinggi antara tahun 2021 hingga 2022 pada periode Januari-Maret.

Berangkat dari maraknya penggunaan paylater sebagai opsi pembayaran kiwari, Tim Riset Tirto tergerak untuk mempelajari lebih dalam terkait pola penggunaan masyarakat terhadap fitur ini.

Lewat kolaborasi dengan Jakpat, penyedia layanan survei dari dangan lebih dari 1,1 juta responden di Indonesia, Tirto merancang riset bersama untuk memetakan tren penggunaan paylater di masyarakat.

Metodologi
Survei dilangsungkan pada 18 Oktober 2022 dengan melibatkan 1.506 orang responden.
Wilayah riset: Indonesia (tersebar di 33 provinsi)
Instrumen penelitian: Kuesioner online dengan Jakpat sebagai penyedia platform
Jenis sampel: Non probability sampling
Margin of error: Di bawah 3 persen

Profil responden
Penelitian ini melibatkan total 1.506 responden. Sebaran respondennya masih dominan di Pulau Jawa, dengan proporsi responden sebanyak 77 persen. Sementara untuk jenis kelamin jumlahnya masih cukup berimbang anatara laki-laki dan perempuan, meskipun jumlah responden perempuan lebih banyak, sebesar 56,58 persen.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 20
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Mayoritas responden survei berprofesi sebagai pegawai swasta, disusul oleh pelajar/mahasiswa, dan wiraswasta, serta profesi lainnya.

Sementara itu, dari sisi pemasukan bulanan, kebanyakan responden memiliki pemasukan antara Rp 2 juta hingga Rp 5 juta, meskipun ada 21 persen responden juga yang memiliki pemasukan antara Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

Dari keseluruhan responden, hampir setengah responden, sebesar 45,61 persen, juga belum menikah. Sementara itu, jumlah responden terbanyak selanjutnya sudah menikah dengan 1 hingga 2 anak, proporsinya 35,97 persen.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 21
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Dari keseluruhan responden, mayoritas sudah memanfaatkan layanan perbankan, hanya sekitar 10 persen yang tidak punya akun bank. Namun, kebanyakan responden tidak menggunakan layanan kartu kredit. Pemilik kartu kredit juga lebih besar proporsinya di generasi yang lebih tua.

Pengguna layanan paylater juga cukup besar. Lebih dari 60 persen responden setidaknya pernah memakai layanan ini, baik secara reguler maupun tidak reguler.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 22
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Paylater Memacu Belanja Impulsif
Tirto kemudian fokus dengan responden yang setidaknya pernah menggunakan layanan paylater, baik secara reguler maupun tidak. Totalnya terdapat 971 responden.

Pertama-tama, kami menggali alasan penggunaan layanan paylater. Tiga jawaban paling populer adalah membeli kebutuhan ketika tidak punya cukup uang saat itu, banyaknya promo menarik, dan proses aktivasi yang kian mudah.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 4
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Temuan riset Tirto dengan Jakpat ini hampir senada dengan temuan survei yang dilakukan Kredivo dengan KIC. Survei tersebut juga menemukan bahwa lebih dari setengah responden survei, sekitar 58 persen, menggunakan paylater dengan alasan untuk memenuhi kebutuhan mendesak, diikuti alasan adanya fitur cicilan (52 persen), dan banyaknya promo (45 persen).

Sementara itu, terkait platform penggunaan paylater, meskipun layanan ini juga tersedia di toko offline, tapi kebanyakan pengguna masih memakainya pada platform e-commerce. Lebih dari 94 persen responden mengatakan menggunakan paylater untuk belanja daring.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 5
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Kebanyakan dari responden juga mengaku cukup lama menggunakan layanan ini. Sekitar 35 persen responden telah menggunakan paylater lebih dari 1 tahun, diikuti dengan mereka yang memakai antara 7 bulan - 1 tahun, dan 4-6 bulan. Hanya sekitar 8 persen responden yang termasuk kategori pengguna baru, menggunakan tidak sampai 1 bulan. Sementara sisanya, 13,9 persen responden menggunakan selama 1-3 bulan.

Selanjutnya soal alokasi dana. Kebanyakan pengguna paylater mengalokasikan antara Rp 100 ribu-Rp 500 ribu per bulan untuk pemanfaatan layanan ini. Kelompok terbesar berikutnya adalah mereka yang mengalokasikan di atas Rp 500 ribu namun di bawah Rp 1 juta. Di bagian ini, seiring kenaikan jumlah alokasi dana untuk paylater, semakin kecil proporsi jumlah responden yang memilihnya.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 6
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Memasuki pertanyaan seputar belanja impulsif, temuannya mulai menarik. Hampir 60 persen responden mengaku kalau metode pembayaran paylater membuat mereka lebih tertarik untuk melakukan transaksi pembelian barang.

Kondisi ini dipertegas dengan jawaban mayoritas, yang bahkan mencapai 77 persen responden, kalau opsi pembayaran paylater membuat mereka terdorong membeli barang yang dinilai mahal atau tidak bisa dibeli saat itu juga dengan uang tunai.

Lebih dari setengah responden juga mengaku kalau ada kenaikan jumlah transaksi pembelian barang per bulan setelah menggunakan fitur paylater.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 7
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Tren belanja impulsif akibat fitur paylater ini selaras dengan hasil studi dari Luqman Dzul Hilmi dan Yeyen Pratika (2021). Dalam jurnal internasional yang dipublikasikan International Journal of Economics, Business and Accounting Research (IJEBAR) tersebut, diasumsikan kalau paylater akan mendorong pembelian impulsif karena karakteristiknya yang sama seperti kartu kredit.

Salah satu simpulan dari studi yang melibatkan 158 responden tersebut, mengatakan kalau paylater secara langsung berpengaruh terhadap pembelian impulsif. Disebutkan juga kalau motivasi pembelian impulsif adalah aspek hedonis, bukan utilitarian. Ini berarti keputusan membeli barang yang tidak direncanakan cenderung muncul karena emosional konsumen terhadap penawaran yang menarik dan cenderung mengesampingkan pertimbangan nilai manfaat.

Lebih lanjut, kami menanyakan kategori barang yang dibeli dengan memanfaatkan fitur paylater. Hasilnya mayoritas responden menggunakan paylater untuk membeli barang elektronik, gadget, dan aksesorisnya. Pada laki-laki dominasi kategori ini mencapai 66 persen. Menariknya, ada dua kategori dominan bagi perempuan untuk berbelanja dengan paylater. Selain untuk alat elektronik, alat kecantikan dan perawatan juga cukup banyak dibeli.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 19
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Kategori seperti pulsa/kuota internet, tagihan (gas, air, listrik, BPJS, dll), dan peralatan rumah tangga mengekor bersama dengan kategori fesyen dan aksesoris.


Gagal Bayar
Dari segala manfaat yang bisa didapat dari layanan paylater, tentu ada juga sisi risiko dari penggunaannya. Fenomena gagal bayar alias 'galbay' yang sedikit banyak serupa dengan mereka yang terlilit hutang pinjaman online (pinjol), juga ditemukan dari paylater.

Pada kebanyakan kasus kejadian ini berakhir dengan pembayaran denda. Namun, tidak jarang juga mereka yang lantas kesulitan membayar tunggakan paylater, 'menggali lubang' baru ke pinjaman dana lainnya yang kemudian terus berputar seperti lingkaran setan.

Hal ini juga dialami setidaknya sekitar 22 persen dari responden survei yang mengaku pernah gagal membayar tunggakan paylater. Dari sekitar 214 responden yang pernah mengalami gagal bayar ini kebanyakan lantas memilih mengurangi penggunaan paylater.

Meski begitu, yang menarik, ketika terjadi gagal bayar di sebuah penyedia layanan paylater, 23,36 persen responden masih ngotot memakai paylater dari penyedia layanan lain.

 Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 9
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di masyarakat. tirto.id/Quita


Mereka yang Belum Terjamah Paylater
Seperti yang telah dijabarkan di profil responden, terdapat sekitar 30 persen responden yang tidak pernah memakai layanan paylater. Ketakutan akan gagal bayar menjadi salah satu alasan paling populer, disusul oleh ketakutan untuk menjadi boros.

Namun, alasan yang paling banyak disampaikan dari total 533 responden, sebesar 51,4 persen responden, adalah kenyamanan bertransaksi dengan metode pembayaran lain. Ini menunjukkan dengan segala kemudahan yang ditawarkannya masih ada orang-orang yang belum menemukan kelebihan dari paylater dibanding metode pembayaran lain yang sudah ada sebelumnya.

Sebesar 21,68 persen responden juga menyebut keyakinan agama sebagai salah satu alasan tidak menggunakan layanan paylater.

Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater 10
Infografik Riset Mandiri Penggunaan Paylater di Masyarakat. tirto.id/Quita


Temuan Kunci
Dari riset yang dilakukan Tirto dan Jakpat ini, terlihat bahwa pembayaran paylater kian populer digunakan masyarakat. Dari survei ini saja, terdapat sekitar 64 persen responden yang pernah memakai layanan paylater.

Penggunaan paylater kebanyakan untuk transaksi di e-commerce. Paylater banyak dipilih karena menjadi opsi yang mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan ketika tidak memiliki cukup uang. Selain itu banyaknya promo yang ditawarkan dari metode pembayaran ini juga mendorong untuk menggunakannya.

Meski mengaku dana dari paylater digunakan untuk memenuhi kebutuhan, tetapi melihat kategori barang yang banyak dibeli cenderung ke kebutuhan tersier seperti perangkat elektronik ataupun kecantikan.

Paylater juga memacu orang untuk menjadi lebih banyak berbelanja. Hal ini terlihat dari kenaikan jumlah transaksi per bulan dari pengguna paylater dan kenaikan ketertarikan untuk membeli barang dengan adanya opsi ini. Kecenderungan orang untuk membeli barang yang dipresepsikan mahal juga terjadi karena adanya paylater.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Alfons Yoshio Hartanto
(tirto.id - Bisnis)

Penulis: Alfons Yoshio Hartanto
Editor: Farida Susanty

DarkLight